Perang Dagang

   •    Rabu, 14 Mar 2018 19:09 WIB
analisa ekonomiPerang dagang
Perang Dagang
Suryopratomo. (FOTO: MI/Permana)

PROFESOR Dorodjatun Kuntjoro-Jakti sejak tahun lalu memperingatkan kita tentang arus balik dari globalisasi. Kita melihat sekarang bagaimana semua negara cenderung melihat ke dalam. Mereka mengamankan pasar mereka masing-masing dan tidak peduli dengan akibat dari kebijakan proteksionistis yang mereka terapkan.

Tidak tanggung-tanggung yang melakukan langkah itu ialah Amerika Serikat. Padahal, selama ini 'Negeri Paman Sam' itu selalu mendengungkan pasar bebas. Namun, kini mereka justru mengenai tarif impor baja dan aluminium dari Tiongkok secara sepihak.

Kecaman terhadap langkah Presiden Donald Trump memang sangat keras. Bahkan sudah muncul pernyataan untuk melakukan pembalasan terhadap kebijakan AS tersebut. Dunia mengkhawatirkan terjadinya perang dagang akibat langkah mementingkan diri sendiri yang dilakukan Washington.

Kita juga merasakan kebijakan tidak adil yang dilakukan Presiden Trump. Demi menyelamatkan para petani di negaranya, pemerintah AS menerapkan bea masuk tambahan terhadap produk biodiesel yang membuat produk kita tidak feasible lagi untuk masuk pasar Amerika.

Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah menyuarakan untuk membalas langkah proteksionistis AS tersebut. Jusuf Kalla meminta Menteri Perdagangan untuk menghentikan impor kedelai dari negeri itu. Selama ini nilai impor kedelai AS ke Indonesia lebih dari USD5 miliar atau Rp65 triliun.

Peraih Hadiah Nobel Bidang Ekonomi Jeffrey Sachs merupakan salah satu yang mengecam kebijakan Presiden Trump karena akan membawa malapetaka ekonomi. Langkah proteksionistis itu tidak hanya akan menimbulkan pembalasan, tetapi juga tidak membuat ekonomi AS akan bisa membaik dalam jangka panjang.

Menurut Sachs, defisit perdagangan yang dialami AS bukan semata-mata disebabkan praktik dumping yang dilakukan negara partner dagang. Penurunan daya saing produk Amerika disebabkan tidak efisiennya industri di 'Negeri Paman Sam'. Ketidakefisienan tersebut diakibatkan kurang teperhatikannya bidang riset dan perbaikan kualitas sumber daya manusia.

Untuk itu, daripada menerapkan kebijakan tarif impor, Sachs berpendapat, lebih baik AS memperbaiki kedua bidang tersebut. Dengan memberikan proteksi secara berlebihan, industri AS justru tidak menjadi lebih kompetitif. Rakyat AS pun dininabobokan produk yang lebih murah, tetapi kualitasnya tidak lebih baik.

Pertanyaannya, apa yang lalu kita harus lakukan dalam menghadapi arus deglobalisasi? Seperti dikatakan Sachs, kita harus mendorong kemampuan anak-anak Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan Presiden Ketiga BJ Habibie menambahkan catatan tentang perlunya penguatan iman dan takwa.

Setelah itu ialah pengembangan yang namanya riset. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan, melalui undang-undang investasi, pemerintah akan segera memberikan insentif pajak pada perusahaan yang melakukan riset. Tidak tanggung-tanggung besaran insentif pajak itu mencapai 300 persen dari biaya yang dikeluarkan.

Satu lagi yang bisa kita manfaatkan ialah pasar dalam negeri. Dari beberapa survei yang dilakukan tentang pertimbangan utama pengusaha menanamkan modalnya di Indonesia ialah pasar Indonesia yang besar. Bahkan selanjutnya uang dilihat sebagai kelebihan Indonesia ialah besarnya daya beli kelas menengah.

Mantan Wakil Presiden Boediono sejak lama mengingatkan perlunya kita memperkuat ekonomi dalam negeri. Pasar dalam negeri akan bisa menjadi bantalan yang diandalkan ketika kebijakan nasionalisme, populisme, dan proteksionisme marak diterapkan banyak negara seperti sekarang.

Agar kita bisa melakukan itu semua, yang diperlukan ialah kekompakan. Terutama di antara kementerian dan pemerintah daerah harus satu orientasinya, yaitu kepentingan nasional. Semua kebijakan harus mengerucut kepada tujuan penyelamatan ekonomi nasional.

Kita harus menjaga investasi yang sudah ada di dalam negeri. Jangan sampai kegiatan produksi terganggu hanya oleh urusan koordinasi seperti kasus garam yang mengancam industri makanan, minuman, kaca, lensa kontak, dan kimia. Seperti Tiongkok dan Jepang, utamakan semua produk itu diserap pasar dalam negeri, baru kelebihannya kita ekspor karena akan menjadi efisien.

Perang dagang yang sedang terjadi tidak bisa kita anggap main-main. Apalagi yang tengah bertarung sekarang ini ialah gajah melawan gajah. Jangan sampai kita menjadi pelanduk yang mati di tengah-tengah. Kita harus cerdas dalam membaca perkembangan ekonomi dunia.

Suryopratomo
Dewan Redaksi Media Group


 


(AHL)