Kewirausahaan Pascabencana, Kenapa Tidak?

   •    Kamis, 03 Jan 2019 10:22 WIB
analisa ekonomi
Kewirausahaan Pascabencana, Kenapa Tidak?
Para petani beramai-ramai menjual salak meski dihargai murah untuk memenuhi kebutuhan hidup pascabencana. (Ilustrasi Foto: MI/Alexander)

MUNGKIN di antara kita ada yang beranggapan suatu hal yang naif memikirkan kewirausahaan atau bisnis pascaterjadinya suatu bencana.

Mungkin hal yang dianggap kurang patut bila kita mempertanyakan secara kritis suatu fenomena di tengah suasana duka yang masih mengharu biru. Penanganan berbagai trauma pascabencana biasanya lebih menjadi suatu prioritas yang memang mendesak untuk dilaksanakan, di samping tentu saja pemulihan kondisi pada umumnya, baik infrastruktur maupun roda perekonomian masyarakat setelah tertimpa bencana.

Ada baiknya bila kita coba menengok kembali sembari mencermati secara kritis (tentu saja kita patut saling mengulurkan tangan membantu saudara-saudara kita) atas bencana gempa bumi yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Palu-Sigi-Donggala Sulawesi Tengah (Sulteng) nyaris secara beruntun. Kemudian, yang paling anyar ialah tsunami di Banten dan Lampung Selatan pada akhir 2018. Lepas dari suratan jalan kehidupan dari Yang Mahakuasa, beberapa berita berlandaskan fakta seputar bencana tersebut menarik untuk disimak.

Pertama, terungkapnya penyelewengan dana bantuan untuk bencana Lombok yang dilakukan salah satu anggota partai politik. Kedua, terjadinya kasus penjarahan toko tak berapa lama setelah terjadinya bencana di Palu, Sulteng, yang kemudian dinyatakan absah oleh Kemendagri karena terjadi dalam konteks darurat bencana. Ketiga, maraknya diskursus bernuansa politis terkait dengan status bencana di kedua wilayah tersebut yang menimbulkan polemik, sedangkan proses evakuasi dan pemulihan kondisi terus berlangsung.




Sebuah Kajian Ilmiah

Judul tulisan ini terinspirasi sebuah artikel ilmiah di salah satu jurnal internasional buah karya Michi Fukusima, seorang peneliti dari Tohoku University, Sendai, Jepang, di 2017. Dengan judul Entrepreneurships after A Disaster, Michi Fukusima melakukan suatu kajian berdasarkan survei yang dilaksanakan bersama sebuah organisasi Tohmatsu Venture Support Co Ltd sepanjang 20 Januari 2013 hingga 21 Maret 2014. Mereka merujuk pada gempa bumi dahsyat disertai tsunami di kawasan timur Jepang pada 11 Maret 2011 yang menewaskan lebih dari 17 ribu jiwa.

Survei dan kajian tersebut dimaksudkan untuk menelusuri dan menemukan jawab atas pertanyaan sebagai berikut; pertama, apa saja dampak bencana atas orang-orang yang terkena dampaknya, khususnya dalam hal motivasi mereka untuk bangkit dan berusaha pascabencana. Kedua, mengapa orang memutuskan memulai usaha pascabencana dan mengapa yang lain tidak?

Ketiga, bagaimana perbedaan antara memulai usaha pascaterjadinya suatu bencana dan memulai usaha sebelum terjadinya bencana? Temuan dari hasil survei yang dijalankan amatlah menarik sebagai bahan komparasi dan refleksi kita bersama guna mengantisipasi terjadinya bencana di masa datang.

Survei dilaksanakan di sekitar distrik Tohoku yang terimbas secara masif oleh bencana gempa dan tsunami di 2011 itu, dengan melibatkan sekitar 283 responden yang merupakan penduduk setempat. Ditemukan fakta bahwa pascaterjadinya bencana tersebut, peluang dan semangat berwirausaha ternyata meningkat, bahkan melebihi level sebelum terjadinya bencana yang menerpa kawasan tersebut.

