Ekonomi bukan Angka

   •    Rabu, 08 Nov 2017 13:14 WIB
analisa ekonomi
Ekonomi bukan Angka
Suryopratomo. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

PRESIDEN Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie tidak pernah berubah prinsip. Dalam sesi Inspiring Knowledge Marketing Gathering Metro TV 2017 Kamis pekan lalu, ia menegaskan perlunya Indonesia membangun manusianya. Manusia Indonesia haruslah beriman, bertakwa, berpengetahuan, dan berbudaya.

Habibie mengajak kita semua tidak terlalu terpukau kepada prediksi ekonomi Indonesia. Sering dikatakan, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050. "Untuk apa kita mencapai itu kalau kita tidak mampu membuat manusia-manusia Indonesia lebih cerdas, lebih berpengetahuan, menguasai teknologi, dan memahami budaya Indonesia sendiri?" kata Habibie penuh semangat.

Presiden ketiga itu mengingatkan pesan yang dulu disampaikan Bung Karno. Negara kepulauan ini terbentang lebih panjang daripada New York sampai San Francisco di Amerika Serikat. Lautan yang ada di tengah Indonesia janganlah dilihat sebagai pemisah satu pulau dengan pulau yang lain, tetapi justru harus dilihat sebagai bagian yang mempersatukannya.

Oleh karena itu, Habibie ingat betul apa yang dulu dikatakan Bung Karno agar anak-anak Indonesia menguasai udara dan lautan. Ia pun tergugah untuk mendalami ilmu aeronautika pada akhir 1940-an karena ingin menjadi bagian yang bisa menyatukan Indonesia melalui penguasaan udara.

Habibie menjelaskan ia bukanlah angkatan pertama yang dikirim sekolah oleh Bung Karno untuk menguasai bidang aeronautika. Ia angkatan keempat anak-anak Indonesia yang dikirim ke luar negeri setelah angkatan Surya Darma hingga Nurtanio.

Namun, itu tidak cukup untuk membuat Indonesia mampu membangun industri dirgantara yang kuat. Oleh karena itu, ketika ia diminta Presiden Soeharto kembali ke Indonesia, Habibie meminta satu syarat, yakni pemerintah Orde Baru harus mau membangun industri strategis nasional mulai industri penerbangan, industri kapal laut, industri rekayasa, hingga industri dasar.

Untuk bisa merealisasikan mimpi itu, kita harus melahirkan minimal 200 ribu insinyur yang ahli di bidang mereka. Mereka harus dikirim belajar keluar negeri agar menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan. Sayang, krisis ekonomi melanda Indonesia. Dana Moneter Internasional melarang pemerintah mendanai industri strategis. Anak-anak Indonesia yang hebat itu kemudian diambil negara-negara lain untuk membangun industri mereka.

Menurut Habibie, kita harus membangun kembali anak-anak Indonesia yang hebat. Mereka harus kita persiapkan untuk membawa Indonesia terbang tinggi. Kita harus menjadi bangsa yang unggul melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tidak hanya cukup dibekali dengan pengetahuan, keimanan dan ketakwaan anak-anak Indonesia itu juga harus ditingkatkan. Dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang peduli kepada bangsa dan tidak melakukan tindakan tidak terpuji seperti korupsi.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan ialah menanamkan nilai budaya dari bangsa ini. Budaya Indonesia tidak mengenal namanya perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. Budaya Indonesia tidak mengenal yang namanya diskriminasi. Keberagaman itu merupakan anugerah bagi bangsa Indonesia karena saling menguatkan. Indonesia harus dibangun di atas pilar budaya yang sudah mengakar pada bangsa ini.

Pesan yang disampaikan Habibie pantas menjadi renungan bersama karena kita sering alpa membangun manusia Indonesia. Kita begitu menggebu membangun tol, misalnya, tetapi lupa untuk mengedukasi bagaimana cara berkendara di tol yang seharusnya. Akibatnya, kita lihat tol tidak ubahnya seperti arena balapan. Kendaraan besar pun menguasai jalanan. Tidak usah heran apabila jalan yang seharusnya bebas hambatan sering mengalami kemacetan berjam-jam.

Kita semua juga sering kagum dengan kemajuan sejak era Orde Baru yang membawa Indonesia menjadi negara industri baru. Gedung-gedung bertingkat menjadi wajah kota-kota besar. Namun, pendidikan 75 persen dari warga bangsa ini masih tingkat menengah pertama ke bawah.

Dengan penguasaan teknnologi dan ilmu pengetahuan yang rendah, tidak usah heran apabila kita tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kita baru bereaksi dan menggaungkan rasa nasionalisme ketika sumber daya alam itu mampu dieksplorasi orang asing dan menguntungkan mereka.

Saatnya bagi kita untuk membangun kepercayaan diri dari bangsa ini. Kita mampu mengeksplorasi sumber daya alam yang ada bagi kesejahteraan bersama. Bukan seperti sekarang hanya dirasakan segelintir orang, sedangkan warga kebanyakan hidup dalam kemiskinan.

Kita belum terlambat untuk melakukan investasi kepada manusia Indonesia. Ini penting agar tidak menjadi manusia yang serakah dan memikirkan diri sendiri saja. Iman, takwa, dan ilmu pengetahuan yang bertumpu kepada budaya Indonesia itulah yang harus jadi tujuan. Baru dari sanalah kita membangun ekonomi yang berkeadilan. (Media Indonesia)


(AHL)