Penguatan Imbal Hasil SUN Bertahan

Angga Bratadharma    •    Kamis, 18 May 2017 10:49 WIB
surat utangobligasi
Penguatan Imbal Hasil SUN Bertahan
Seorang petugas menata tumpukan uang kertas (MI/USMAN ISKANDAR)

Metrotvnews.com, Jakarta: Imbal hasil negara maju mengalami penurunan yang cukup tajam dan penguatan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bertahan. Imbal hasil global, terutama obligasi negara maju, mengalami penurunan drastis merespons kisruh Pemerintahan Trump yang semakin menekan ekspektasi pertumbuhan AS ke depan.

"Ditandai dengan anjloknya bursa AS, UST terus menguat harganya menandakan adanya peralihan permintaan dari aset yang lebih berisiko," kata Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Kamis 18 Mei 2017.

Dari domestik, SUN masih kuat walaupun mulai tertahan. Harapan kenaikan peringkat utang oleh S&P saat ini masih tinggi tetapi secara fundamental di mana saat ini ruang penguatan memang sudah terbatas apalagi dengan Bank Indonesia (B) yang cenderung waspada terhadap potensi inflasi yang melebihi target serta ekspektasi kenaikan FFR target.

"Fokus tertuju pada pengumuman RDG BI sore nanti yang diperkirakan masih mempertahankan BI RR rate di 4,75 persen," ungkap Rangga.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat (USD) terus tertekan dan komoditas semakin pulih. Kombinasi antara buruknya rilis hasil keuangan perusahaan AS di kuartal I-2017 serta kisruh Pemerintahan Trump semakin menekan dolar index padahal saat ini ekspektasi kenaikan FFR target telah meningkat menyusul the Fed yang justru optimistis terhadap perekonomian AS.

"Harga komoditas seperti minyak mentah dan emas semakin menguat. Malam nanti ditunggu initial jobless claims AS yang diperkirakan naik dan menjadi faktor tambahan untuk USD yang lebih lemah," kata Rangga.

Sementara itu, BI RR rate diperkirakan tetap dan tekanan pelemahan rupiah bisa mereda. Rupiah melemah di perdagangan Rabu sejalan dengan anjloknya IHSG serta depresiasi kurs di Asia terhadap USD. Namun imbal hasil SUN masih turun padahal ekspektasi inflasi meningkat jelang Ramadan, seakan menegaskan ekspektasi kenaikan peringkat oleh S&P, masih cukup tinggi.

Tularan sentimen negatif dari bursa AS diperkirakan menjaga tekanan jual di IHSG. Akan tetapi, optimisme yang justru meningkat di pasar obligasi serta perbaikan harga komoditas, bisa menjaga rupiah untuk tidak melemah terlalu dalam, apalagi dolar index terus anjlok.

 


(ABD)