Otak-atik Tarif Maskapai Nasional

Desi Angriani    •    Kamis, 17 Jan 2019 06:11 WIB
analisa ekonomi
Otak-atik Tarif Maskapai Nasional
Ilustrasi. (FOTO: MI/Usman Iskandar)

DUNIA penerbangan Tanah Air kembali menjadi sorotan publik. Belum lama ini masyarakat melakukan protes atas mahalnya tarif tiket penerbangan domestik. Hal ini dikarenakan harga tiket dalam negeri melambung tinggi disaat masa padat penumpang telah berakhir.

Berdasarkan harga tiket yang terpampang di aplikasi penyedia jasa penjualan tiket transportasi pekan lalu, tarif maskapai berbiaya murah atau low-cost carrier (LCC) mengalami kenaikan 80- sampai 100 persen untuk semua rute gemuk.

Contohnya, tarif rute Jakarta-Surabaya naik menjadi rata-rata Rp1 juta dari sebelumnya Rp499 ribu, rute Jakarta-Yogyakarta naik dari Rp353 ribu menjadi Rp706 ribu, rute Jakarta-Padang naik dari Rp589 ribu menjadi rata-rata Rp1,2  juta. Begitu pula dengan rute Jakarta-Medan, melonjak menjadi rata-rata Rp1,5 juta dari tarif sebelumnya Rp824 ribu. Rute Jakarta-Batam dan Jakarta-Pekanbaru juga naik rata-rata menjadi Rp1,1 juta, sedangkan rute Jakarta-Aceh mengalami kenaikan rata-rata di harga Rp1,3 juta.

Sementara itu, harga tiket pesawat full-service juga terpantau naik hingga 50 persen. Yakni, tarif Garuda rute Jakarta-Aceh naik dari Rp1,6 juta menjadi Rp3,2 juta. Sedangkan tarif Batik Air naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2,8 juta untuk rute yang sama. Tiket Garuda rute Jakarta-Bali juga mengalami kenaikan dari Rp1,9 juta menjadi Rp2,9 juta, serta Jakarta-Jayapura naik menjadi Rp4 juta dari harga sebelumnya Rp3 juta.

Wajar bila masyarakat terpekik, apalagi selama ini para pemain LCC kerap banting harga sehingga publik terbiasa manja dengan tarif murah. Padahal, sejatinya harga tiket murah itu berasal dari potongan harga yang diberikan oleh maskapai. Kini, saat diskon harga dicabut masyarakat berteriak tanpa peduli dengan kondisi maskapai dalam negeri.

Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Ari Askhara mengungkapkan kondisi maskapai nasional sedang berdarah-darah akibat beban biaya operasional yang terus meningkat. Pasalnya, komponen biaya operasi maskapai didominasi oleh beban fuel sebesar 35-40 persen, diikuti beban sewa pesawat 25-30 persen, biaya bandara 2-10 persen, serta beban SDM atau belanja karyawan sebesar 10-20 persen.

Lebih-lebih harga bahan bakar pesawat atau avtur terus membumbung tinggi sementara nilai tukar rupiah terperosok turun pada tahun lalu. Mengutip data Pertamina Aviation, avtur di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dibanderol seharga USD61,80 sen atau Rp8.920 per liter. Harga ini belum termasuk PPN 10 persen dan pajak penghasilan 0,3 persen.

Per barelnya, harga avtur berada di kisaran USD65-USD70. Sementara mata uang Garuda tahun lalu terus keok dan sempat mencapai Rp15.000 per USD. Artinya, beban fuel semakin mencekik kinerja keuangan maskapai. Karenanya, maskapai tidak memiliki pilihan lain selain mencabut diskon harga agar tetap bertahan.

Bahkan Ari bilang, maskapai layanan penuh atau full-service yang menjual tiketnya mendekati batas atas saja masih bisa merugi meski memiliki sumber pendapatan lain seperti bagasi dan periklanan. "Begitulah kisah sedih maskapai nasional," kata Ari sambil menghela napas panjang pada Selasa, 15 Januari 2018.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ini pun mengaku heran ketika maskapai mulai menurunkan harga tiket atau transisi dari musim puncak (peak season) menuju musim rendah (low season) justru muncul keluhan dari masyarakat.

Ada yang menduga kenaikan tarif tiket penerbangan domestik dipolitisir demi kepentingan kampanye menjelang perhelatan pemilihan umum serentak. Sebab, kenaikan ini juga terjadi pada tahun sebelumnya tanpa munculnya protes. "Harga tiket penerbangan dijadikan isu nasional. Kondisi ini yang membuat saya tidak mengerti," imbuhnya.

Menurut pengamat penerbangan Alvin Lie, penaikan tarif tiket penerbangan masih berada dalam koridor tarif batas atas yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan. Dengan kata lain, maskapai nasional tidak membelot dari Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 14/2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah Penumpang Pelayanan Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.




