Akhir Februari, Waskita Karya Bukukan Kontrak Baru Rp8,6 Triliun

Dian Ihsan Siregar    •    Jumat, 17 Mar 2017 17:16 WIB
waskita karya
Akhir Februari, Waskita Karya Bukukan Kontrak Baru Rp8,6 Triliun
Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet Dwi Pramadia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Manajemen PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) telah membukukan kontrak baru sebesar Rp8,6 triliun hingga akhir Februari 2017. Angka itu setara dengan 10 persen dari target kontrak baru sebesar Rp80 triliun di tahun ini.

‎Sepanjang 2016, Waskita Karya ‎telah memperoleh kontrak baru sebanyak Rp69,97 triliun atau tumbuh 118 persen dari kontrak baru sebesar Rp32,08 triliun di 2015.

"Tahun ini, ada kenaikan lagi. Kontrak baru kami hingga Februari masih 10 persen dari target sepanjang tahun ini," ungkap ‎Direktur Utama Waskita Karya M. Choliq, ditemui usai RUPST perseroan di Kantor Pusat Waskita Karya, Jakarta, Jumat 17 Maret 2017.

Choliq menambahkan, untuk tingkat pendapatan tahun ini bisa meningkat hingga 39,02 persen menjadi Rp39 triliun di tahun ini dari posisi sebelumnya yang berada di Rp23,78 triliun‎ di 2016. Posisi pendapatan hingga akhir Februari 2017 telah mencapai Rp5,3 triliun.

Sedangkan tingkat laba bersih, perseroan membukukan sebesar Rp3,5 triliun atau naik 93,37 persen dari posisi laba bersih sebesar Rp1,81 triliun. "‎Laba bersih kami hingga Februari sudah mencapai Rp350 miliar," pungkas Choliq.‎

Sekadar informasi, pada 2016 pendapatan ‎emiten dengan kode ticker WSKT naik 63,84 persen menjadi Rp23,79 triliun, padahal pendapatan periode 2015 hanya terkumpul sebesar Rp14,15 triliun. Kenaikan pendapatan WSKT dikontribusikan dari bisnis konstruksi yang naik menjadi Rp22,37 triliun dari posisi sebesar Rp12,04 triliun.

Sementara itu, untuk bisnis jalan tol perusahaan juga mengalami peingkatan, dari Rp31,79 miliar di 2015 menjadi Rp218,05 miliar. Sedangkan bisnis hotel juga mengalami pertumbuhan, dari Rp10,34 miliar menjadi Rp11,29 miliar.

‎Selama 2016, perseroan juga meraih pendapatan dari bisnis properti dan energi, masing-masing sebesar Rp34,12 miliar dan Rp1,82 miliar. Pada 2015, perusahaan di bawah naungan BUMN ini sama sekali belum mendapatkan pendapatan dari sektor properti dan energi.

Selain itu, tingkat pendapatan yang naik juga menimbulkan beban pokok pendapatan yang melonjak 61 persen, dari Rp12,23 triliun di 2015 menjadi Rp19,82 triliun di akhir Desember 2016. Beban umum dan administasi juga ikut terkerek menjadi Rp755 miliar, dari porsi sebelumnya sebesar Rp480,43 miliar.

Serta tingkat aset di 2016, porsinya mengalami peningkatan 102,64 persen, dari Rp30,31 triliun menjadi Rp61,42 triliun. Dengan tingkat ekuitas dan liablitas masing-masing menjadi Rp16,77 triliun dan Rp44,65 triliun.


(AHL)

Menkeu: Level Utang Indonesia Masih Aman

Menkeu: Level Utang Indonesia Masih Aman

23 minutes Ago

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan kondisi utang Indonesia masih di level aman jika diband…

BERITA LAINNYA