Strategi Bank Syariah di Era Disrupsi

   •    Jumat, 07 Sep 2018 12:32 WIB
analisa ekonomi
Strategi Bank Syariah di Era Disrupsi
Ketua Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Internasional, Masyarakat Ekonomi Syariah Ronald Rulindo. (FOTO: dok MES)

SAAT ini disrupsi menjadi topik yang hangat diperbincangkan di dunia bisnis. Disrupsi membawa perubahan drastis dalam berbisnis dengan membawa cara-cara baru yang mungkin baru bisa diterapkan dimasa yang akan datang tetapi mampu dipraktekkan pada masa kini sehingga membuat perubahan drastis dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Kehadiran financial technology (fintech) merupakan salah satu contoh disrupsi di dunia perbankan. Orang tidak perlu susah-susah lagi ke bank untuk mendapatkan pinjaman, cukup menggunakan handphone di tangan dan done! Dalam waktu yang tidak lama pinjaman dikabulkan. Masyarakat yang ingin berinvestasi juga tinggal buka handphone, pilih berbagai pilihan investasi, cocok, setuju, dan done! Semua bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Lalu bagaimana dengan bisnis perbankan syariah di era disrupsi? Menarik memang. Sebenarnya, model bisnis perbankan syariah seharusnya adalah model yang membawa disrupsi pada bisnis perbankan konvensional. Bagaimana tidak, ketika orang hanya bisa menabung pada bank konvensional, mereka dapat memilih berbagai opsi investasi dengan peluang keuntungan yang lebih besar sesuai dengan ketertarikan dan selera risikonya, lewat bantuan bank syariah.

Di sisi lain, ketika peminjam pada bank konvensional terikat pada pinjaman plus bunga, masyarakat yang ingin mendapatkan dana untuk berbisnis dapat berbagi kepemilikan atas usaha yang mereka jalankan dengan investor melalui jasa bank syariah. Baik masyarakat dan investor dapat maju bersama meraih kesuksesan dibandingkan dengan bisnis perbankan konvensional yang keuntungan hanya bisa dipastikan pada satu pihak saja.

Hanya saja model bisnis perbankan syariah yang futuristik tersebut gagal berkembang. Entah karena tidak memahami potensi bisnis yang ada atau memang tidak memiliki keinginan untuk membawa perubahan, bank syariah pada prakteknya hanya menawarkan produk yang hampir serupa dengan produk bank konvensional.

Dengan alasan tidak ada masyarakat yang mau berbagi rugi, bank syariah hanya menggunakan akad mudharabah sebagai akad simpanan, bukan investasi. Padahal, pada saat bersamaan, banyak pihak yang tertarik berinvestasi pada reksa dana yang mana investor, sama seperti keharusan pada akad mudharabah, harus menanggung sendiri kerugian investasinya.

Lebih ekstrem lagi, di luar negeri terutama di Silicon Valley, istilah Angel Investor diperkenalkan karena banyak investor yang mau mendanai proyek dengan kemungkinan kerugian yang cukup besar. Selain itu, Venture Capital juga banyak ditemukan diberbagai belahan dunia.

Lebih dari seperempat abad setelah kehadiran industri perbankan syariah di Indonesia, fintech  justru mempraktekan model bisnis yang mirip dengan mudharabah. Sebaliknya, dengan produk yang mirip produk perbankan konvensional, industri perbankan syariah kesulitan untuk memperbesar market share-nya sehingga terus berkutat di angka lima persen.




Bertahan di Era Disrupsi

Jika bank syariah tidak mau mengalami kegagalan dalam era disrupsi seperti yang dialami bank konvensional di negara lain, bank syariah harus mulai mencoba memperkenalkan produk dan jasa keuangan baru yang sejalan dengan semangat disrupsi. Dengan menggunakan pendekatan yang pernah disampaikan oleh Profesor Rheinald Kasali, paling tidak ada lima hal yang harus dilakukan oleh bank syariah.

Pertama, disrupsi harus membawa penghematan. Artinya, bank syariah harus menghasilkan produk biaya rendah. Dalam hal ini produk dan jasa keuangan syariah yang baru harus mampu mengurangi cost of fund penyaluran dana secara keseluruhan sehingga mampu bersaing dengan perbankan konvensional.

Pengurangan biaya ini dapat dihasilkan dengan bantuan teknologi, dengan menciptakan platform yang mampu menyalurkan pembiayaan investasi langsung dari investor ke korporasi atau pun masyarakat umum dengan proses yang efektif dan efisien.

Kedua, produk dan jasa bank syariah harus memiliki kualitas lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, bank syariah harus dapat menyediakan pilihan investasi, baik itu dengan akad mudharabah muqayyadah ataupun mudharabah mutlaqah yang sesuai dengan selera investasi masyarakat yang sejalan dengan ekspektasi risiko dan peluang keuntungannya. Proses pemilihan investasi harus dibuat transparan sehingga berbagi keuntungan dan saling menanggung risiko tersebut benar-benar dapat diwujudkan.

Ketiga, produk bank syariah harus dapat menciptakan pasar baru. Poin ini mungkin tidak terlalu sulit karena inkusli keuangan secara umum masih sangat terbatas di Indonesia. Pasar keuangan syariah, terutama untuk masyarakat mikro dan di daerah pedalaman masih sangat besar. Platform yang dibangun harus mampu menjangkau dan memudahkan masyarakat mengakses bank syariah.

Keempat, produk bank syariah harus lebih mudah diakses dan dijangkau. Poin ini sejalan dengan poin sebelumnya. Platform yang diciptakan harus bisa diakses darimana saja, termasuk dari luar negri. Hal ini tidak sulit diwujudkan di era teknologi informasi seperti saat ini. Membuka akses pada investor luar akan sangat membantu memperbesar pangsa pasar bank syariah karena banyak investor luar negeri tertarik berinvestasi di Indonesia.

Kelima, disrupsi membuat sesuatu menjadi lebih smart, menghemat waktu dan lebih akurat. Dalam hal ini, proses penyaluran investasi oleh bank syariah tidak boleh ribet dan kompleks. Untuk itu, platform yang diciptakan harus mudah digunakan oleh semua kalangan. Jangan sampai calon investor tidak jadi berinvestasi karena aplikasi yang susah dimengerti dan koneksi yang lama dan tidak efektif.

Jika industri perbankan syariah mampu menciptakan platform serta produk dan jasa yang dimaksud sesuai dengan lima kriteria tersebut, bank syariah diharapkan tidak hanya mampu bertahan di era disrupsi, tetapi juga mampu memperkuat posisinya dalam industri keuangan di Indonesia dan di dunia internasional.

Ronald Rulindo, PhD*
*Ketua Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Internasional, Masyarakat Ekonomi Syariah



(AHL)