Proyek LRT ini Seratus Persen Pinjaman

Fetry Wuryasti    •    Rabu, 10 Jan 2018 09:40 WIB
lrtratu prabu energiproyek lrt
<i>Proyek LRT ini Seratus Persen Pinjaman</i>
Dirut PT Ratu Prabu Energi Tbk Burhanuddin Bur Maras. (FOTO: MI/Fetry Wuryasti)

DI tengah berjalannya proyek pembangunan light rail transit (LRT) yang dikerjakan Adhi Karya, publik dikejutkan dengan kemunculan PT Ratu Prabu yang ingin membangun LRT sepanjang 400 km di Jakarta dengan nilai Rp405 triliun. Sejauh mana keseriusan perusahaan yang juga emiten di bursa itu merealisasikan rencananya, wartawan Media Indonesia Fetry Wuryasti mewawancarai Dirut Ratu Prabu Energi Tbk Burhanuddin Bur Maras di kantornya, kemarin. Berikut petikannya.

Ide membangun light rail transit (LRT) itu datang dari mana?

Sebetulnya saya mulai mempelajari ini sejak lima tahun lalu, mengingat kondisi jalan yang sudah cukup macet. Saya berbicara pada orang Australia, Amerika. Kata mereka yang paling cepat pembangunannya itu LRT. Saya pelajari, di Amerika Serikat seperti di San Francisco, orang naik LRT ke airport. Setelah saya hitung, ini pendapatannya cukup besar. Bila saja per orang membayar USD1,5, pulang pergi artinya USD3 dalam satu hari. Bila ada lima juta orang melakukan hal yang sama, akan menjadi USD15 juta per hari dikali 365 hari menjadi USD5,4 miliar dalam setahun.

Jadi modal saya USD8 miliar bisa kembali dalam enam tahun. Asumsi tiket Rp20 ribu dalam kajian. Tentu ada ongkos operasi dan segala macam. Kalau saya untung 30 persen saja setahun, enam tahun modal sudah kembali semua. Itu perhitungan saya. Untuk meyakinkan orang bank, harus oleh konsultan yang hebat. Saya undang tiga konsultan dari AS, Eropa, dan Australia. Akhirnya pilihan jatuh pada Bechtel Infrastructure dari Bechtel Corporation.

Baca: Ratu Prabu Energi tidak Bangun LRT

Apa hasil kajiannya?

Kesimpulan mereka ada tiga. Pertama, sistem LRT bisa dipasang di Jakarta di atas jalan yang sudah ada. Kedua, secara keuangan, bisa kembali modal. Rate of return of investment-nya 10,9 persen, sehingga bank tertarik karena keuntungan cukup besar. Kalau utang, saya sudah siapkan dengan bunga pinjaman komersial sekitar 6-7 persen. Tetapi melalui pinjaman di Tiongkok dengan soft loan pada Exim Bank, bunga hanya 2-4 persen. Kesimpulan ketiga, dia menganjurkan agar sistem LRT harus dibangun di Jakarta secepat mungkin. Karena dalam tempo 10 tahun lagi, kondisi jalanan menjadi tidak bergerak dengan penuhnya kendaraan. Kemudian saya mencari sumber dana, menawarkan ke tiga negara, yaitu Jepang, Korea, dan Tiongkok. Namun, Tiongkok menyanggupi lebih dulu secara tertulis dan menyediakan dana mereka dalam jangka waktu seminggu.

Kenapa Tiongkok antusias?

Mereka telah berbicara dengan Exim Bank dan mereka mendukung. Kata mereka, kalau Exim Bank meminjamkan uang, dia tidak perlu equity atau modal dari saya. Jadi no capital. Semua pinjam 100 persen. Sebetulnya proyek ini untungkan kedua belah pihak, Indonesia dan Tiongkok. Negara itu baru saja menyelesaikan proyek rel kereta ribuan kilometer sepanjang Tiongkok-Beijing-Mongolia hingga Tibet sehingga ketika proyek selesai, dikhawatirkan ada PHK massal dan peralatan terbengkalai. Kalau dapat proyek ini, mereka tidak jadi PHK massal.

Yang akan menggarap atas nama Ratu Prabu Energi?

Iya Ratu Prabu Energi yang memulai proyek ini. Nanti kami akan bentuk perusahaan baru. Istilahnya itu konsorsium. Nanti apabila pemerintah bilang Jakpro harus ikut, KAI harus ikut, baru kami bagi bagaimana caranya.

Baca: Tanpa Modal, Ratu Prabu Gandeng Kontraktor Tiongkok untuk Garap LRT

Pihak pemerintah mana saja yang sedang diajak bicara?

Kementerian Perhubungan, Wagub DKI, Bappenas. Tanggapan mereka positif. Kami sedang usahakan Kemenko Bidang Maritim.

Sejauh ini sudah mendapat restu dari Pemerintah Indonesia?

Belum mendapat restu. Penerimaan mereka secara verbal, setuju. Tapi kami perlu secara tertulis. DKI butuh persetujuan Menhub hingga Menko Maritim. Pihak Tiongkok mau pelajari dan terus berdiskusi dengan Kemenhub.

Burhanuddin Bur Maras
Dirut PT Ratu Prabu Energi Tbk


 


(AHL)