Melahirkan Unicorn

Angga Bratadharma    •    Selasa, 13 Feb 2018 15:06 WIB
analisa ekonomi
Melahirkan Unicorn
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (kiri) bersama Presiden Go-Jek Andre Soelistyo (kanan) menyaksikan penandatanganan kerja sama Investasi antara Astra Internasional dengan Go-Jek (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Go-Jek bergerak secara pasti menjadi perusahaan yang terus memperbesar lingkup bisnis dari waktu ke waktu. Perusahaan rintisan yang menyandang status unicorn di Indonesia ini kian mulus memperluas skala bisnis usai dua konglomerasi lokal yakni Grup Astra dan Grup Djarum mengumumkan keikutsertaan dalam penggalangan modal bagi Go-Jek.

PT Astra International Tbk (ASII) secara resmi menjalankan investasi modal sebesar USD150 juta atau setara Rp2,02 triliun ke Go-Jek Indonesia. "Kita memiliki kepercayaan yang sama bahwa dengan berkolaborasi kita bisa bersama-sama mendukung pengembangan UMKM," kata CEO and Founder Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim, di Jakarta, Senin, 12 Februari 2018.

Perusahaan yang menggunakan teknologi dalam basis bisnisnya ini memang terus menarik minat investor. Tidak tanggung-tanggung, investor besar yang berdatangan. Hal ini sejalan dengan penetrasi internet di Indonesia yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan, Grup Astra memprediksi mobile internet mencapai 100 persen di 2020.

Konglomerat selain Grup Astra juga tidak mau kalah. Grup Djarum, misalnya, melalui PT Global Digital Niaga, anak perusahaan modal ventura Global Digital Prima, juga masuk ke Go-Jek. Adapun investasi Global Digital Niaga merupakan bagian dari konsorsium yang mendanai Go-Jek dengan total suntikan USD1,2 miliar atau Rp16,2 triliun.



Konsorsium itu terdiri dari Alphabet Inc (induk usaha Google), Temasek Holdings Pte Ltd, Meituan Dianping (perusahaan teknologi Tiongkok), dan dua investor asal Amerika Serikat yaitu KKR & CO LP dan Warburg Pincus LLC. Meski demikian, Global Digital Niaga masih enggan memberikan rincian mengenai kontribusi investasi yang diberikan ke Go-Jek.

Konglomerat Masuk Bisnis Digital

Saat ini, konglomerat mulai ramai masuk ke bisnis digital dan bukan tidak mungkin mendorong lahirnya perusahaan-perusahaan berstatus unicorn. Sebut saja Grup Sinar Mas melalui Sinar Mas Digital Venture yang mengembangkan aCommerce dan Happy Fresh, Grup Lippo masuk ke Grab, Grup EMTK melalui KMK Global yang masuk ke Bukalapak, dan lain-lain.

Kiprah Grup Salim, misalnya, konglomerasi bisnis yang memulai usaha dari produk tepung terigu itu kini aktif merambah bisnis digital terutama belanja online. Salah satunya perusahaan yang dinakhodai Antoni Salim melalui anak usahanya menjalin kerja sama dengan konglomerat asal Korea Selatan, Grup Lotte dengan mengoperasikan situs belanja iLotte.



Lewat perusahaan patungan bernama PT Indo Lotte Makmur, Grup Salim berbagi modal sama dengan Grup Lotte yakni masing-masing USD50 juta. Bagi Grup Salim keberadaan iLotte membuat bisnis digital induk usaha tersebut semakin kokoh. Hal ini tentunya bisa memperbesar ekspansi bisnis di masa-masa mendatang dengan biaya operasional yang terukur.

Adapun bisnis digital bisa memperkuat induk usaha seperti Grup Salim lantaran perusahaan yang dimiliki sudah punya beberapa situs online seperti Lazada dan Zalora lewat kepemilikan Grup Salim di Rocket Inc, serta membeli 50 persen saham SK Planet di Elevenia di Agustus silam.

