Jagung dan Industri Perunggasan

   •    Selasa, 16 Oct 2018 00:00 WIB
analisa ekonomi
Jagung dan Industri Perunggasan
Pengamat Pertanian Khudori. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

PEMERINTAH lewat Kementerian Perdagangan telah merevisi harga acuan pembelian di produsen maupun harga penjualan di konsumen, baik telur maupun daging ayam broiler. Harga acuan pembelian telur naik dari Rp17 ribu/kg hingga Rp19 ribu/kg jadi Rp18 ribu hingga Rp20 ribu/kg. Harga serupa juga pada daging ayam. Sedangkan harga acuan penjualan telur Rp23 ribu/kg, dan daging ayam ras/broiler Rp34 ribu/kg.

Namun, harga ini sekadar acuan. Dalam Permendag No 96/2018 tertanggal 21 September 2018 itu tertulis saat harga jatuh di bawah acuan pembelian di produsen atau ada di atas harga acuan penjualan konsumen, pemerintah lewat menteri bisa menugaskan Bulog/BUMN lain untuk melakukan pembelian atau penjualan. Penugasan diputuskan di Rakor Menko Perekonomian. Namun, penugasan itu belum ada sampai saat ini.

Saat ini harga telur jatuh, hanya Rp15 ribu/kg. Padahal, biaya produksi Rp18 ribu/kg. Tak ingin tersandera utang, peternak layer atau peternak telur sejak September lalu mengafkir dini ternak mereka sekitar 15 persen atau 33 juta dari 220 juta populasi ayam. Diperkirakan afkir dini akan mencapai 20 persen populasi hingga akhir Oktober 2018.

Opsi afkir dini diambil karena selain tidak ingin tersandera utang, peternak melihat belum ada opsi apapun sebagai jalan keluar. Harga pakan ternak sekarang Rp5.700/kg hingga Rp6.200/kg. Peternak pernah mengolah langsung pakan dengan membeli jagung saat harga jagung rendah, sekitar Rp4.000/kg hingga Rp4.300/kg. Tapi dengan harga jagung saat ini Rp5.300/kg, opsi membeli pakan lebih masuk akal. Yang perlu diantisipasi, ada peluang harga telur bakal melejit tinggi pada Desember nanti.

Itu terjadi karena produksi menurun hanya 6.000 ton per hari, dari sebelumnya 7.600 ton per hari. Pada Desember permintaan telur akan naik karena ada Natal, tahun baru dan penambahan penerima bantuan pangan nontunai yang salah satu opsinya bisa menukar duit dengan telur selain beras. Jika harga bisa menembus Rp40 ribu/kg, ini bakal punya dampak ikutan yang luas. Harga yang tinggi membuat inflasi tinggi, daya beli turun, kemiskinan bakal melejit, dan akses masyarakat ke sumber protein murah turun. Pemerintah tidak memiliki instrumen intervensi untuk mengendalikan harga. Ini berbahaya. Langkah impor juga bakal menguras devisa karena harga telur di pasar dunia saat ini antara Rp2.500-Rp3.000/butir. Sementara di sini harga telur Rp1.500/butir.




Pada saat yang sama, peternak ayam ras baru bisa agak bernafas setelah harga sepanjang September rendah, sempat menyentuh Rp13 ribu/kg. Harga saat Oktober mulai membaik, jadi Rp18 hingga Rp19 ribu/kg. Tapi peternak tetap merugi atau hanya impas. Peternak ayam ras, seperti ayam layer, tertekan oleh harga pakan yang tinggi imbas dari harga jagung yang naik. Kerumitan semacam ini terjadi sejak pemerintah menyetop impor jagung mulai 2016. Alasannya, produksi jagung domestik cukup, bahkan surplus.

