Kebijakan Trump dan Kekhawatiran Industri Baja Nasional

Desi Angriani    •    Rabu, 21 Mar 2018 12:32 WIB
analisa ekonomi
Kebijakan Trump dan Kekhawatiran Industri Baja Nasional
Pekerja mengecek pipa baja 8 inci jenis electric resistant welding (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Jakarta: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak henti-hentinya memberikan kejutan melalui kebijakan yang diumumkannya. Baru-baru ini, Trump mengumumkan pemberlakuan aturan bea masuk 25 persen untuk baja dan 10 persen untuk aluminium. Keputusan itu disayangkan banyak pihak lantaran berpeluang memberikan efek buruk terhadap perdagangan dunia.

Adapun aturan ini dikecualikan bagi Kanada dan Meksiko karena kedua negara masih dalam proses negosiasi NAFTA dengan AS. Apabila kedua negara setuju dengan negosiasi ulang versi AS, bukan tidak mungkin pengecualian pengenaan tarif tersebut bisa diberlakukan.

Tidak dipungkiri, kebijakan yang ditandatangani oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, di Roosevelt Room, Gedung Putih, pada 9 Maret 2018 ini sontak membuat sejumlah negara produsen baja jadi kalang kabut. Banyak yang bereaksi keras dan tidak sedikit yang siap membalas apa yang sudah dilakukan oleh AS.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump (FOTO: AFP)

Pasalnya, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan India selaku produsen baja terbesar dunia terpaksa mencari pangsa pasar baru. Diperkirakan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia akan menjadi sasaran bagi produk mereka. Namun, kondisi itu justru mengubah peta perdagangan dari sisi baja dan alumunium.

Baca: BRI Bidik Penyaluran Kredit Kendaraan Tumbuh 20%

"Ketika kita turun USD30 miliar, USD40 miliar, USD60 miliar, dan USD100 miliar, perang dagang menyakitkan mereka dan itu tidak menyakiti kita," tegas Trump, beberapa waktu yang lalu.


Sumber: Twitter/@realDonaldTrump

Mengutip Data World Steel Association, Jepang  menghasilkan sembilan juta ton baja mentah pada Januari 2018, naik 0,3 persen dari Januari 2017. Begitu pula dengan produksi baja India yang tercatat naik 2,5 persen dari periode yang sama tahun lalu.


Sumber: Twitter/@realDonaldTrump


Meski produksi baja Tiongkok turun sebesar 0,9 persen atau  menjadi 67 juta ton dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, namun angka ini masih tetap menjadi penghasil tertinggi di dunia. Atas dasar ini, industri baja lokal mulai mewaspadai serbuan baja impor yang dikhawatirkan membuat perdagangan di Indonesia menjadi tidak adil.

Baca: Utang jadi Salah Satu Strategi Pembiayaan

Kendati demikian, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Purwono Widodo menilai, kebijakan penetapan bea masuk 25 persen terhadap baja tidak akan berdampak langsung ke industri dalam negeri karena AS bukan tujuan utama ekspor Indonesia.


Sumber: Kementerian Perdagangan

Namun dampak sekunder atau jangka menengah diprediksi bakal melanda Indonesia pada 2019. Artinya, para produsen baja terbesar dunia mulai banting harga untuk dapat masuk ke pasar ASEAN.

Baca: Gerak Emas Antam Melemah ke Rp649 Ribu/Gram

"Mau dinaikin berapa pun enggak kena karena kita enggak ekspor ke sana. Yang kita khawatirkan dampak sampingannya selama ini Tiongkok ekspor ke sana, Jepang, dan Korea. Kalau mereka ditutup, otomatis ada alokasi ekspor yang harus dialirkan ke mana," ungkap Purwono, saat ditemui Medcom.id, di Kompleks Krakatau Steel, Cilegon-Banten, Selasa, 20 Maret 2018.

Menurut Purwono Tiongkok akan menjajal pasar ASEAN saat perekonomian mereka mulai melemah. Selama itu tidak terjadi, Indonesia tak perlu khawatir. Hal itu diperkuat lantaran Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan tentang pengetatan impor baja dan penambahan pabrik baja baru.



Namun aturan-aturan mengenai Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) dan prasyarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ini harus dipastikan berjalan. "Kebetulan sekarang ini ekonomi Tiongkok bagus. Untuk ekspor ke sini saja murah. Kalau untuk impor pun sulit karena bahan baku. Dalam waktu dekat ini enggak ada dampak itu," tegasnya.

Kebijakan Trump Tidak Memengaruhi Indonesia

Sedangkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto turut menanggapi kenaikan tarif bea masuk di AS tersebut. Ia menilai, keputusan Trump tidak akan memukul ekspor baja dan aluminium dalam negeri. Pasalnya ekspor ke Negeri Paman Sam tidak signifikan.

Berdasarkan data perdagangan Februari, BPS mencatat ekspor besi dan baja dengan kode HS 72 ke AS hanya sebesar angka USD2,1 juta, atau 0,33 persen dari total impor nonmigas ke AS sebesar USD618,8 juta di periode yang sama.

Baca: Harga Emas Dunia Berakhir Melemah

Ekspor besi dan baja ke AS pun hanya 0,65 persen dari total seluruh ekspor besi dan baja Indonesia dengan nilai USD322,87 juta. Porsi ekspor besi dan baja Indonesia yakni ditujukan ke Tiongkok dengan angka USD244 juta.

"Yang jelas ekspor besi baja dan aluminium kita ke AS masih kecil," kata Suhariyanto, beberapa waktu yang lalu.



Di sisi lain, kebijakan proteksionisme yang dilakukan Presiden AS Donald Trump dikhawatirkan akan memicu aksi negara lain untuk melakukan balas dendam. Di titik ini, Suhariyanto berharap, tidak ada aksi tersebut terlebih langkah proteksionisme bisa dicabut oleh Presiden AS Donald Trump.

"Mudah-mudahan tidak ada perlombaan proteksi antarnegara karena kalau itu terjadi memang membahayakan, pedagangan global akan turun. Industrinya juga akan turun, bahan baku akan turun dan tentunya akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi global," jelas dia.

Baca: Minyak Dunia Naik Dipicu Ketegangan Timur Tengah

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyatakan akan merespons kebijakan Trump dengan memproteksi pasar domestik melalui mengenakan bea masuk tinggi atas produk-produk asing. Hal itu demi menjamin pasar domestik tetap dikuasai oleh industri dalam negeri.  

"Nah kita siapkan seperti Trump saja untuk safety atau Bea Masuk Anti Dumping (BMAD). Itu (diperlukan)," tegas Airlangga, beberapa waktu lalu.

 


(ABD)