BEI Masih Berharap Freeport Indonesia Melantai di Pasar Modal

Annisa ayu artanti    •    Sabtu, 14 Jul 2018 08:30 WIB
freeportbeipasar modalipo
BEI Masih Berharap Freeport Indonesia Melantai di Pasar Modal
Ilustrasi (MI/PANCA SYURKANI)

Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berharap PT Freeport Indonesia tetap melantai di pasar modal atau melakukan Initial Public Offering (IPO) setelah proses divestasi saham selesai dilakukan. Aksi korporasi itu dinilai penting dilakukan lantaran masyarakat bisa mengawasi kinerja perusahaan dan mendukung transparansi.

"Ya enggak Freeport, enggak yang lain, kita ingin itu (Freeport Indonesia) tetap terdaftar (sebagai emiten). Akses kan tidak terbatas untuk permodalan tapi penyebaran kepemilikan dan kontrol banyak pihak termasuk masyarakat," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD Nyoman Yetna, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat, 13 Juli 2018.

Selain terawasi, kata Nyoman, dengan tercatatnya Freeport Indonesia di pasar modal maka masyarakat juga dapat ikut merasakan kontribusi dari tambang emas terbesar itu. "Selain mengawasi, dia juga bisa berikan kontribusi ke masyarakat. Masyarakat bisa ikut menikmati. Yang penting good corporate governance bisa dijagain," ucap Nyoman.

Namun, Nyoman melanjutkan, Direksi BEI yang baru masih akan mengkaji lagi rencana pelepasan saham perdana atau IPO yang sempat dibicarakan beberapa tahun lalu itu. "Tapi saya baca dulu dan lihat prosesnya. Seperti apa proses yang sudah terjadi, lalu saya lihat apa yang bisa bursa lakukan," kata Nyoman



Untuk diketahui, PT Indonesia Asahan Aluminium/Inalum (Persero) menargetkan akan menyelesaikan transaksi divestasi saham PT Freeport Indonesia pada Agustus. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin usai penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara PT Freeport Indonesia dan Inalum.

"Kita berharap dalam dua bulan setelah HoA selesai agar transaction closing-nya jadi," kata Budi.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meminta agar proses transaksi dipercepat hingga akhir Juli. "Saya memang mendorong sampai akhir Juli, tapi Pak Budi bilang sampai Agustus. Enggak apa-apa dong saya mengejar juga karena lebih cepat lebih baik," tutur Rini.

Adapun nilai transaksi yang telah disepakati dalam proses divestasi tersebut sebesar USD3,85 miliar.

 


(ABD)