Angkat Rupiah, BI Harus Naikkan Suku Bunga

Desi Angriani    •    Senin, 12 Mar 2018 17:56 WIB
kurs rupiah
Angkat Rupiah, BI Harus Naikkan Suku Bunga
Rupiah (MI/ROMMY PUJIANTO).

Jakarta: Kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikkan tingkat suku bunga acuan pada Maret ini menjadi salah satu sumber pelemahan nilai tukar rupiah. Akibatnya, pelaku pasar melakukan penyesuaian dan mengubah ekspektasinya terhadap mata uang Garuda.

Ekonom Senior UGM Tony Prasetiantono mengatakan penurunan suku bunga BI 7 Day Repo Rate hingga di level 4,25 persen juga menjadi penyebab mata uang rupiah semakin terdepresiasi.

"Yang paling krusial soal suku bunga, jadi suku bunga memang berhasil diturunkan dalam waktu cukup cepat di level 4,25 persen, mentok enggak mungkin diturunkan terus," kata Tony saat ditemui di Gedung Metro Tv, Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Menurutnya, Bank Indonesia sudah tak memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga. Jika itu terjadi maka pelaku pasar akan berlomba-lomba memindahkan kekayaannya ke mata uang dolar.

Semestinya bank sentral secara perlahan menaikkan suku bunga ke level 4,5 persen meskipun sudah melakukan intervensi terhadap pasar. Dengan begitu, kata Tony mata uang Garuda dapat kembali perkasa.

"Itu nanti akan timbulkan orang kaya atau pemilik rupiah memindahkan kekayaanya ke dolar jadi dengan kata lain sudah waktunya dikoreksi suku bunga dinaikkan pelan-pelan 4,5 persen," imbuh dia.

Tony menambahkan rupiah terdepresiasi ke bawah karena di saat yang bersamaan pemerintah juga tengah membayar utang. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, utang negara mencapai Rp3.958,66 triliun pada akhir Januari 2018. Angka ini meningkat sekitar Rp19,96 triliun dari posisi utang pada Desember 2017 yang sebesar Rp3.938,7 triliun.




"Salah satu rupiah kenapa depresiasinya relatif besar juga pada saat yang sama kita bayar utang," pungkasnya.


(SAW)