Standard and Poor

Suryopratomo    •    Sabtu, 20 May 2017 13:08 WIB
analisa ekonomi
Standard and Poor
Ilustrasi. (FOTO: MI/RAMDANI)

STANDARD and Poor Global Rating mengeluarkan hasil kajian terbaru mereka. Peringkat Indonesia naik dari BB+ menjadi BBB-dengan outlook stable.

Dengan kenaikan itu, Indonesia masuk kelompok investment grade, peringkat tertinggi pertama yang diberikan S&P kepada kita. Dampak penaikan peringkat itu langsung terlihat di pasar.

Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia naik 3,2% menjadi 5.825,2. Dengan kenaikan itu, IHSG sudah naik 10% sepanjang 2017. Hal yang sama terjadi di pasar uang. Nilai tukar rupiah menguat 0,3%, atau menguat 1% sepanjang tahun ini.

Penilaian positif terhadap perekonomian Indonesia terutama disebabkan pengelolaan anggaran yang dianggap baik. Di tengah keinginan pemerintah untuk membangun infrastruktur, pemerintah dinilai positif ketika akhir tahun lalu berani untuk memotong juga anggaran.

Akibatnya defisit anggaran bisa dikendalikan di bawah 2,5% dari produk domestik bruto. Selain itu, amnesti pajak dianggap berhasil karena membuat pemerintah bisa memperoleh penerimaan tambahan lebih dari Rp140 triliun.

Akibat lebih lanjut cadangan devisa Indonesia bisa mencapai tingkat tertinggi, yakni sekitar USD123 miliar. Penilaian yang hampir sama terhadap kemampuan Indonesia untuk mengelola keuangan negara sebelumnya diberikan lembaga pemeringkat Fitch dan Moody.

Indonesia dianggap berhasil mengendalikan defisit anggaran sehingga keberlanjutan pengelolaan utang dianggap positif. Hasil pemeringkatan terbaru itu tentunya menjadi modal yang baik bagi kita untuk mendorong pertumbuhan.

Itulah momentum yang seharusnya dimanfaatkan Presiden Joko Widodo untuk fokus pada pengelolaan ekonomi dan meminggirkan terlebih dahulu persoalan politik. Terlalu lama sudah pemerintah terjebak kepada isu-isu politik.

Padahal, ukuran politik sering kali serba tidak jelas. Semua pihak bisa memberikan interpretasi atas dasar kemauan sendiri dengan justifikasi yang bisa mereka buat. Akibatnya, persepsi yang ditimbulkan bisa menjadi multiinterpretasi.

Lihat saja pernyataan Presiden di depan para pemimpin redaksi media massa untuk menindak tegas siapa pun yang bertindak di luar konstitusi. Istilah 'gebuk' yang dipakai Presiden di satu sisi dinilai sebagai sebuah sikap tegas, tetapi di sisi lain dianggap otoriter.

Mulai muncul komentar bahwa Presiden harus menggunakan jalur hukum ketika hendak bersikap tegas. Pada ekonomi ukuran keberhasilan bisa dilihat secara lebih pasti.

Kalau pemerintah bisa menggerakkan ekonomi, bahkan manfaatnya bisa langsung dirasakan karena kesejahteraan masyarakat bisa meningkat. Sekarang ini begitu banyak modal yang ingin masuk ke Indonesia. Dari Jepang saja ada sekitar USD5 miliar dana yang siap untuk masuk. Tinggal seberapa sigap kita menyambut datangnya rencana investasi tersebut.

Dari dalam negeri keinginan pengusaha untuk mengembangkan usaha juga demikian besarnya. Star Energy milik pengusaha Prajogo Pangestu, misalnya, tahun lalu mengambil alih pembangkit listrik panas bumi milik Chevron yang ada di Indonesia dan Filipina. Nilai pembeliannya mencapai USD3,2 miliar.

Kemampuan perusahaan nasional untuk mengambil alih aset perusahaan raksasa dunia bisa menjadi indikasi bahwa kualitas perusahaan nasional sudah sejajar perusahaan asing. Lebih dari itu, kepercayaan perbankan internasional untuk memberikan kredit skala besar kepada perusahaan dalam negeri menunjukkan perekonomian Indonesia bisa mereka percayai.

Di sinilah kita ingin mengajak semua pihak untuk kembali fokus kepada tujuan utama berbangsa dan bernegara. Kita sepakat untuk membentuk Republik Indonesia bukan untuk membuat kita terus berseteru. Tujuan utama kita ialah menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kita ingin kembali mengingatkan pidato politik yang disampaikan Jokowi ketika membentuk pemerintah, yakni 'kerja, kerja, kerja'.

Sekarang ini kita sudah terlalu banyak omong jika dibandingkan dengan kerja. Kita lebih banyak berdebat dan saling menyalahkan daripada membangun negeri ini. Kesempatan emas untuk meraih kemajuan sekarang ada di depan mata. Jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan masyarakat dunia kepada kita.

Mari kita bersama-sama memajukan negeri ini demi kesejahteraan kita bersama. (Media Indonesia)


(AHL)

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional
Sevel Tutup

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional

5 days Ago

Bangkrutnya usaha 7-Eleven (sevel) ditangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) meninggalkan ban…

BERITA LAINNYA