Hari Pangan Sedunia dan Sawit Indonesia

   •    Sabtu, 15 Oct 2016 15:01 WIB
analisa ekonomi
Hari Pangan Sedunia dan Sawit Indonesia
Direktur Utama BPDP Bayu Krisnamurthi. (FOTO: ANTARA/Widodo S. Jusuf)

BESOK merupakan Hari Pangan Sedunia yang tahun ini mengangkat tema Iklim berubah, pangan dan pertanian juga harus berubah.

Tema itu didasarkan pada fakta bahwa iklim global bukan lagi 'akan' berubah, melainkan memang 'telah' berubah dan 'masih terus' berubah dengan insiden iklim ekstrem yang lebih sering dan lebih parah.

Pada kondisi ini, salah satu masalah terbesar terkait dengan iklim yang telah berubah itu ialah pangan.

Di samping itu, kelompok masyarakat miskin--sebagian besar juga petani dan nelayan--ialah mereka yang paling terkena dampak iklim yang semakin panas dan menjadi korban dengan semakin seringnya bencana terkait dengan iklim (banjir, longsor karena hujan deras, atau kekeringan).

Di sisi lain, jumlah penduduk bumi terus bertambah dan akan mencapai 9,6 miliar pada 2050. Manusia terus membutuhkan dan meningkatkan permintaan pangan dan produk-produk pertanian lain.

Dalam menghadapi situasi itu, sistem pangan dan pertanian harus melakukan adaptasi terhadap iklim yang telah berubah sekaligus harus berkontribusi untuk tidak membuat kondisi iklim menjadi lebih buruk.

Perubahan itu harus mengarahkan sistem produksi dan distribusi pangan pertanian menjadi sistem yang lebih tahan ketidakpastian iklim, lebih produktif, dan lebih berkelanjutan.

Artinya pertanian harus dapat memproduksi pangan lebih banyak dengan lebih sedikit lahan dan air, serta harus dapat mengurangi kehilangan dan limbah biomassa di seluruh sistem mulai usaha tani, panen, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, sistem pasar, hingga dalam kerangka kelembagaan dan legal yang sesuai.

Hanya dengan cara bertani seperti itu, keberadaan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat serta pengurangan emisi yang berkesinambungan dapat dijaga.

Peran sawit

Terdapat tiga peran sawit bagi ketahanan pangan Indonesia. Pertama, minyak goreng sawit sebagai pangan pokok.

Jumlah volume konsumsi minyak goreng memang tidak sebanyak beras, tetapi minyak goreng sudah termasuk bahan pangan yang 'harus ada', mirip seperti halnya garam atau gula.

Tentu dikecualikan bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi bahan-bahan itu karena alasan kesehatan atau gaya hidup. Namun, bagi masyarakat pada umumnya, minyak goreng masuk kebutuhan pokok.

Indikator lain ialah pengaruh minyak goreng terhadap inflasi. Pada 1997 inflasi Indonesia pernah sangat dipengaruhi harga minyak goreng.

Saat ini harga minyak goreng cukup terkendali dan itu memang diharapkan. Memang usaha pengendalian itu dilakukan karena minyak goreng bagian dari barang kebutuhan pokok.

Apabila fortifikasi wajib vitamin A pada minyak goreng pada saatnya diberlakukan, minyak goreng sawit memiliki peran strategis lain sebagai bagian dari usaha membangun ketahanan pangan dan gizi.

Tujuannya untuk mengatasi kekurangan gizi mikro yang dapat berdampak buruk bagi banyak orang, terutama pada anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah.

Kedua, usaha sawit sebagai sumber pendapatan dan jalan keluar kemiskinan. Ketidaktahanan pangan banyak terkait dengan kemiskinan dan pendapatan yang rendah.

Apabila kemiskinan suatu keluarga teratasi, ketahanan pangan keluarga itu cenderung meningkat dan masalah gizi lebih mudah diatasi.

Usaha sawit terbukti memberikan pendapatan 2 hingga 7 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan usaha tani lain di daerah yang sama.

Di banyak daerah, usaha sawit telah mengentaskan daerah itu dari kemiskinan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membawa kemajuan daerah.

Hal itu menjadi momentum penting peningkatan ketahanan pangan daerah yang bersangkutan.

Ketiga, tidak dapat dimungkiri, Indonesia masih harus mengimpor sebagian bahan pangan yang memang belum mencukupi atau tidak diproduksi di dalam negeri.

Sebagai produk andalan ekspor Indonesia, sawit telah berkontribusi pada penyediaan devisa untuk menyeimbangkan pembayaran impor itu.

Bahkan dengan memperhitungkan ekspor sawit, neraca perdagangan pangan dan pertanian Indonesia masih surplus.

Artinya devisa yang diperoleh dari ekspor sawit dan produk pangan pertanian lainnya masih lebih besar daripada devisa yang harus dikeluarkan untuk mengimpor berbagai produk pangan pertanian yang kita butuhkan.

Hal itu menjadi indikator lain ketahanan pangan dan kontribusi sawit di dalamnya.

Sawit harus berubah

Meskipun sawit memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan, peringatan Hari Pangan Sedunia 2016 dengan tema yang menarik itu harus tetap menjadi momen bagi sawit Indonesia untuk melakukan perubahan.

Sawit Indonesia harus benar-benar menjadi sawit yang berkelanjutan. Praktik-praktik yang tidak benar seperti pembakaran untuk pembersihan lahan tidak boleh dilakukan.

Pengusahaan di lahan gambut dalam dan kawasan berkadar konservasi tinggi dihindari. Kerusakan yang sudah terjadi direhabilitasi.

Kerja sama berbagai pihak seperti pengusaha, petani, dan masyarakat setempat, dibangun dengan adil dan saling menguntungkan.

Aplikasi teknologi yang mendukung kelestarian ditingkatkan. Tata kelola lahan kebun dirapikan dan diperkuat aspek legalnya. Peremajaan dilakukan dengan sistematis dan konsisten.

Petani difasilitasi agar dapat menikmati pendapatan tidak hanya dari tandan buah segar, tetapi juga dari produk-produk baru seperti pakan ternak dari pelepah dan produk lainnya.

Pendeknya, pengelolaan sawit harus dilakukan sedemikian rupa agar semakin dapat ditegaskan bahwa sawit bukan penyebab utama kondisi iklim yang memburuk, dan tetap memberi kontribusi positif bagi ketahanan pangan.

Lagi pula, memang tidak banyak tanaman berbentuk pohon berbuah yang memiliki tajuk dedaunan besar dengan luasan jutaan hektare yang selama 30 tahun terus-menerus menyerap karbon dari udara dan memberi pendapatan relatif tinggi bagi petani, selain sawit.

Tinggal kita perbaiki sisi kurang baiknya, dan kita optimalkan kontribusi positifnya menjadi sawit Indonesia yang lebih berkelanjutan. (Media Indonesia)

Bayu Krisnamurthi
Dosen Agrobisnis IPB Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan



(AHL)