BEI Kaji Emiten yang Berpotensi Delisting

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 12 Oct 2017 12:59 WIB
delisting
BEI Kaji Emiten yang Berpotensi <i>Delisting</i>
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat. (FOTO: MTVN/Dian Ihsan Siregar)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang mengkaji beberapa perusahaan terbuka (emiten) yang berpotensi ‎di-delisting dari papan pasar modal Indonesia. Penghapusan saham tersebut dilakukan karena adanya beragam masalah yang menimpa emiten.

"Ada beberapa (emiten‎) yang saat ini sedang proses kajian (review). Terhadap perusahaan-perusahaan ini, bursa juga sudah melakukan komunikasi," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat kepada Metrotvnews.com, Kamis 12 Oktober 2017.

Meski demikian, Samsul enggan menyebutkan nama dan jumlah emiten yang sedang dikaji oleh bursa. Salah satu masalah yang dilakukan emiten yakni belum menyampaikan laporan keuangan kepada BEI.

"Ya berbagai macam masalah, salah satunya itu (emiten belum menyampaikan laporan keuangan)," tutur Samsul.

Salah satu emiten yang belum lama ini telah di-delisting oleh ‎bursa adalah PT Inovisi Infracom Tbk (INVS). Manajemen Inovisi Infracom telah mengajukan keberatan atas keputusan bursa yang menghapus pencatatan sahamnya dari papan perdagangan pasar modal.

Direktur Inovisi Infracom, Pantur Silaban menyebutkan, perusahaan sudah menyelesaikan penyampaian laporan keuangan 2014 pada 30 Agustus 2017. Sedangkan untuk laporan keuangan 2015 dan 2016 selambat-lambatnya disampaikan pada 6 Oktober 2017.

Penundaan penyampaian laporan keuangan untuk 2014, 2015, dan 2016 disebabkan adanya perubahan manajemen perseroan pada 7 Maret 2017. ‎Laporan keuangan tersebut memang menjadi salah satu alasan bursa memberi force delisting kepada saham Inovisi Infracom yang diumumkan pada 22 September 2017 lalu.

Meski demikian, bursa dengan tegas menolak permohonan manajemen Inovisi Infracom agar sahamnya tidak dihapus. Sebab, keputusan otoritas bursa sudah mencapai kesepakatan final.

Samsul menyebutkan, dirinya hanya menjalankan tugas sebagai wasit di industri pasar modal, sehingga menjatuhkan hukuman bagi emiten yangtidak patuh kepada persyaratan sebagai perusahaan terbuka (emiten), salah satunya Inovisi yang tidak memenuhi persyaratan penyampaian laporan keuangan sejak 2014 sampai saat ini.

"Perusahaan Inovisi itu masuk dalam review kita untuk perusahaan yang tidak memenuhi syarat lagi untuk dicatatkan," kata Samsul.

Bursa pun sudah menjalankan komunikasi berkali-kali terhadap Inovisi, bahkan sampai menyinggung kata-kata delisting dari bursa. Tapi, sampai keputusan bulat tersebut diumumkan, namun manajemen INVS tidak memberikan itikad dan kesan yang baik kepada bursa.

"Prosedurnya Bursa melakukan komunikasi dengan mereka, meminta mereka untuk berdiskusi kepada manajemen perusahaan. Nah sampai saat ini perusahaan tidak menunjukkan itikad baik. Ini bukan langkah seketika," jelas Samsul.

Proses delisting Inovisi, lanjut dia, sudah memakan waktu yang cukup panjang, bukan berarti saham INVS tiba-tiba langsung ditendang dari bursa. ‎"Ini melalui prosedur yang cukup panjang. Kita sudah kirim surat berkali-kali mau di-delist, tapi kan diam saja. Tiba-tiba kita delist kemudian ngomong, artinya ini enggak fair juga," pungkas Samsul.


(AHL)