Berdasarkan peraturan tersebut, batas atas dan batas bawah tarif penerbangan Jakarta-Surabaya berada di rentang Rp412 ribu-Rp1,3 juta, rute Jakarta-Padang pada kisaran Rp512 ribu-Rp1,7 juta, rute Jakarta-Medan pada rentang Rp632 ribu-Rp2,1 juta, rute Jakarta-Denpasar di kisaran Rp495 ribu-Rp1,6 juta, rute Jakarta-Makassar pada kisaran Rp643 ribu-Rp2,1 juta, serta rute Jakarta-Jayapura di koridor Rp1,6 juta-Rp5,4 juta.

Anggota Ombudsman Indonesia ini menambahkan maskapai nasional masih menerapkan harga berdasarkan sub-class penumpang sebelum Oktober tahun lalu. Namun, harga tiket mulai bergerak naik setelah Garuda Indonesia melakukan perubahan pola perhitungan tarif. Karena itu, maskapai berbiaya murah juga berani menaikkan tarifnya dengan menerapkan harga sesuai sub-class tertinggi untuk semua rute.

"Garuda kan price leader, kalau Garuda enggak naik yang lain juga enggak naikkan. Karena kalau Garuda enggak naik yang lain naik maka semua bisa pindah ke Garuda kan. Nah giliran Garuda naik ke taraf tertinggi, yang bawah berani nyodok ke atas," ungkap Alvin saat dihubungi Medcom.id.

Berbagai alasan atas kenaikan harga tiket penerbangan memang masuk akal. Namun pemerintah tetap menginginkan harga tiket disesuaikan dengan kemampuan daya beli masyarakat. Kementerian Perhubungan kemudian melakukan komunikasi dengan seluruh maskapai nasional yang tergabung dalam INACA. Mereka pun sepakat untuk menurunkan tarif tiket penerbangan domestik.

Maskapai secara variatif membuka kembali kuota tarif murah sekitar 10-30 persen dari total kapasitas kursi. Bila kuota tersebut sudah habis terjual maka sisa harga tiket kembali meningkat sesuai dengan demand atau hukum permintaan.

"Jadi kalau sekarang harganya terlihat masih tinggi, itu slot tiket harga murah berarti telah habis terjual. Kita beri kuota hingga 30 persen," ujar Direktur Utama Citilink Juliandra Nurtjahjo.

Harga tiket pesawat yang sudah diturunkan setara dengan tarif tiket sebelum musim liburan Natal dan Tahun Baru 2019 (Nataru). Saat ini, hampir semua rute penerbangan domestik mengalami penurunan tarif, di antaranya rute Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta, Bandung-Denpasar, dan Jakarta-Surabaya. Penurunan harga juga akan disusul oleh rute domestik lainnya seperti Jakarta-Padang, Jakarta Pontianak, dan Jakarta-Jayapura.

Bagasi Berbayar dan Turunnya Sektor Pariwisata

Keresahan masyarakat akan biaya penerbangan tinggi bisa dimaklumi lantaran hal ini berbarengan dengan kebijakan penerapan tarif bagasi oleh sejumlah maskapai LCC. Sebut saja Lion Air, Wing Air, dan Citilink akan menerapkan bagasi berbayar demi menutupi kerugian operasional maskapainya.

Memang kebijakan tersebut tidak menabrak aturan karena termasuk dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 185 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Yang menjadi masalah adalah penerapan tarif bagasi pesawat tidak proporsional.

Pada umumnya biaya bagasi disesuaikan jarak dan waktu penerbangan. Semakin jauh jarak dan waktu tempuh tarif bagasi akan makin mahal, begitu pula sebaliknya. Alvin Lie menilai penerapan kebijakan bagasi berbayar akan membuat tarif LCC menjadi lebih mahal dibandingkan maskapai full-service, seperti Garuda dan Batik Air.

Biaya yang akan dikeluarkan konsumen lebih tinggi, misalnya semula tiket pulang pergi Jakarta-Semarang menggunakan Lion Air berkisar Rp600 ribu-Rp700 ribu dengan free bagasi di bawah 20 kilogram. Tetapi, ongkos itu akan terkerek menjadi Rp1,3 juta dengan asumsi ada tambahan biaya bagasi Rp310 ribu per per kg atau Rp620 ribu per 20 kg.




Bukan tidak mungkin, masyarakat akan melakukan perbandingan harga sehingga lebih memilih menggunakan maskapai full-service. Ini juga akan menjadi masalah bagi penurunan penumpang kelas ekonomi maskapai LCC di masa mendatang.