Masalahnya, klaim surplus jagung sulit dibuktikan dengan realitas lapangan. Jika benar produksi surplus, pada saat yang sama sebagian bahan pakan ternak disubstitusi dengan gandum tapi harga jagung terus tinggi. Padahal, kebutuhan industri pakan ternak hanya 7 juta-8 juta ton per tahun. Di sisi lain, produksi jagung tahun ini diklaim mencapai 30 juta ton. Mensubstitusi jagung dengan gandum bukan opsi yang baik bagi peternak. Karena ternak kurang cocok dengan komponen bahan pakan dari gandum.

Ke depan, instabilitas harga telur dan jagung bakal selalu berulang. Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk mengatur harga khusus jagung untuk keperluan pakan. Pakan merupakan komponen utama dalam industri perunggasan, mengambil porsi 70 persen dari ongkos produksi. Dari komposisi pakan unggas, 50-55 persen merupakan jagung. Tinggi rendahnya harga jagung akan menentukan harga daging dan telur ayam. Ketersediaan/pasokan jagung yang pasti dengan harga terjangkau peternak merupakan pilar penting untuk membangun dan mewujudkan industri perunggasan yang kompetitif.

Selain itu, perlu ada pemisahan pasar ternak: antara integrator (perusahaan terintegrasi) dan peternak rakyat. Saat ini 90 persen produk integrator dan peternak rakyat menyerbu lapak yang sama: pasar tradisional. Padahal, dari sisi kemampuan finansial, manajemen, SDM, dan yang lainnya perusahaan integrator jauh lebih mumpuni ketimbang peternak rakyat. Mestinya harus ada pemisahan pasar, seperti pada gula.

Peternak rakyat melayani pasar tradisional lewat rantai segar. Agar efisien, peternak rakyat didorong beroperasi dengan cara berkelompok dalam Sentra Perunggasan Rakyat (SPR). Di hulu, untuk memastikan pasokan pakan dan DOC, SPR harus terintegrasi dengan pabrik pakan skala kecil, pembibitan skala kecil dan petani jagung. Di hilir, SPR bekerja sama dengan rumah potong ayam mini modern dan kelompok pedagang ayam di pasar tradisional. Dengan cara ini, rantai pasok bisa lebih pendek dan sederhana. Nilai tambah bisa didistribusikan secara adil di antara pelaku yang terlibat.

Perusahaan integrator melayani pasar modern, horeka (hotel, restoran dan katering) dan pasar ekspor lewat rantai dingin (cold chain). Perusahaan integrator wajib menyelesaikan integrasi vertikal hingga ke hilir. Mereka wajib membangun rumah potong hewan unggas dengan fasilitas rantai dingin atau dilengkapi fasilitas cold staorage dan industri pengolahan. Mereka harus mengintegrasikan seluruh mata rantai nilai dari produksi primer, distribusi, pengolahan, prosesing hingga penjualan di pasar dengan pendekatan from feed to meet. Sebagai insentif pemerintah memastikan pasokan jagung dengan harga terjangkau yang memenuhi standar produksi. Cuma, pemisahan pasar ini memerlukan pengawasan yang ekstra ketat. Ini kelemahan kita selama ini.

Sektor perunggasan ini menyerap tenaga kerja lebih dari 4 juta orang dengan nilai ekonomi lebih dari Rp100 triliun. Sektor ini juga menjadi gantungan hidup rakyat kecil. Telur dan daging ayam selama ini menjadi sumber protein lengkap yang terjangkau kantong. Jika tujuan pemerintah adalah membuka akses warga pada sumber-sumber protein murah, telur dan daging ayam adalah pilihan paling masuk akal. Dalam garis kemiskinan makanan, telur dan daging ayam menempati posisi 3 dan 4 terbesar komoditas penguras belanja rumah tangga. Dengan harga telur dan daging ayam yang menguntungkan produsen dan terjangkau konsumen, bukan hanya peternak yang diuntungkan, warga secara keseluruhan juga ekonomi akan memetik manfaatnya.

Oleh
Khudori
Pengamat Pertanian



(AHL)


Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

9 hours Ago

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yang sejak 1 Februari 2014 berhenti beroperasi akibat k…

BERITA LAINNYA