Sedangkan Grup Lippo telah meresmikan bisnis e-commerce bernama mataharimall.com lewat PT Global Ecommerce Indonesia. Bukan Grup Lippo sepertinya yang setengah-setengah dalam menajalankan bisnis. Pasalnya konglomerasi ini menyetor modal yang sangat besar yakni sebesar USD500 juta sebagai modal awal.

Sementara itu, Grup Elang Mahkota Teknologi (Grup Emtek) masuk sebagai pemilik saham minoritas di Bukalapak melalui salah satu anak usahanya, PT Karya Media Karya (KMK Online). KMK Online menyuntikan dana berkisar ratusan miliar untuk pengembangan bisnis Bukalapak.



Gencarnya konglomerat ramai masuk ke bisnis digital sejalan dengan perkembangan bisnis digital di Indonesia dan ambisi Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang membidik setidaknya ada lima perusahaan rintisan berkelas unicorn. Saat ini, terdapat empat perusahaan rintisan teknologi lokal yang menyandang status unicorn atau bervaluasi di atas USD1 miliar.

Selain Go-Jek, perusahaan lain yang menyandang status tersebut yakni Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. Status itu bisa saja terus meningkat signifikan jika perusahaan rintisan teknologi ini bisa melakukan aksi korporasi berupa Initial Public Offering (IPO) atau pelepasan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perusahaan Rintisan Teknologi Lakukan IPO

‎Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengaku telah berkomunikasi secara empat mata dengan manajemen BEI terkait IPO bagi perusahaan rintisan yang berstatus unicorn. Apabila perusahaan seperti Go-Jek melakukan IPO bukan tidak mungkin para pengemudi Go-Jek bisa menyerap saham perusahaan yang merupakan mitranya sendiri.



"Saya bicara dengan BEI agar pengemudi ojek (Go-Jek) jadi pemegang saham. Saya ingin dorong itu. Semoga bisa bergerak cepat," ungkap Rudiantara, Senin, 12 Februari 2018.

Pada titik ini, Rudiantara tidak menginginkan Go-Jek melakukan pelepasan saham perdana di luar bursa saham Indonesia. Jika itu terjadi, Indonesia tidak mendapatkan apa-apa. "‎Kalau mereka listed di luar negeri dapat apa di Indonesia? Semua sistem regulasi di Indonesia ini harus diubah. Sebelum mengubah orang lain, diri sendiri harus berubah," tutur Rudiantara.

Di sisi lain, BEI sedang mendorong tiga perusahaan berstatus unicorn bisa mencatatkan saham perdana di pasar modal Indonesia. Ketiga perusahaan tersebut adalah Gojek Indonesia (Go-Jek), Tokopedia, dan Bukalapak. Jika mereka mau melepas saham, bukan tidak mungkin industri pasar modal terus menggeliat di masa mendatang.


Sumber: Kementerian Komunikasi dan Informatika

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengaku telah meminta secara langsung rencana ketiga perusahaan tersebut untuk IPO di bursa saham Indonesia. Meski demikian, ketiga perusahaan dimaksud belum menindaklanjuti permintaan dari bursa. "Karena pendapatan mereka itu lebih dari 90 persen di Indonesia. Jadi tolong listed juga di Indonesia," kata Tito.

Menurut Tito jika ketiga perusahaan itu mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia bisa memberikan efek posisif dari sisi peningkatan pendapatan. Dirinya meyakini pelaku pasar akan maksimal menyerap saham dari ketiga perusahaan dimaksud.

Bahkan, Tito tidak hanya membidik ketiga perusahaan itu. Dirinya juga tengah mengincar sejumlah rintisan yang bergerak di teknologi untuk melakukan IPO. Namun sayangnya, perusahaan berbasis teknologi tersebut masih terganjal belum adanya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

"IPO ini topik yang sangat menarik karena perusahaan-perusahaan seperti kami ini masih muda dan jejak rekam finansial masih pendek," kata President dan Co-Founder Go-Jek Andre Sulistyo.

 


(ABD)


BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

1 day Ago

Menteri BUMN Rini M Soemarno menyatakan perusahaan milik negara di Indonesia siap bersinergi me…

BERITA LAINNYA