Antara Utang dan Kekayaan Anak Indonesia

   •    Senin, 24 Dec 2018 11:02 WIB
analisa ekonomi
Antara Utang dan Kekayaan Anak Indonesia
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

KEBANYAKAN politikus ialah pendongeng yang buruk. Itulah kesimpulan yang saya tangkap  karena begitu seringnya  membaca atau mendengar sekian banyak ocehan miring dari mulut politikus mengenai perekonomian Indonesia.

Alih-alih memberikan harapan atau membangun persepsi positif, lontaran pendapat dari kalangan politikus sering kali berisi narasi buruk yang malah menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Padahal, sejatinya kepada merekalah, rakyat atau masyarakat berharap. Hampir mustahil urusan di negeri ini tidak bersinggungan dengan politik.

Narasi atau dongeng yang sedang dibangun sebagian politikus saat ini ialah kondisi perekonomian Indonesia amat suram. Bahkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengatakan ia dibisiki tim ekonominya bahwa setiap anak yang lahir saat ini langsung menanggung beban utang USD600 per anak, atau setara Rp9 juta per anak.

Itu sebuah dongeng yang saya kategorikan buruk. Mengapa? Karena cerita dongeng itu tidak disajikan dengan lengkap. Bila kita bicara utang, berarti kita juga berarti bicara kemampuan bayar ataupun kekayaan yang dimiliki sehingga kita bisa memperoleh utang.

Utang bukanlah sesuatu yang diberikan seperti proyek amal atau charity. Utang zaman now diperoleh karena ada yang mendasari. Para kreditur berhitung cermat atas kemampuan dari pengutang membayar utang agar tidak sampai ngemplang.

Bila ditelusuri, utang USD600 per anak Indonesia yang baru lahir itu diikuti kekayaan yang dimiliki anak Indonesia sebesar USD1.400 saat ini. Angka kekayaan sebesar itu diturunkan dari nilai aset milik negara sebesar Rp5.728 triliun per September 2018 yang dilaporkan Menteri keuangan Sri Mulyani dibagi jumlah penduduk Indonesia sebesar 265 juta orang.

Agar fair, utang juga harus disandingkan dengan aset. Bila itu dilakukan. dampak utang tidak perlu menimbulkan halusinasi yang ke mana-mana.

Anda akan terkejut melihat angkanya. Jika dibandingkan dengan utang saat aset milik negara dihitung pertama kali pada 2004, terjadi lonjakan kekayaan sebesar 3,5 kali dari Rp1.538 triliun menjadi Rp5.728 triliun.

Bahkan bila dibuat perbandingan utang dari masa ke masa, utang anak Indonesia pada 2004 sekitar USD325 hanya melonjak kurang dari dua kali lipat untuk menghasilkan lonjakan aset yang mencapai 3,5 kali lipat.

Bahkan bila ditambahkan dengan kekayaan negara  yang baru saja kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, yaitu Freeport, sebesar Rp2.400 triliun, angka utang USD600 itu seperti peanuts saja.

Jadi, ada baiknya kita saat ini lebih banyak mendengarkan para ekonom saja berbicara. Seperti yang dikatakan Yuval Noah Harari kepada Managing Director IMF Christine Lagarde, ekonom ialah pendongeng terbaik di dunia. Di tangan ekonom, narasi lebih enak bunyinya dan mampu mengubah dunia, bahkan peradaban.

Raja Suhud, wartawan Media Indonesia

 


(AHL)