Gerak Rupiah Diperkirakan Tertekan Penguatan USD

Angga Bratadharma    •    Selasa, 05 Dec 2017 09:45 WIB
kurs rupiah
Gerak Rupiah Diperkirakan Tertekan Penguatan USD
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Jakarta: Dolar Indeks diperkirakan menguat terhadap sejumlah mata uang hari ini dengan kemungkinan kembali berproduksinya produksi minyak Amerika Serikat (AS). Gerak nilai tukar rupiah diperkirakan tertekan. Harga komoditas diperkirakan tertekan seiring dengan meningkatnya produksi minyak di AS.

"Berita tersebut kemungkinan akan menekan nilai tukar negara-negara pengekspor komoditas termasuk rupiah. Rapat FOMC yang semakin dekat juga diperkirakan akan semakin memperkuat USD. Hari ini USD diperkirakan diperdagangkan di level Rp13.530 hingga Rp13.550 per USD," kata Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, di Jakarta, Selasa, 5 Desember 2017.

Sedangkan imbal hasil obligasi diperkirakan kembali naik. Imbal hasil obligasi diperkirakan kembali naik seiring kemungkinan melemahnya rupiah hari ini. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun diperkirakan bergerak di rentang 6,55 hingga 6,60 persen.

Sementara itu, bursa Eropa ditutup menguat meskipun Inggris dan Uni Eropa gagal untuk mencapai negosiasi mengenai Brexit, dengan perbatasan Irlandia menjadi concern utama. Adapun bursa Asia pada hari ini dibuka cenderung melemah, seiring dengan rilis data-data dari Tiongkok yang kurang memuaskan.

Pada Senin kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound ke level 5.998,19 (+0,77 persen) merespons menurunnya kekhawatiran investor mengenai kebijakan pajak di AS. Samuel Research Team menilai disahkannya reformasi pajak dapat menjadi ancaman bagi IHSG, sehingga Samuel Research Team melihat IHSG berpotensi melemah.

"Rilis data inflasi dalam negeri pada bulan November juga berpotensi menjadi penentu arah IHSG, di mana Badan Pusat Statistik mencatat inflasi November tercatat cuma 0,2 persen atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada November sejak 2014," sebut Samuel Research Team.


(ABD)