Light Rail Transit

Suryopratomo    •    Rabu, 19 Apr 2017 14:34 WIB
analisa ekonomi
Light Rail Transit
Kendaraan melintas di dekat proyek pembangunan sistem transportasi kereta ringan LRT di kawasan TMII. (FOTO: MI/Bary Fathahilah)

PEKAN lalu saya berkesempatan melihat dari dekat pembangunan light rail transit (LRT) di kawasan Cibubur. Bagi masyarakat Cibubur dan sekitarnya yang setiap hari harus berjuang dengan kemacetan, transportasi massal itu merupakan alternatif untuk menghindar dari kemacetan di jalur Tol Jagorawi. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan pembangunan transportasi umum yang cepat, nyaman, dan aman merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan.

Kita tidak bisa membiarkan ketidakefisienan karena macet terus dibiarkan. Kerugian ekonomi akibat kemacetan setiap tahun sekitar Rp30 triliun. Memang, tantangan untuk membangun transportasi umum ialah pembiayaannya. Untuk membangun konstruksi LRT dari Cibubur sampai Jakarta saja dibutuhkan biaya sekitar Rp24 triliun. Belum untuk kebutuhan pengadaan kereta ringannya. Sekarang ini jalan yang ditempuh ialah meminta badan usaha milik negara untuk menalangi pembiayaan awal.

Sejak memulai pembangunan pada September 2015, PT Adhi Karya sudah menginvestasikan modal sekitar Rp3 triliun, dengan Rp1,7 triliun merupakan penyertaan modal negara. Dengan dana sebesar itu, proyek pembangunan baru bisa dibangun sekitar 15 persen. Untuk penyelesaiannya hingga 2019, masih dibutuhkan banyak modal. PT Adhi Karya tidak mungkin lagi menanggung sendiri. Karena itu, mulai dipikirkan untuk mendorong PT Kereta Api Indonesia ikut memiliki proyek dan mendanainya.

Dengan belajar dari pengalaman awal 2000 ketika pertama kali kita hendak membangun LRT, jangan sampai proyek ini terbengkalai. Kita tidak berharap hanya ada tiang-tiang setengah jadi seperti yang masih berdiri di sekitar Kuningan dan Senayan. Sayang jika modal yang terbatas itu menjadi sesuatu yang mubazir. Mimpi untuk memiliki transportasi massal yang modern memang penuh dengan tantangan. Bukan hanya permodalan yang harus dipecahkan, melainkan juga operasinya. Jalur LRT nanti berada 16 meter di atas permukaan tanah. Seorang yang ahli dalam pengoperasian kereta mengingatkan beberapa hal yang harus dikaji. Pertama, penanganan ketika arus listrik putus dan kereta tidak bisa beroperasi.

Bagaimana menurunkan penumpang yang jumlahnya bisa mencapai 1.000 orang? Kedua, ketika terjadi insiden seperti kereta mengalami kebakaran. Bagaimana cara melakukan evakuasi dan mengarahkan penumpang untuk menyelamatkan diri? Kalau beton di kanan dan kiri lintasan menjadi jalur evakuasi, sepanjang jalur harus dibangun dinding pengaman agar penumpang tidak terjatuh dari ketinggian. Ketiga, kawasan Cibubur merupakan daerah petir. Bagaimana lalu mendesain kereta agar bisa menangkal petir? Karena berada pada ketinggian dan berada di kawasan yang relatif terbuka, LRT akan mudah menjadi sasaran petir.

Keempat, bagaimana antisipasi apabila terjadi gempa? Bagaimana LRT yang sedang melaju bisa memperlambat kecepatan tanpa harus membuat penumpang terdorong karena kereta berhenti mendadak? Terakhir, bagaimana tata cara ketika 10 tahun ke depan lintasan kereta harus mengalami penggantian struktur? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menaikkan dan menurunkan beton dan memasang kembali lintasan relnya? The devil is in details.

Tantangan kita sekarang bagaimana merinci semua hal yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan pengoperasian LRT kelak. Hal ini tidak bisa dianggap enteng karena akan menentukan sukses atau tidaknya kita membangun transportasi massa yang cepat, aman, dan nyaman. Semua catatan ini bukan dimaksudkan untuk membuat kita kecil hati. Justru ini harus memacu kita untuk berpikir dan mencarikan jalan keluarnya. Semua ini hanya akan bisa dipecahkan kalau kita berpikiran terbuka dan memiliki orientasi untuk mencari jalan keluar terbaik.


(AHL)