Gejolak Ekonomi dan Sinyal Krisis di Dunia

Desi Angriani    •    Sabtu, 25 Aug 2018 07:11 WIB
analisa ekonomi
Gejolak Ekonomi dan Sinyal Krisis di Dunia
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

SEJUMLAH negara mulai terombang-ambing akibat panasnya ekonomi global. Ketidakpastian ini dipicu oleh berbagai kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS). Berawal dari kebijakan proteksionis dan suku bunga tinggi lantaran membaiknya ekonomi negara Paman Sam tersebut.

Kebijakan itu kemudian berlanjut dengan pemberlakuan tarif bea masuk bagi produk Tiongkok oleh Presiden AS Donald Trump. Sebagai aksi balasan, Tiongkok juga menerapkan tarif serupa sehingga genderang perang dagang antara kedua negara dengan ekonomi terkuat di dunia ini pun mulai ditabuh.

Rentetan gejolak ini membuat sejumlah mata uang negara-negara di dunia limbung. Bahkan perekonomian dan mata uang Turki, Venezuela, dan sejumlah negara di Amerika Latin rontok.

Semula lira Turki anjlok hingga sekitar 40 persen dalam kurun delapan bulan. Penyebabnya beragam mulai dari tingkat suku bunga acuan yang rendah, tingginya inflasi, melebarnya defisit transaksi berjalan hingga memburuknya hubungan Turki dengan Amerika Serikat.

Venezuela terjerembab akibat inflasi yang sangat tinggi setelah pemerintahnya meluncurkan mata uang baru yang memangkas banyak angka nol di pecahan uang lama. Hiperinflasi pun terjadi hingga level yang tidak masuk akal. Sebagai contoh satu ekor ayam bahkan dihargai hingga Rp14 juta.

Hal ini dikhawatirkan bakal menjalar ke negara-negara berkembang tak terkecuali Indonesia. Bahkan sejak pecahnya krisis di Turki, mata uang Euro melemah cukup dalam karena banyak bank disana yang memberikan kredit ke perusahaan-perusahaan dan bank-bank di Turki.

Begitu pula dengan mata uang Afrika Selatan, Argentina, Meksiko, Brasil, dan Rusia tergelincir selama sepekan terakhir karena  sangat bergantung pada modal asing, terutama dolar.




Dikutip dari Bloomberg, pada Kamis, 23 Agustus 2018, rupiah melemah 56 poin atau 0,38 persen terhadap mata uang Paman Sam. Mata uang rupee India juga melemah sebesar 0,18 persen, yuan/renminbi Tiongkok melemah 0,03 poin atau 0,18 persen diikuti mata uang Korsel Won yang tercatat melemah 0,23 persen.

Berikutnya, dolar Taiwan melemah 0,18 persen, dolar Singapura turut terhantam 0,004 poin atau 0,32 persen serta Ringgit Malaysia terdepresiasi hingga 0,20 persen. Mata uang baht Thailand turut terpukul ke level 0,13 poin dan posisi dua terbawah ditempati oleh dolar Hong Kong dan mata uang yen Jepang.

Jika berkaca pada siklus 10 tahunan di mana dunia pernah dihantam oleh krisis keuangan global 1998 dan 2008 maka gejala krisis pada 2018 mulai tampak dan mulai menghantui hampir semua negara. Jika itu terjadi, dunia bisa mengalami kiamat kecil.

Siklus 10 Tahunan

Menurut Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto, siklus sepuluh tahunan hanyalah mitos belaka lantaran kondisi krisis pada setiap negara terjadi pada level berbeda.

Misalnya, pada 1998 krisis hanya menerpa negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Gejala krisis itu tidak merembet ke negara-negara maju dan berkembang lainnya.

Sementara krisis keuangan yang menerpa Amerika Serikat pada 2008 memberikan efek domino terhadap negara-negara di dunia. Lembaga-lembaga keuangan raksasa bertumbangan akibat nilai investasi mereka jeblok sehingga berimbas ke indeks harga saham di Eropa, Asia, Australia, maupun Timur Tengah.

Di sisi lain, krisis global itu juga membawa sejumlah efek samping yang menyenangkan seperti harga minyak  dunia turun, nilai tukar menguat dan harga pangan lebih stabil.

Untuk krisis di Turki dan Venezuela, katanya gejala tersebut sudah tampak sejak lama. Hanya saja momentumnya terjadi tepat pada 2018 setelah mengalami tingkat inflasi tinggi secara tahunan disertai pukulan pengenaan tarif bea masuk oleh AS.

Namun demikian, negara-negara berkembang diminta tetap mawas diri meski krisis yang dialami Turki, Venezuela dan negara Amerika Latin lainnya tidak akan memukul terlalu dalam fundamental ekonomi. Syaratnya, menjaga defisit transaksi berjalan, inflasi  dan kestabilan nilai tukar.

"Kalau saya anggap siklusnya berbeda situasinya saya enggak percaya itu sepuluh tahunan. Tidak bisa krisis AS 2008 dibandingkan dengan Turki dan Venezuela. Mereka memang sudah tinggal menunggu bom waktu," ungkap Eko saat dihubungi Medcom.id.

Hal serupa disampaikan pengamat ekonomi Agustinus Prasetyantoko, menurutnya siklus 10 tahunan hanya kebetulan belaka. Bukan lantaran fenomena yang akan terus terjadi secara berkala dan membelenggu ekonomi  global.

Saat ini, katanya banyak negara dengan fundamental ekonomi lemah justru tidak berdaya menghadapi ketidakpastian global akibat kebijakan AS dan perang dagang. Krisis di Turki dan Venezuela pun hanya akan berdampak secara langsung kepada negara yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Untuk negara lain termasuk Indonesia, hanya akan berimbas pada pelemahan nilai tukar selama defisit transaksi berjalannya masih terjaga.

