Ayo Kerja

Suryopratomo    •    Rabu, 14 Jun 2017 10:01 WIB
analisa ekonomi
Ayo Kerja
Ilustrasi. (FOTO: MI/RAMDANI)

TEPATLAH jika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap semua pihak berkonsentrasi kepada urusan ekonomi pada semester II-2017 ini. Perekonomian Indonesia berada di posisi tinggal landas setelah pada 2016 lalu mencapai titik terendah dari perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Ibaratnya kita sudah 'rock to the bottom'. Pilihannya tinggal bergerak naik. Pertanyaannya, apakah kita akan tinggal landas bak pesawat tempur yang langsung bisa naik seperti huruf V atau seperti pesawat kargo yang membutuhkan ancang-ancang sehingga membentuk huruf U.

Indikator dari perlambatan pertumbuhan yang sudah mencapai dasar, menurut Sri Mulyani, terlihat dari angka ekspor yang sudah memberikan kontribusi kepada pertumbuhan pada kuartal I yang mencapai 5,01 persen. Untuk pertama kali sejak tiga tahun terakhir pertumbuhan didorong konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, dan ekspor. Salah satu yang dimintakan Menkeu agar konsentrasi kepada ekonomi ialah Presiden. Sudah saatnya Presiden berjalan lagi ke daerah-daerah untuk bertemu dengan para pengusaha agar semua mau mendorong investasi.

Sudah cukup kita berbicara urusan politik. Persoalan pemilihan kepala daerah sudah terlalu banyak menyita energi kita semua. Polarisasi yang terjadi membuat ikatan persaudaraan di antara kita justru merenggang. Padahal kita membutuhkan soliditas untuk menghadapi persaingan di depan. Kita sudah bersepakat, tujuan utama kita merdeka dan mendirikan Republik Indonesia ialah untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang bisa membuat rakyat sejahtera jelas bukan politik. Hanya dengan kerja kita bisa memperbaiki kehidupan rakyat dan menghapus kemiskinan.

Edukasi tentang esensi kerja tidak boleh henti-hentinya kita lakukan. Sebab kerja bukan sekadar berkeringat, melainkan juga harus bisa memberikan nilai tambah, baik untuk diri kita, keluarga kita, komunitas kita, masyarakat kita, maupun negara kita. Dalam bekerja kita tidak boleh hanya memikirkan kepentingan kita sendiri. Manfaat dari apa yang kita kerjakan harus dirasakan orang-orang di sekitar kita. Kalau saja kita bisa saling melengkapi, kita akan mampu membuat perekonomian bergerak lebih cepat. Sayang masih banyak di antara kita yang lebih mementingkan diri sendiri. Pada semua tingkatan, mulai yang paling bawah sampai paling atas, suka selfi sih.

Maraknya praktik korupsi yang dilakukan para pejabat baik di pusat maupun di daerah merupakan indikator banyak di antara kita hanya memikirkan nasibnya sendiri. Mereka tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatan mereka; jutaan orang gagal dientaskan dari kemiskinan. Sikap yang mementingkan diri sendiri juga bisa dilakukan masyarakat biasa. Lihat misalnya aksi mogok yang dilakukan pengemudi bus Trans-Jakarta. Mereka tiba-tiba memutuskan untuk mogok karena menuntut perbaikan kesejahteraan. Kita menghargai keinginan untuk menuntut hak. Akan tetapi, jangan sampai keinginan untuk menuntut hak dilakukan dengan merebut hak orang lain.

Di banyak negara lain sering juga terjadi aksi mogok kerja pegawai angkutan massal. Namun, mogok yang mereka lakukan dilakukan dengan cara beradab. Mereka mengumumkan terlebih dahulu kapan pemogokan akan dilakukan dan untuk waktu berapa lama. Mengapa? Karena mereka merasa memiliki tanggung jawab kepada pengguna angkutan massal. Dengan adanya pengumuman kapan mogok akan dilakukan, masyarakat umum bisa melakukan antisipasi untuk bepergian dengan angkutan umum.

Dengan cara yang dilakukan seperti kemarin, yang dikorbankan terlalu besar. Bukan hanya masyarakat menjadi kesulitan untuk bepergian, melainkan juga secara ekonomi kerugiannya luar biasa besar. Dengan orang terlambat tiba di kantor atau kesulitan pulang ke rumah, pertambahan nilai yang harus hilang sangat besar. Sekarang ini kita membutuhkan kesadaran semua warga untuk bersama-sama membangun negeri ini. Kalau bukan kita yang peduli kepada nasib negara ini, lalu kepada siapa kita harus berharap. Kita tidak pernah akan menjadi bangsa besar dan akan mampu mencapai masyarakat adil dan makmur kalau kita hanya memikirkan diri masing-masing. Seperti dikatakan Sri Mulyani, negeri ini mempunyai potensi besar untuk bangkit.

Produk domestik bruto Indonesia sudah meningkat menjadi Rp13.000 triliun. Sayangnya pertumbuhan pajak yang bisa dikumpulkan dalam empat tahun terakhir justru makin menurun dari 12 persen hingga tahun lalu menjadi hanya 3,5 persen. Kepatuhan untuk membayar pajak merupakan kewajiban dari seluruh warga bangsa. Ini juga bagian dari kesalehan sosial dan sikap gotong royong. Hanya dengan itulah kita akan bisa memeratakan hasil pembangunan ke seluruh rakyat. (Media Indonesia)


(AHL)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

3 days Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA