IHSG dan Rupiah Kompak Melemah

Desi Angriani    •    Jumat, 22 Feb 2019 10:58 WIB
ihsgkurs rupiahbeipasar modal
IHSG dan Rupiah Kompak Melemah
Illustrasi. Dok : AFP.

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan hari ini melemah ke zona merah. Hal tersebut sejalan dengan nilai tukar rupiah yang melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG turun 12,56 poin atau 0,19 persen ke level 6.525,22 pada perdagangan Jumat 22 Februari 2019. Volume perdagangan mencapai Rp154,50 miliar dari 220,39 juta saham yang diperdagangkan. Tercatat 84 saham menguat, 57 saham melemah, dan 122 saham stagnan.

Mayoritas sektor penggerak IHSG melemah, dengan sektor industri dasar memimpin pelemahan sebesar 0,8 persen. Sementara sektor infrastruktur naik 0,1 persen.

Namun Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi memprediksi penguatan IHSG hari ini. Secara teknikal pergerakan IHSG kembali lebih kuat di atas rata-rata nilainya selama 20 hari (MA20).
 
"Diperkirakan IHSG masih akan bergerak menguat pada perdagangan akhir pekan dengan range pergerakan 6.500-6.600," sebut Lanjar.
 
Beberapa saham yang bisa dicermati investor hari ini adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Perusahan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Sementara itu rupiah pagi ini berada di level Rp14.070 per USD. Angka ini meningkat dari posisi perdagangan Kamis 21 Februari kemarin yang berada di Rp14.060 per USD.

Mengutip Yahoo Finance, rupiah melemah tipis 15 poin dengan berada pada Rp14.073 per USD. Bank Indonesia juga mencatat mata uang rupiah mengalami penurunan dengan berada pada Rp14.079 per USD.

Pelemahan rupiah ini berbanding terbalik dengan responds keputusan Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI 7-Days Repo Rate) di level enam persen. Dengan begitu, suku bunga acuan di level enam persen sudah bertahan selama empat bulan, dari November 2018.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah akan bergerak cenderung stabil sesuai dengan mekanisme pasar pada tahun ini meski masih terlalu murah (undervalue). Berdasarkan catatan otoritas pada kuatal IV-2018, secara point to point rupiah menguat sebesar 3,63 persen dibandingkan dengan level akhir kuartal III-2018.

"Kalau ditanya apakah rupiah masih undervalue? Iya. Oleh karenanya tentu saja karena undervalue itu, kemungkinan-kemungkinan rupiah menguat itu masih terbuka," kata Perry dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019.



 


(Des)