Mass Rapid Transit

Suryopratomo    •    Rabu, 08 Mar 2017 10:44 WIB
analisa ekonomi
Mass Rapid Transit
Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

PEMBANGUNAN proyek moda raya terpadu (mass rapid transit/MRT) di Jakarta sudah mencapai 66 persen. Terowongan dari Patung Pemuda hingga Bundaran Hotel Indonesia sudah tersambung sepenuhnya. Presiden Joko Widodo meminta pembangunan tahap dua dan tahap tiga dipercepat mulainya.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono menjelaskan tidak ada teknologi baru dalam pembangunan MRT, termasuk pembuatan terowongan. Kementerian PU-Pera membuat terowongan dengan teknologi yang sama dalam membangun sodetan dari Sungai Ciliwung ke Kanal Banjir Timur.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari pembangunan MRT? Menurut Menteri Basuki, manajemen pengelolaannya. Pembangunan MRT dilakukan dengan sistem yang rapi. Kendaraan proyek tidak keluar-masuk sehingga memperparah kemacetan. Jalan yang terpakai untuk proyek ditata tanpa harus mengurangi kenyamanan berkendara. Ratusan ribu ton tanah hasil pembangunan terowongan tidak ada satu pun yang tercecer di jalan.




Manajemen pengelolaan inilah yang diharapkan Menteri PU-Pera bisa dipelajari dan diterapkan dalam pembangunan infrastruktur yang lain. Perusahaan kontraktor dalam negeri harus bisa melakukan yang sama ketika membangun berbagai infrastruktur. Standar pengelolaan proyek harus bisa sama baiknya.

Inilah yang menjadi tantangan kita. Pengerjaan proyek MRT sebenarnya dilakukan orang Indonesia. Hampir 95 persen yang mengerjakan proyek ialah bangsa kita. Hanya supervisornya yang berasal dari Jepang. Namun, hasilnya bisa berbeda jauh dengan proyek yang sepenuhnya dilakukan kontraktor kita sendiri.

Saya jadi teringat cerita Bob Hasan tentang Jenderal Achmad Yani pada 1950-an. Sepulang dari mengikuti pendidikan militer di Fort Leavenworth, AS, Letkol Yani mulai gandrung main golf. Satu-satunya lapangan yang ada saat itu ialah Lapangan Golf Rawamangun.

Saat itu, Rawamangun masih dikelola orang Belanda. Sebelum diperkenankan main, sebagai calon anggota klub yang baru, Letkol Yani diminta mengikuti tes tertulis tentang tata cara bermain golf. Ternyata Yani tidak lulus sehingga harus mengikuti tes ulangan.

Karena merasa sebagai bangsa merdeka, Letkol Yani meminta Bob Hasan untuk mengganti pengelola. Lapangan Golf Rawamangun tidak perlu dikelola lagi oleh orang-orang Belanda, tetapi diambil alih oleh bangsa Indonesia sendiri. Begitu dikelola orang Indonesia, para caddy ternyata merasa tidak perlu lagi mengikuti aturan orang Belanda. Mereka tidak lagi datang ke lapangan dengan menggunakan seragam dan merasa tidak perlu juga memakai sepatu.




Bangsa Indonesia bukan tidak mengenal disiplin. Kalau sedang bepergian ke luar negeri, orang Indonesia sangat taat kepada aturan. Namun, ketika kembali ke Indonesia, kita menjadi pribadi yang lain dan berubah menjadi orang yang tidak peduli pada aturan.

Persoalan pada kita ialah ketaatan kepada sistem. Hal itu sepertinya mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Kita cenderung menganggap enteng dan tak peduli kalau bangsa sendiri yang mengaturnya.

Kelemahan lain pada kita ialah kemauan untuk memahami persoalan secara detail. Kita jarang mau mendalami mengapa sebuah sistem itu bisa berjalan dengan baik. Kita hanya melihat dari jauh dan mau mendengar yang enak-enak saja. Ketika berkaitan dengan hal-hal yang lebih sulit, kita cenderung menghindar.

Akibatnya, kultur yang terbangun cenderung berprinsip 'bagaimana nanti'. Jarang kita mau berpikir 'nanti bagaimana'. Kita baru tergagap ketika kemudian muncul persoalan.

Belajar dari pengalaman pembangunan MRT, kita harus mau berubah. Kita tidak boleh menggampangkan masalah. Kita harus mengantisipasi berbagai persoalan jauh ke depan. Bahkan kita harus mampu mengidentifikasi berbagai masalah yang akan terjadi sehingga hal-hal yang akan merugikan bisa diantisipasi.

Terutama pemimpin harus mampu melihat persoalan secara lebih holistis dan antisipatif ke depan. Apalagi tugas pemimpin ialah menyelesaikan persoalan, bukan hanya membuat masalah dan kemudian tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. (Media Indonesia)


(AHL)

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional
Sevel Tutup

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional

5 days Ago

Bangkrutnya usaha 7-Eleven (sevel) ditangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) meninggalkan ban…

BERITA LAINNYA