Membangkitkan Semangat BMT Nazhir Wakaf Uang

   •    Kamis, 30 Aug 2018 07:16 WIB
analisa ekonomi
Membangkitkan Semangat BMT Nazhir Wakaf Uang
Pengurus MES DKI Jakarta Sri Cahyaning Umi Salama. (FOTO: dok MES)

BERBICARA soal wakaf uang di Indonesia memang jauh dari kata ideal dan masih dalam tahap berkembang. Para ekonom Islam berbondong-bondong berusaha mencari formula yang tepat untuk membangkitkan potensi wakaf uang yang diproyeksikan memiliki kekuatan yang besar dalam membangun ekonomi umat.

Potensi wakaf sangat besar dengan manfaat yang besar. Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa dengan menggunakan dana wakaf uang dapat dijadikan sumber pembiayaan alternatif bagi usaha mikro, mengurangi kemiskinan, dan mengisi celah lembaga keuangan sosial di masyarakat berpenghasilan rendah.

Wakaf uang diproyeksikan mampu meningkatkan kesejahteraan sosial jika dikelola dengan profesional dan produktif. Konsep yang baik akan sia-sia jika eksekutornya gagal atau tidak mampu melaksanakannya.

Sejauh ini, sudah ada 187 nazhir wakaf uang yang tersebar di Indonesia dan mayoritas berbentuk koperasi syariah atau BMT. BMT sendiri merupakan lembaga keuangan mikro syariah yang memiliki harapan besar untuk dapat merangkul masyarakat melalui keanggotaannya.

Besar harapan dengan banyaknya BMT yang menjadi nazhir wakaf uang maka banyak masyarakat yang berwakaf uang. Namun kenyataannya di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Tidak sedikit dari BMT-BMT tersebut stagnan atau jalan di tempat.

Permasalahan utama ada di pihak internal dan eksternal BMT itu sendiri. Dari internal BMT sendiri masih banyak SDM BMT terutama di pengelola dan pengurusnya yang belum paham betul tentang wakaf terutama wakaf uang.

Dikarenakan pengelola dan pengurus BMT yang tidak terlalu paham mengenai wakaf uang maka akan sulit untuk mengajak anggota maupun non-anggota BMT untuk berwakaf. Dengan SDM yang terbatas terkadang menjadi kendala untuk bisa melaksanakan program-program yang telah ada.

Sementara dari pihak eksternal, masyarakat masih minim pengetahuan terkait wakaf uang. Meskipun pemerintah sendiri telah mengeluarkan regulasi terkait wakaf namun dirasa masih kurang dukungan. Regulasi saja tidak cukup. BMT nazhir wakaf uang tidak ada yang mengawasi. 
Meskipun sudah terdaftar di BWI namun banyak juga yang tidak melaporkan kinerja mereka sebagai nazhir, dan diperparah dengan tidak adanya kontrol dari BWI. Anggaran yang digelontorkan untuk BWI sangat sedikit. Itu juga yang menyebabkan perkembangan data wakaf di BWI tidak update.

Melihat kondisi ini, maka apa yang bisa kita lakukan? Tentu saja dengan membangkitkan semangat BMT sebagai nazhir wakaf uang yang profesional dengan melibatkan banyak pihak. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menentukan benchmark. Di antara BMT nazhir wakaf uang, tentunya tidak semua mengalami jalan di tempat, tentunya ada yang berhasil berjalan. Menjadikan mereka sebagai benchmark bagi BMT lainnya agar dapat meniru apa yang dilakukan BMT benchmark tersebut.

Kedua, menyesuaikan program dengan SDM yang ada. Menempatkan orang yang tepat dalam posisi yang tepat. Ketiga, memanfaatkan teknologi informasi untuk menghimpun wakaf yang dianggap lebih mudah. Revolusi industri menuju revolusi teknologi informasi juga akan mewarnai karakter dari BMT dimasa yang akan datang. (Opini)

Sri Cahyaning Umi Salama
Pengurus MES DKI Jakarta



(AHL)