Invasi Asia Timur di Perbankan Indonesia

   •    Rabu, 22 Nov 2017 13:21 WIB
analisa ekonomi
Invasi Asia Timur di Perbankan Indonesia
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Dampak dari berdatangannya investor Asia Timur ini tidaklah buruk, justru berdampak positif yakni akan memperkuat struktur permodalan perbankan di Indonesia.

Tidak hanya invasi K-pop dan Jpop yang merambah Indonesia. Perbankan dari Korea dan Jepang pun turut pula menyerbu negeri ini. Tercatat beberapa lembaga keuangan asal kedua negara sudah eksis di belantika perbankan Indonesia. Sebut saja seperti Hana Group, Woori, Shinhan, APRO Financial, dan menyusul KB Kookmin dari Korea yang menjadi pemilik bank di Indonesia.

Selanjutnya lembaga keuangan dari negaranya Shinzo Abe, tercatat ada MUFG yang menguasai Bank of Tokyo-Mitsubishi dan Bank Nusantara Parahyangan, J-Trust Co Ltd yang menjadi pemegang saham mayoritas Bank J-Trust (dahulu Bank Mutiara), Bank Sumitomo-Mitsui yang turut memiliki 40 persen saham di BTPN, dan Bank Mizuho yang telah lama hadir di Indonesia. Satu lagi yang paling baru ialah rencana akuisisi Bank Danamon oleh Bank Tokyo-Mitsubishi sebesar Rp23,7 triliun yang akan menggantikan kepemilikan Temasek Group.

Jika dibandingkan dengan negara lain, ekspansi dari kedua negara Asia Timur itu lebih menggeliat daripada lembaga keuangan negara lain yang telah eksis di Indonesia seperti Malaysia yang membawahkan dua bank, Singapura yang memiliki tiga bank tapi tidak termasuk Bank Danamon yang akan segera beralih kepemilikan, serta negara lainnya seperti Australia, Qatar, dan negara Asia Timur lainnya yakni Tiongkok.

Lantas apa yang membuat lembaga keuangan dari Jepang dan Korea begitu menggemari pasar perbankan Indonesia? Terdapat beberapa faktor yang membuat Indonesia menjadi primadona bagi investor jiran Asia Timur, bahkan hal ini juga menarik bagi investor dari negara-negara tetangga lainnya.

Faktor pertama yakni keuntungan yang berada di atas rata-rata kawasan. Hal ini direpresentasikan dari rasio net interest margin (NIM) perbankan Indonesia yang besar. Menurut data World Bank, rasio NIM bank di Indonesia berada di kisaran 5,6-5,8 persen. Angka ini berada jauh di atas negara tetangga seperti Malaysia yang hanya berkisar dua persen, Singapura di kisaran 1,5-2 persen, serta Filipina yang berkisar empat persen.

Rata-rata NIM bank di Korea berada di bawah dua persen dan Jepang bahkan berada di bawah satu persen. Dengan besarnya NIM bank di Indonesia, maknanya investor akan menikmati keuntungan yang besar dan akan mempercepat pengembalian modal. Penyebab kedua ialah biaya mendirikan bank di Indonesia yang cukup ringan.

Berdasarkan ketentuan OJK, untuk mendirikan bank dibutuhkan minimum modal sebesar Rp3 triliun. Namun, angka ini bisa lebih rendah lagi apabila investor mengakuisisi bank yang sudah eksis. Hal inilah yang dilakukan lembaga keuangan asal Korea dan Jepang. Bank Hana ketika mengakuisisi Bank Bintang Manunggal di 2007 mengeluarkan dana Rp300 miliar, APRO Financial Ltd saat mengambil alih Bank Dinar hanya perlu mengeluarkan dana Rp691 miliar dan Bank of Tokyo-Mitsubishi mengeluarkan Rp609,3 miliar saat menggantikan kepemilikan ACOM Ltd di 2007. Faktor ketiga disebabkan biaya operasional yang murah. Ringannya biaya operasional ini dapat dilihat dari pendekatan rasio cost-to-income (CIR).

Rasio ini menggambarkan perbandingan biaya dengan pendapatan operasional bank. Berdasarkan data dari Bankscope, rata-rata CIR di Indonesia berada di kisaran 58 persen. Apabila dibandingkan dengan rasio CIR di Korea yang menyentuh angka 95 persen dan Jepang yang berada di angka 86 persen tentulah berbeda jauh.

Kondisi ini menjadikan investor Korea dan Jepang seakan berlomba-lomba menanamkan modal di Indonesia karena di satu sisi menjanjikan keuntungan besar dan di sisi lain biaya yang harus dikeluarkan cukup minimalis. Pertimbangan terakhir ialah potensi pasar yang masih sangat terbuka. Penetrasi bank di Indonesia tercatat pada 2016 masih di kisaran 36 persen, sedangkan di Korea dan Jepang telah berada di atas 90 persen.

Kondisi penetrasi bank di kedua negara asal Asia Timur tersebut mengisyaratkan pasar yang sudah mulai jenuh sehingga lembaga keuangan kesulitan untuk melakukan ekspansi usahanya. Berbeda halnya dengan Indonesia, dengan angka penetrasi lembaga keuangan yang masih kecil itu menjanjikan kesempatan yang terbuka luas untuk memperluas usaha sehingga dapat meraih keuntungan yang optimal.

Dampak dari berdatangannya investor Asia Timur ini tidaklah buruk, justru berdampak positif yakni akan memperkuat struktur permodalan perbankan di Indonesia. Akan tetapi, hal yang tetap harus diwaspadai pemangku kepentingan jasa keuangan di negeri ini ialah mengenai komitmen investor-investor negara asing tersebut untuk memajukan industri perbankan Tanah Air. Komitmen tersebut menjadi penting agar kejadian saat krisis finansial di 2008 yang lalu tak terulang kembali. Yakni, ketika terjadi masalah, si pemilik modal malah melarikan uangnya ke luar negeri dan membuat nasabah di Tanah Air menjadi merana dan merugi.

M Harris Muhajir
Peneliti di Bank Indonesia



(AHL)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA