Membaca Sinyal Positif Pertemuan Trump-Kim

Desi Angriani    •    Selasa, 12 Jun 2018 20:45 WIB
donald trump
Membaca Sinyal Positif Pertemuan Trump-Kim
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Dok : AFP/Saul Loeb.

Jakarta : KETIDAKPASTIAN global terus berlanjut. Berbagai goncangan yang timbul akibat ketegangan geopolitik hingga perang dagang masih memberikan dampak negatif bagi banyak negara tak terkecuali Indonesia.

Beberapa ahli berpendapat ketidakpastian ini bersumber dari kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia kerap melontarkan kebijakan ekonomi yang konservatif dan proteksionis untuk mengembalikan keperkasaan negeri Paman Sam.

Namun kebijakan yang antiperdagangan bebas ini justru membatasi gerak perekonomian global. Tak hanya itu, Trump juga memantik perang dagang dengan Tiongkok yang membuat pasar modal menjadi merah. Keblunderan Trump kembali berlanjut dengan potensi perang dagang yang lebih besar terhadap negara-negara G7.

Ketidakpastian yang semakin melebar ini mendadak sedikit terhenti akibat pertemuan Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Pertemuan ini menjadi angin surga bagi kancah politik global yang secara tidak langsung memberi efek positif ke pasar modal.

Pasalnya, Korut beberapa kali pernah menjajaki pertemuan bilateral dengan presiden AS tapi kandas oleh isu senjata nuklir.  Trump juga sempat membatalkan pertemuan tersebut hingga akhirnya digelar di Hotel Capella, Pulau Wisata Sentosa, Singapura pada Selasa, 12 Juni 2018.

Pemerintah Singapura pun tak tanggung-tanggung menggelontorkan biaya sekitar 20 juta dolar Singapura atau sekitar Rp209 miliar demi menfasilitasi pertemuan bersejarah tersebut. Dana yang dikeluarkan tak seberapa dibandingkan dampak publikasi yang diperoleh Singapura dari pertemuan Trump-Kim.

Dalam pertemuan itu, keduanya mencapai empat poin kesepakatan di antaranya mengenai denuklirisasi Korea Utara. Sebaliknya Amerika Serikat akan menghentikan latihan militer gabungan dengan Korea Selatan di Semenanjung Korea juga mempertimbangkan untuk menarik pasukan AS yang disiagakan di Korsel.

"Kami akan menghentikan latihan gabungan, yang tentunya menghemat biaya dalam jumlah besar," ujar Trump seusai menandatangani dokumen kesepakatan pertemuan tersebut.

Pengamat ekonomi dari Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi menilai pertemuan keduanya akan memberikan dampak politis jangka pendek bagi pasar finansial AS dan Asia meskipun keduanya hanya membahas isu-isu politik dan keamanan.


Rata-rata bursa Asia mengalami pergerakan positif setelah keduanya mendarat di Singapura pada Senin, 11 Juni, kemarin. Tercatat saham Nikkei naik 0,48 persen, Hangseng Indeks naik 0,34 persen, Kospi Korea naik 0,76 persen. Sementara dampak terhadap bursa saham Indonesia belum dapat dihitung lantaran libur panjang Lebaran 2018.

"Mestinya positif ke pasar finansial AS dan Asia tapi bursa saham dan pasar Indonesia kan libur jadi tidak terdampak," ungkap Eric saat dihubungi Medcom.id.

Hal serupa diungkapkan Peneliti Institute of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. Baginya efek pertemuan Trump-Kim akan menetralisir ketegangan di Korea. Penurunan risiko geopolitik ini bakal mendorong kepastian ekspor negara-negara di kawasan Asia seperti Indonesia. Pasalnya, selama ini 31 persen total eskpor Indonesia ke Tiongkok, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan terdampak oleh konflik di Semenanjung Korea tersebut.

"Jika konflik berhasil diredam, eksportir tidak akan was-was mengirim barang lewat Semenanjung Korea. Biaya logistik bisa lebih dipangkas, tanpa jalur memutar untuk hindari wilayah konflik," tutur Bhima kepada Medcom.id.

Imbas Pertemuan Trump-Kim


Dalam jangka panjang, pertemuan Trump-Kim dianggap tidak memberikan dampak signifikan terhadap perdagangan internasional. Sebab ruang lingkup Korea Utara dalam perekonomian global tak sebesar Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.


Namun ada secercah harapan bakal membaiknya hubungan AS dan Tiongkok dibalik pertemuan itu. Hal ini karena Tiongkok selama ini memasok bahan makanan dan militer bagi Korea Utara. Potensi berakhirnya perang dagang antara kedua negara dengan ekonomi terkuat di dunia ini diprediksi segera mereda.

"Dengan adanya pertemuan ini secara ekonomi engga ada dampak langsung tapi potensi trade war AS-Tiongkok bakal segera mereda," kata Ekonom UI Fithra Faisal kepada Medcom.id.

Di sisi lain, perjanjian denuklirisasi Korea Utara ini juga akan menciptakan production network baru di Semenanjung Korea. Pembukaan jalur logistik baru ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke negara Jepang dan Korea Selatan.

"Kalau misalnya bisa lewat Korut kita bisa manfaatkan ini ke depan," imbuh dia.

Sayangnya dampak jangka panjang terhadap ekonomi Indonesia tidak bisa ditentukan lantaran pertemuan Trump-Kim lebih bersifat politis dan belum tentu menghasilkan kesepakatan mengikat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, bisa saja pertemuan itu berdampak pada perekonomian global secara keseluruhan apabila tidak menemui kata sepakat. Sebab itu, pemerintah terus mewaspadai berbagai risiko dari perkembangan eksternal yang bisa menganggu kinerja perekonomian nasional pada 2018 dan 2019.

"Sentimen ke ekonomi itu akibat tidak langsung. Bukan akibat langsung," kata Darmin pada Senin 11 Juni 2018.

 



(SAW)


Menkeu Bicara Kesuksesan Penyelenggaraan Pertemuan IMF-WB

Menkeu Bicara Kesuksesan Penyelenggaraan Pertemuan IMF-WB

8 hours Ago

Pertemuan tahunan IMF-World Bank Group 2018 telah resmi ditutup pada Minggu (14/10/2018). Acara…

BERITA LAINNYA