"Dugaan saya komando di Lion Air belum jelas siapa yang memerintah atas apa. Kedua ada keraguan tentang dampak sehingga tidak heran mungkin saja setelah ini penjualan tiket turun drastis bahkan mungkin Lion Air akan meninjau kembali kebijakan ini," ungkap Alvin.

Berbeda dengan Alvin, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta regulasi dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 185 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri ditinjau kembali. Pasalnya, penentuan standar pelayanan yang diterapkan pada masing-masing maskapai termasuk kebijakan biaya bagasi dianggap menyalahi ketentuan tarif batas atas maskapai dengan predikat LCC.

Tulus menilai bagasi berbayar tersebut adalah upaya kenaikan tarif pesawat secara terselubung. Semestinya Kemenhub meminta maskapai untuk menunda pemberlakuan bagasi berbayar dan mengatur terlebih dahulu besaran tarif bagasi. Jika tidak diatur dan diawasi maka pengenaan bagasi berbayar bisa disebut tindakan semena-mena oleh maskapai.

"Pengenaan bagasi berbayar berpotensi melanggar ketentuan batas atas atas tarif pesawat," ucap Tulus.

Sementara itu, Pengamat Penerbangan Arista mencermati mahalnya biaya penerbangan dalam negeri akan berdampak pada industri pariwisata dalam jangka pendek, khususnya pada UMKM oleh-oleh khas daerah. Dikhawatirkan penumpang akan mengurangi pembelian oleh-oleh demi menekan biaya bagasi.

Namun begitu, masyarakat tak serta merta akan beralih melakukan traveling dari dalam ke luar negeri hanya untuk menghindari tarif penerbangan domestik yang mahal. Sebab, biaya hidup berupa penginapan, transportasi dan makan di luar negeri tetap jauh lebih mahal ketimbang di dalam negeri.

"Memang ada dampak ke turisme, bisa dalam jangka pendek berdampak terutama usaha UMKM oleh-oleh khas daerah misal bolu Medan Meranti, mpek-mpek Palembang karena biaya bagasi bisa enggak bawa oleh-oleh mereka," ungkap Arista saat dihubungi Medcom.id.

Terlepas dari pro-kontra tersebut, maskapai Citilink  tetap akan menerapkan kebijakan bagasi berbayar mulai akhir Januari 2019. Fasilitas bagasi 20 kilogram akan dihapuskan tapi masih  memberikan kelonggaran bagi bagasi kabin.

Direktur Utama Citilink Juliandra Nurtjahjo menjelaskan pihaknya tengah mempersiapkan seluruh infrastruktur pendukung yang diperlukan bagi pelaksanaan ketentuan bagasi tercatat. Mulai dari SOP hingga kesiapan SDM, serta sosialisasi kepada masyarakat.

"Kira-kira butuh waktu dua minggu untuk sosialisasi pada masyarakat serta menyiapkan persyaratan dan laporan kepada Kementerian Perhubungan," ungkap Juliandra.

Persaingan Sengit Industri Penerbangan dengan Pengguna Tol Trans Jawa

Mahalnya ongkos si burung besi dikhawatirkan akan menimbulkan persaingan sengit antara moda transportasi udara lintas kota di Pulau Jawa dengan moda transportasi darat berupa kereta, bus dan kendaraan pribadi. Apalagi pemerintah baru saja meresmikan tol Trans Jawa sepanjang 758,58 kilometer. Otomatis masyarakat memiliki pilihan beragam serta lebih gampang melakukan perbandingan harga.

Lantas bagaimana perbandingan biaya transportasi antara jalur darat dan udara dengan rute yang sama? Medcom.id mencoba menghitung lama tempuh dan ongkos yang dikeluarkan khusus dari Jakarta menuju Surabaya.

Jika menggunakan moda transportasi udara, maka biaya yang harus dikeluarkan dalam satu kali perjalanan mencapai Rp2,5 juta untuk maskapai full service. Sedangkan tarif maskapai berbiaya murah berada di kisaran Rp1 juta sebelum diturunkan menjadi Rp565 ribu. Angka tersebut diperoleh dari penyedia jasa penjualan tiket transportasi.

Melalui si burung besi, pelanggan cukup memakan waktu tempuh 1 jam 30 menit dari Jakarta ke Surabaya. Namun waktu tersebut belum diakumulasikan sejak pelanggan berangkat dari rumah ke bandara, melakukan check in dan boarding pass hingga landing di bandara tujuan. Jika ditotal bisa memakan waktu 4,5 jam.

Rinciannya, pelanggan akan tiba dua jam lebih awal ke bandara untuk menghindari macet. Kemudian menghabiskan 30 menit hingga 1 jam untuk melakukan check-in bila antrean panjang. Lalu 30 menit berikutnya dihabiskan saat boarding pass dan perjalanan menuju gate masing-masing. Setelah landing, biasanya pelanggan kembali menghabiskan 30 sampai 50 menit untuk pengambilan bagasi.