"Kalau itu enggak ya, saya kira siklus 10 tahunan mitos dan enggak bisa dibilang fenomena, kebetulan saja memang terjadi," katanya saat dihubungi Medcom.id.





Indonesia Bisa Terbebas dari Krisis

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang tidak bisa lepas dari jeratan krisis ekonomi Asia pada 1997 silam. Pada awalnya, api krisis datang dari negara gajah putih, Thailand dan merembet dengan cepat ke negara Asia Tenggara lainnya.

Pemerintah Thailand saat itu menerbitkan kebijakan nilai tukar mengambang terhadap baht guna mengamankan cadangan devisa. Sayangnya, langkah yang diambil malah gagal sehingga berdampak pada kaburnya investor-investor asing kelas kakap di berbagai negara termasuk Malaysia dan Indonesia.

Jika Thailand dan Malaysia dapat sembuh lebih cepat, Indonesia justru menjadi negara yang paling terpukul karena krisis ini tidak hanya berdampak secara ekonomi tapi juga mengubah tatanan sistem politik dan keadaan sosial.

Kala itu, nilai tukar rupiah terjun bebas, sistem pembayaran terancam macet, dan utang luar negeri menumpuk. Tercatat, rupiah pada tahun itu mencapai Rp14 ribu per USD dari sebelumnya Rp2.600 per USD. Pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13,13 persen. Inflasi keseluruhan mencapai 77,60 persen dan inflasi makanan menembus 118,4 persen.

Bangsa Indonesia pun berusaha bangkit meski bantuan yang diberikan oleh dana monoter internasional atau IMF waktu itu hanya menambah luka. Ia memberikan dosis yang tidak sesuai sehingga penyakit krisis yang diderita Indonesia pun semakin berat.

Kini fundamental ekonomi Indonesia telah kuat dan mampu bersaing kembali dengan negara-negara lainnya. Laju pertumbuhan ekonomi di kisaran lima persen, dan inflasi rendah di bawah tiga persen bahkan tercatat lebih baik dibandingkan negara-negara maju lainnya.

Namun, ketidakpastian global yang diciptakan oleh AS kembali membuat kurs rupiah menjadi tak berdaya. Dalam setahun terakhir, rupiah terus mengalami depresiasi meski tidak selemah negara-negara lainnya.

Berbagai kekhawatiran pun muncul terkait potensi krisis yang dapat melanda Indonesia seperti Turki dan Venezuela. Beberapa variabel di kedua negara tersebut hampir mirip sehingga Indonesia berpotensi ketularan.

Salah satunya pelebaran Defisit Transaksi Berjalan (CAD). Saat ini current account  defisit Indonesia telah mencapai tiga persen dari produk Domestik Bruto (PDB). Padahal pada kuartal pertama tahun ini baru menyentuh 2,5 persen.

"Ini mulai menunjukkan bahaya meski enggak separah Turki. Ini harus diantisipasi," ujar Prasetyantoko kepada Medcom.id.

Namun demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan terdapat perbedaan fundamental ekonomi yang nyata antara Indonesia dan Turki. Ia mengklaim defisi transaksi sebesar tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan inflasi yang rendah di level 3,5 persen menandakan ekonomi nasional masih terkendali. Sebab angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan defisit transaksi 2015 lalu yang mencapai di atas empat persen.

Ani -sapaan akrabnya- tetap akan mewaspadai peningkatan angka defisit transaksi serta menjaga perekonomian Indonesia melalui neraca Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan neraca Badan Usaha Milik Negara.

"Karena situasi di Turki kan sangat spesifik, tidak hanya finansial, tidak hanya ekonomi, tapi juga ada masalah security maupun politik di tingkat global," ujar Ani pada 13 Agustus 2018.




Hal serupa disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Ia meyakini krisis ekonomi di Turki maupun Venezuela tidak berdampak besar pada perekonomian dalam negeri. Pelemahan nilai tukar dianggap hanya efek sementara dari persepsi pelaku pasar.

"Sebenarnya bukan hanya rupiah, (namun) kepada semua emerging market. Hanya euforia saja menurut saya, mestinya tidak berpengaruh," kata Darmin pada 13 Agustus 2018.

Setali tiga uang, Eko Listiyanto optimistis Indonesia tidak akan bernasib serupa dengan Turki dan Venezuela selama pemerintah mampu menjaga defisit transaksi berjalan di bawah tiga persen. Caranya, untuk jangka pendek mengeluarkan kebijakan yang memitigasi impor guna mengurangi kebutuhan valas.

Dalam jangka panjang yakni menggenjot sektor ekspor dengan melakukan diversifikasi produk. Termasuk menjaga kestabilan nilai tukar demi menciptakan sentimen positif di pasar keuangan.

"Saya rasa kemungkinannya jauh masih kecil, secara rasional tidak ada alasan menyamakan Indonesia dengan Turki meski rupiah melemah cukup berat di 2018," imbuhnya kepada Medcom.id.


Mengenai tren penurunan mata uang, Eko menganggap itu sebagai dampak  sementara dari perang dagang yang tidak hanya dirasakan oleh Indonesia. "Pelemahan mata uang negara-negara enggak masalah," tegas Eko.

Bank Indonesia sebelumnya mencatat adanya kenaikan defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2018 sebesar USD8 miliar atau tiga persen terhadap PDB jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya yang sebesar USD5,7 miliar atau 2,2 persen PDB.

Peningkatan defisit transaksi berjalan ini dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas. Pada semester I-2018, defisit transaksi berjalan masih berada dalam batas aman yaitu 2,6 persen PDB.


(AHL)