Rupiah Pagi Melemah di Rp13.975/USD

Angga Bratadharma    •    Jumat, 08 Feb 2019 09:02 WIB
kurs rupiah
Rupiah Pagi Melemah di Rp13.975/USD
Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)

Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat pagi atau di akhir pekan terpantau melemah tipis dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp13.972 per USD. Masih derasnya arus modal yang masuk diharapkan mendukung rupiah untuk meredam keperkasaan USD.

Mengutip Bloomberg, Jumat, 8 Februari 2019, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp13.975 per USD. Nilai tukar rupiah pada pagi ini bergerak di kisaran Rp13.975 hingga Rp13.985 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.781 per USD.

Sementara itu, kurs USD menguat terhadap euro pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan yang memburuk untuk kawasan zona euro dan munculnya kekhawatiran baru atas ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Adapun indeks USD, yang melacak greenback versus euro, yen, pound Inggris dan tiga mata uang utama lainnya, naik sebanyak 0,12 persen menjadi 96,505, kenaikan untuk sesi keenam berturut-turut.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 220,77 poin atau 0,87 persen, menjadi 25.169,53 poin. Indeks S&P 500 turun 25,56 poin atau 0,94 persen, menjadi 2.706,05 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 86,93 poin atau 1,18 persen, menjadi 7.288,35 poin.

Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 utama ditutup lebih rendah, dengan sektor energi jatuh 2,13 persen, memimpin penurunan. Saham-saham teknologi utama AS atau yang disebut kelompok FAANG, yakni Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan induk perusahaan Google, Alphabet, semuanya menurun. Sektor teknologi merosot 1,44 persen.

Komisi Eropa pada Kamis 7 Februari memangkas perkiraan pertumbuhan 2019 menjadi 1,3 persen dibandingkan dengan 1,9 persen pada 2018. Prakiraan pertumbuhan untuk Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol juga dipangkas. Proyeksi tersebut menyalakan kembali kekhawatiran bahwa ekonomi global mungkin akan melambat.


(ABD)