Sementara itu, perjalanan Jakarta-Surabaya dengan menggunakan moda transportasi darat tercatat memakan waktu lebih lama. Namun biaya yang dikeluarkan bisa separuh lebih murah dibandingkan tarif tiket penerbangan.

Di mana kereta api Jakarta-Surabaya akan memakan waktu hingga sembilan jam untuk kereta kelas eksekutif dan 14 jam untuk kereta kelas ekonomi. Namun dari segi harga, tiket kelas eksekutif dipatok sebesar Rp1 juta atau hampir sama dengan harga tiket penerbangan LCC. Hanya saja tiket kelas ekonomi bisa seharga Rp175 ribu untuk satu kali perjalanan.

Adapun biaya transportasi darat menggunakan kendaraan pribadi atau golongan satu hampir sama dengan harga tiket kereta api kelas eksekutif maupun tiket maskapai berbiaya murah. Angka tersebut dihitung dari jumlah tarif tol ditambah dengan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite.

Total biaya ruas tol Jakarta-Cikampek sampai ruas tol Mojokerto-Surabaya mencapai Rp474 ribu. Di antaranya tarif tol termurah berada di ruas tol Semarang (Jatingaleh-Krapyak dan Jatingaleh-Srondol) dengan tarif Rp5.500. Sedangkan tarif termahal yakni ruas tol Cikopo-Palimanan dengan biaya Rp102 ribu.




Sementara konsumsi BBM jenis Pertalite diperkirakan menghabiskan Rp500 ribu. Jumlah tersebut dihitung dari asumsi penggunaan BBM sebanyak 64 liter untuk menempuh jarak 758,58 km. Artinya dibutuhkan satu liter BBM untuk setiap 12 km. Angka itu kemudian dikalikan dengan harga Pertalite sebesar Rp7.800 per liter. Jika ditotal maka biaya perjalanan menggunakan kendaraan umum mencapai Rp974 ribu dengan waktu tempuh 8-10 jam melalui jalur tol Trans Jawa sepanjang 759,61 kilometer. Harganya tentu akan lebih murah bila kendaraan umum tersebut diisi oleh beberapa orang.

Kesimpulannya, biaya perjalanan rute Jakarta-Surabaya akan menghabiskan waktu 4,5 jam menggunakan pesawat dengan biaya Rp565 ribu-Rp2,5 juta. Kemudian kereta api membutuhkan waktu 9-14 jam dengan tarif Rp175 ribu sampai Rp1 juta, sedangkan kendaraan pribadi lewat ruas tol Trans Jawa akan memakan waktu tempuh 8-10 jam dengan biaya sebesar Rp974 ribu.

Menurut Alvin, hitung-hitungan tersebut akan mengubah peta industri penerbangan Tanah Air. Di mana sejak diresmikannya tol Trans Jawa, maskapai nasional mulai memutar otak untuk meningkatkan rute penerbangan ke luar Jawa.

Sayangnya penurunan jumlah penumpang terus terjadi sejak 2017. Di mana secara signifikan jumlah penumpang maskapai turun sebesar 9,75 persen pada 2017. Bahkan penurunan lebih dalam terjadi di enam bandara sebanyak 13,43 persen.

"Ini sangat signifikan, begitu juga dengan pergerakan pesawat mendarat dan turun, airlines juga mengurangi jumlah penerbangan terkait turunnya jumlah penumpang. Yang tadinya tiket hampir Rp1 juta sekarang pada naik mobil, ini memaksa airlines juga untuk memutar otak berarti penerbangan harus ke luar Jawa," imbuh Alvin.

Oleh sebab itu, pemerintah diminta memberikan insentif kepada maskapai guna mendongkrak kinerja keuangan. Pemerintah Singapura saja sudah memberikan insentif kepada maskapai Indonesia  sebesar USD100 ribu per tahun untuk setiap rute yang dibuka ke negara tersebut. Insentif yang diberikan ini membuat harga tiket menuju negeri Singa menjadi lebih kompetitif dibandingkan di dalam negeri.

Ketua Umum INACA menambahkan harga tiket penerbangan domestik bisa lebih fleksibel jika harga bahan bakar diturunkan. Persoalannya terdapat selisih harga avtur yang dijual Pertamina kepada maskapai internasional sebesar 10-16 persen. Sementara maskapai dalam negeri hanya mendapat diskon harga sebesar dua persen.

"Kami meminta Pertamina bisa menurunkan harga hingga 10 persen. Kalau masyarakat minta maskapai menurunkan harga sementara harga komponen tidak turun maka maskapainya yang rontok," tegas Ari.


(AHL)