SMI dan Reformasi Perpajakan

   •    Selasa, 29 Nov 2016 10:15 WIB
analisa ekonomi
SMI dan Reformasi Perpajakan
Yustinus Prastowo. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

In developing countries...tax reform is tax administration reform -Casanegra de Jantscher-.

Parafrase de Jantscher lebih dua dekade lalu rasanya tetap nyaring terdengar dan relevan dengan apa yang terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Bahkan ucapan itu menjadi mirip seperti kutukan, yang kadang membenarkan nasib yang kita jalani.

Saya pun hampir frustrasi mengamati perjalanan reformasi perpajakan yang terseok, menghilang, lalu sesekali muncul. Yang kerap terdengar adalah tuntutan ini itu, lebih seperti tambal sulam atas bolong-bolong yang tak menjamin kain yang akan kita pakai memiliki motif dan corak yang jelas.

Saya merasa tenang dan lega, juga bangga karena seorang Sri Mulyani yang akhirnya bersedia kembali, memenuhi panggilan Ibu Pertiwi untuk memastikan Indonesia yang dicita-citakan pendiri bangsa akan tetap tegak, lestari, dan mandiri. Bukan menambah tuntutan, tapi merumuskan tuntunan.

Baca: Sri Mulyani akan Bentuk Tim Khusus Urus Reformasi Perpajakan

Hari-hari ini saya mendapati SMI yang semakin matang, visioner, filosofis, diplomatis, dan taktis. Bukan sekadar teknokrat yang mumpuni, SMI sekaligus mempraktikkan kepemimpinan yang komplit, yang berwatak  mengabdi, melayani, dan menjadi teladan. Ucapan dan tindakannya menyatu dalam kebijakan yang dirumuskan, dilakoni, dan diyakini. Lentera pengharapan yang sengaja dia taruh di ujung lorong, supaya memandu semakin banyak orang untuk menuju. Dengan bekal kepercayaan penuh.

SMI mampu menginjeksikan visi ke dalam peta jalan reformasi perpajakan yang compang camping, sarat agenda yang remang, berkait kelindan dengan berbagai kepentingan. Tinggal proses inklusif-partisipatif agar reformasi perpajakan melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan dan kelak sistem yang dibangun bersama akan kokoh oleh kuat-biasa yang berkhidmat.




Reformasi yang dipandu oleh pertanyaan dasar tentang mengapa kita harus berubah (why, policy level), tentang apa yang harus dirumuskan dan lakukan (what, regulation level), dan bagaimana mencapai visi itu (how, administrative level). Ketiganya adalah dimensi yang musti diracik dalam satu resep solusi.

Reformasi pajak yang merupakan kristalisasi ikhtiar menjadikan pajak sebagai ongkos sebuah peradaban adiluhung (Wendell Holmes jr). SMI telah mematri jejak-jejak yang patut diikuti dan didukung. Ia mempraktikkan kebajikan kuno, Qualis rex, talis grex, menjadi pemimpin, jadilah rakyat. Menjadi menteri, resapi lah rasa dan karya para pelaksana.

Selamat memulai perjalanan panjang yang penuh tantangan dan ujian. Kiranya semangat Julius Cesar saat menyeberangi sungai Rubicon layak kita gaungkan kembali:"Kita akan menyeberang dan tak pernah berharap akan kembali!"

Bersama Sri Mulyani, nakhoda kapal besar "Fiskal Indonesia" kita berlayar. Tak perlu bimbang dan ragu, katakan ya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.

Yustinus Prastowo
Direktur Eksekutif CITA (Center for Indonesia Taxation Analysis)



(AHL)