Membangun Ekosistem Pariwisata Halal Zaman Now

   •    Senin, 16 Apr 2018 18:28 WIB
analisa ekonomiwisata halal
Membangun Ekosistem Pariwisata Halal <i>Zaman Now</i>
Ilustrasi. (Foto: Antara/Andika Wahyu).

PARIWISATA halal telah menjadi fenomena baru dalam industri pariwisata. Jumlah pariwisata dari sektor pariwisata halal dunia dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat signifikan.

Data Thomson Reuters dan Dinar Standard (2013) sektor pariwisata halal bernilai USD137 miliar pada 2013 dan diperkirakan mencapai USD181 miliar pada 2018. Besarnya potensi tersebut membuat para pelaku industri pariwisata tidak mau ketinggalan untuk menggarap potensi tersebut dengan melakukan beberapa program dan inisiatif untuk menarik wisatawan halal.

Berbagai negara juga tidak mau ketinggalan dalam mendapatkan peluang dari pariwisata halal sehingga negara tersebut mencoba membangun dan meciptakan ekosistem pariwisata halal seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan.

Sementara itu, di Malaysia, yang selama ini terdepan dalam industri keuangan Syariah telah lebih awal mendeklarasikan diri sebagai pusat produk halal dunia dan sangat gencar melakukan promosi dan pameran melalui Malaysia Internasional Halal Showcase (MIHAS) setiap tahun sejak 2013 untuk memperkenalkan produk halal Malaysia ke berbagai negara lain.

Selain itu, Thailand juga telah mendeklarasikan diri sebagai pusat pangan halal lalu diikuti Jepang dan Korea Selatan walaupun jumlah penduduk muslim Jepang hanya 100 ribu jiwa dan Korea Selatan hanya 150 ribu jiwa, namun mereka serius mengembangkan industri halal dengan tujuan untuk menarik wisatawan muslim dunia sebagai sebuah peluang bisnis dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan besarnya peluang pariwisata halal dan deklarasi berbagai negara minoritas muslim mengusung pariwisata halal maka Indonesia sebagai negara penduduk muslim terbesar di dunia tidak boleh ketinggalan dalam pariwisata halal. Oleh karena itu membangun ekosistem pariwisata halal sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam industri halal.

Road Map Ekosistem

Dalam rangka meningkatkan kontribusi pariwisata halal maka pihak terkait harus melakukan beberapa langkah inisiatif dan strategis agar tercipta ekosistem pariwisata halal yang mapan. 

Pertama, dukungan regulasi yang kuat. Pemerintah pusat dan daerah harus menunjukkan komitmen yang kuat dengan membuat peraturan yang pro pariwisata halal serta selalu menyesuaikan perkembangan industri karena kadang kala pemerintah lambat dalam merespons perkembangan industri, sehingga pemerintah harus proaktif dalam sinergi pelaku usaha pariwisata halal. Selain itu, dukungan berupa alokasi anggaran yang memadai juga sangat penting agar pemerintah dapat memberikan insentif kepada pelaku usaha dan industri pariwisata halal.

Kedua, membangun kawasan destinasi yang berkelanjutan. Dalam membangun dan membuka destinasi pariwisata halal harus memperhatikan ketersedian beberapa unsur yaitu menarik, dukungan fasilitas dan aksesabilitas yang memadai seperti Dukungan infrastruktur sangat penting dalam menunjang destinasi dengan membangun sarana transportasi (moda transportasi angkutan jalan, sungai, danau dan penyeberangan, angkutan laut dan kereta api), prasarana transportasi (pelabuhan laut, bandara, stasiun) dan sistem transportasi (informasi rute dan jadwal, ICT, kemudahan reservasi moda) dan prasarana umum, fasilitas umum, dan fasilitas kawasan pariwisata.

Kebutuhan sarana penunjang sangat penting agar menimbulkan kenyamanan selama berada di lokasi, sarana tersebut seperti untuk prasarana umum meliputi listrik, air, dan telekomunikasi.

Ketiga, Pelatihan, pengembangan, dan kapasitas SDM yang berkesinambungan. Dalam hal ini memberikan sertifikasi kepada staf hotel baik yang beragama Islam maupun non-Islam melalui training tentang bagaimana menjalankan yang bisa bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan universitas dan mengelola pariwisata halal serta memenuhi kebutuhan wisatawan halal, pengelolaan sertifikasi makanan dan minuman halal, bekerja sama dengan komunitas, asosiasi industri pariwisata halal dan stakeholders industri halal sementara asosiasi di hotel, tours & travel, pemandu wisata, biro perjalanan, maskapai penerbangan dan lain sebagainya.

Keempat, integrasi lembaga keuangan syariah. Dalam mengembangkan industri nanti akan membutuhkan dukungan modal dan keuangan yang memadai maka lembaga keuangan syariah dapat diminta menjadi mitra strategis dalam memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha pariwisata halal sebagaimana pariwisata halal merupakan turunan dari ekonomi Syariah.

Halal Industri "Jaman Now"

Dalam dunia digital saat ini 70 persenpenduduk Indonesia dan dunia eksis di dunia maya dan memiliki media sosial lebih dari satu maka membangun pariwisata halal harus juga menggunakan konsep zaman now yang digitalisasi beberapa langkah yang dapat dilakukan seperti:

Pertama, melakukan positioning sebagai esteem economy dengan menyasar konsumen dengan menggunakan sosial media dan media digital. Kekuatan sosial media saat ini sangat ampuh dalam mendorong perhatian publik apalagi yang sebarkan menjadi viral maka sangat efektif dalam menarik wisatawan baik luar maupun dalam negeri.

Kedua, melakukan differentiating dengan menggunakan destinasi digital. Mengusung produk atau destinasi yang instagramable, instagenic, 1.001 spot foto yang layak diposting di semua platform media sosial yang dapat menarik perhatian wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Ketiga, menyusun branding destinasi zaman now, dengan menggunakan berbagai kampanye dan tagline yang happening atau sesuai dengan momen tertentu. Saat ini tagline yang bagus dapat menjadi viral sehingga akan diikuti oleh orang lain sehingga bisa menjadi kampanye halal.

Harapannya peluang global halal tourism dapat maksimal digarap oleh stakeholders Indonesia agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton tentunya dukungan berbagai pihak diharapkan dapat maksimal sehingga nanti dapat meningkatkan pertumbuhan industri pariwisata nasional yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Safri Haliding
Wakil Ketua Umum MES DKI Jakarta & Alumni International Islamic University of Malaysia (IIUM)



(AHL)