Wawancara Khusus Dirut BEI

Bos Bursa: Antara Karier & Keluarga Harus Seimbang

Dian Ihsan Siregar    •    Minggu, 21 Aug 2016 11:13 WIB
pasar modal
Bos Bursa: Antara Karier & Keluarga Harus Seimbang
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio saat berada di ruang kerjanya. (FOTO: MTVN/Dian Ihsan Siregar)

Metrotvnews.com, Jakarta: Keluarga menjadi pondasi utama bagi kehidupan seseorang. Kendati terpisah jauh, bukan alasan untuk tidak berkomunikasi dengan keluarga tercinta di rumah.

Setidaknya, hal tersebut diterapkan oleh Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio. Antara karier dan keluarga harus berjalan seimbang, karena baginya bekerja adalah untuk keluarga. Oleh karena itu, dirinya tidak pernah merasa kerepotan membagi waktu antara pekerjaan dengan keluarganya. Karena, dia tidak ingin memilah-milah di antara kedua hal tersebut.

"Saya tidak bagi. Sama, sambil kerja saya telepon istri. Sambil kerja, anak siang makan kemari. Enggak ada dikotomi antara saya dan keluarga. Kalau saya keluar kota, kadang-kadang istri ikut. Kalau di rumah sedang kerja, anak saya ikut ngobrol. Kita kerja buat keluarga, artinya bareng keluarga, tanggung jawab terhadap keluarga, baru sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Jadinya ini harus dibarengi. Saya tidak setuju ada hal bagaimana bagi waktu. Sekarang ada telepon, ada internet, makan siang waktu bareng. Yang penting quality time, ada Sabtu minggu," jelas Tito, saat wawancara khusus dengan Metrotvnews.com, seperti diberitakan Minggu (21/8/2016).

Pria kelahiran Bogor, 5 Juli 1955 tersebut mengungkapkan, pekerjaannya di bursa adalah karier utamanya sebagai seorang profesional. Saat ini, dirinya pun tak bisa sembarangan alih profesi dan mempertanggungjawabkan tugasnya sebagai pengampu pasar modal Indonesia.

"Enggak bisa setelah dari bursa tahu-tahu dan tiba-tiba jadi perusahaan sekuritas. Ini ultimate karir, tapi Tuhan yang menunjukkan arahnya, show must go on saja lah, karena itu yang membuat orang terus hidup. Orang hidup karena kerja, ada kerja. Kalau saya tidur enggak kerja mati sebentar sekali," bebernya.

Ambisi di pasar modal Indonesia

Selama menggeluti kariernya sebagai profesional, baik di pasar modal maupun korporasi, Tito mengaku tidak memiliki ambisi. Menurutnya, apa yang dikerjakannya saat ini adalah tanggung jawab.

"Setiap orang punya lima tanggung jawab utama. Pertama tanggung jawab ke keluarga, kita terjemahkan anak saya harus diberi pendidikan sekolah, lingkungan lebih mempengaruhi dia. Kedua, tanggung jawab ekonomi. Nah ini story saya untuk ekonomi, ini yang saya lakukan di sini untuk ekonomi, menyumbang dalam skala apa pun untuk pemerintah," tegasnya.

Ketiga, sambung pria yang sempat mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia (UI) ini adalah tanggung jawab sosial. Bagi dia, dirinya akan membantu satu orang di lingkungan yang berjarak satu kilometer (km) dari dia.

"Kalau nyari pegawai lingkungan saya, nyari supir lingkungan saya, kasih makan bulan puasa lingkungan saya. Kalau setiap orang bertangggung jawab satu kilometer di lingkungannya saja sudah cukup," tuturnya.

Keempat tanggung jawab politik. Dalam konteks ini, dirinya hanya sekadar berpartisipasi, dan bukan menjadi pemain politik. Kelima, tanggung jawab budaya. Terkait hal tersebut, Tito saat ini sedang membuat tulisan mengenai golok.

"Satu lagi, tanggung jawab utama ke Tuhan, itu hanya Tuhan dan saya, bukan orang lain. Itu lima tanggung jawab kita sebagai manusia. Jadi bursa ini adalah tanggung jawab ekonomi saya. Enggak ada ambisi, kalau ambisi gua ingin jadi presiden," pungkasnya.


(AHL)

Menko Darmin Jamin Indonesia Tidak Tambah Utang
Bank Dunia Dorong Investasi

Menko Darmin Jamin Indonesia Tidak Tambah Utang

1 hour Ago

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam pidatonya berjanji bakal mengupayakan berbagai investasi…

BERITA LAINNYA