Menariknya, semangat berusaha itu ternyata lebih banyak dipicu niatan bersifat altruistik ketimbang hanya mencari keuntungan ekonomis semata. Hasil survei juga menemukan bahwa bidang usaha yang paling banyak dibuka ialah konstruksi dan manufaktur. Hasil survei tersebut kemudian didalami dengan suatu wawancara semiterstruktur yang dilakukan Michi Fukusima terhadap sebagian responden peserta survei.

Terungkaplah kemudian bahwa para penyintas (survivors) bencana tersebut sungguh tersentuh nilai-nilai hidupnya (values of life) setelah terjadinya bencana. Mereka merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup dan bertahan sekaligus merasa berduka serta bersalah atas nasib sanak saudara dan sesama yang harus meregang nyawa.

Baca: Memulihkan Ekonomi Pascabencana

Situasi itulah yang mendorong dan menginspirasi mereka untuk segera bangkit, membuka usaha untuk menggerakkan kembali roda kehidupan di sekitar tempat mereka, serta membuka sebanyak mungkin kesempatan berusaha bagi yang lain. Menurut mereka, dengan membuka usaha, berarti pula turut berperan mengatasi masalah-masalah sosial yang mungkin timbul setelah terjadinya bencana.

Ternyata hasil kajian tersebut juga senada dengan berbagai penelitian yang telah dijalankan di berbagai belahan dunia. Seperti yang ditemukan Emily-Chamlee-Wright (2009), mengungkap banyak usaha-usaha baru yang bermunculan pascaterjadinya badai Katrina yang melanda New Orleans di 2005, dilandasi dengan semangat altruisme yang senapas.

Demikian pula yang ditemukan dan diungkap Dean Shepherd dan Trenton Williams (2014) atas tragedi black Saturday bushfire disaster yang terjadi di negara bagian Victoria, Australia, berupa kebakaran hebat. Hasil-hasil penelitian lain, seperti yang dipublikasikan Sawada dan kawan-kawan, 2011 dan Dutton dan kawan-kawan, 2006, juga mendasarkan hasil senada bahwa situasi pascabencana telah meletupkan semangat berwirausaha di kalangan para korban yang bertahan guna mengatasi masalah-masalah sosial yang timbul sekaligus menciptakan lapangan kerja seluas mungkin dan menggerakkan roda perekonomian kembali.

Pikirkan Bersama

Kemungkinan besar, dalam konteks Indonesia, belum ada suatu kajian ilmiah tentang semangat kewirausahaan pascaterjadinya suatu bencana. Meluapnya semangat kebersamaan, senasib dan sepenanggungan, serta gotong-royong di antara bangsa Indonesia amatlah dapat diandalkan untuk membantu meringankan beban para korban bencana. Hal ini bahkan telah lama diakui dan diapresiasi masyarakat dunia. Kendati demikian, ada baiknya di masa mendatang kita bersama juga memikirkan secara saksama bagaimana selekas mungkin memulihkan dan menggerakkan roda perekonomian secara berkelanjutan, tanpa harus melulu tergantung pada pemerintah. Suatu penelitian komprehensif dalam konteks Indonesia kiranya menarik dilaksanakan.

Selain bantuan materi (tanpa dinodai oleh penyalahgunaan, tentu), adanya pelatihan dan pendampingan kewirausahaan pascabencana menjadi agenda yang patut diketengahkan. Keterlibatan elemen masyarakat, pemerintah setempat, dunia pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan lainnya dapat dijadikan garda depan dalam memacu wirausaha baru dalam semangat altruistik nan inklusif bagi kebangkitan bersama. Tentu, bukan perkara mudah, tetapi bukan hal mustahil bila kita bergandeng tangan mengupayakannya.

tiser

Ditemukan fakta bahwa pascaterjadinya bencana tersebut, peluang dan semangat berwirausaha ternyata meningkat, bahkan melebihi level sebelum terjadinya bencana yang menerpa kawasan tersebut. (Opini/Media Indonesia)

Teguh Santoso
Dosen Universitas Katolik Widya Karya Malang
Kandidat PhD di National Dong Hwa University, Taiwan


 


(AHL)


Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss
World Economic Forum 2019

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss

2 hours Ago

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi i…

BERITA LAINNYA