IPO, BEI Berharap Anak Usaha BUMN Tidak Tawarkan Harga Tinggi

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 13 Nov 2017 16:45 WIB
emitenbeipasar modalipo
IPO, BEI Berharap Anak Usaha BUMN Tidak Tawarkan Harga Tinggi
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Jakarta: Anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus didorong melantai di pasar modal atau melakukan Initial Public Offering (IPO). Namun sayangnya, mereka yang sudah melakukan IPO justru situasi dan kondisinya tidak sesuai dengan yang diinginkan atau diharapkan.

Hal itu disebabkan saham mereka menyusut tajam seperti yang ‎terjadi pada anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), yakni PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI). Harga penawaran yang ditawarkan Rp370 per saham lalu turun menjadi Rp340 per saham setelah menjalankan IPO.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyebutkan, kejadian itu terjadi ‎karena harga saat penawaran ditawarkan pada posisi yang tinggi. Adapun penetapan di rentang harga bawah IPO merupakan nilai yang wajar. Seharusnya anak usaha BUMN berada di tengah dalam rentang harga penawaran.

Menurutnya, harga penawaran harusnya ditetapkan sebanyak 20 persen di bawah harga saham wajar anak usaha BUMN. Dengan begitu, investor bisa meraih keuntungan dari hasil kenaikan harga.

"Advice underwriter, satu lihat maksimum price lalu potong (diskon) 20 persen untuk kepentingan investor. Jangan malah ditambah," tegas Tito, di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Senin 13 November 2017.

‎Manajemen, kata Tito, tidak perlu meraih keuntungan pada saat awal IPO. Karena, perusahaan bisa mengambil keuntungan di saat menjalankan right issue. "Nih IPO, diskon price 20 persen, kasih investor untung, baru pada saat right issue perusahaan ambil untung," tutur Tito.

Tak hanya itu, Tito mengharapkan, anak usaha BUMN yang berniat IPO tidak perlu memandang pasar modal Indonesia disaat sedang baik atau prima. Pasalnya, ketika perusahaan menjalankan IPO justru meningkatkan modal mereka.

"Tolong BUMN jangan berpendapat kalau pasar bagus baru bisa privatisasi. Di dunia begitu, selain memperkuat industri, tujuan IPO adalah memperkuat modal perusahaan," tukas dia.

Pada tahun ini, Kementerian BUMN menargetkan empat anak usaha perusahaan pelat merah bisa melantai di pasar modal Indonesia. Dari empat, sudah ada satu perusahaan yang merealisasikan IPO, yakni  PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI). Sedangkan tiga lainnya, PT PP Presisi, PT Jasa Armada Indonesia, dan PT Wijaya Karya Gedung.

"Masih ada lima yang lain yang carry over (dibawa IPO tahun depan), beberapa tambahan dari grupnya PT Pembangunan Peruhaman (PTPP)," ucap Deputi Bidang Restrukturasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Klik Ro.

Anak usaha yang berminat IPO, lanjut Aloy, sedang menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) di 2018. Alhasil, Kementerian BUMN masih mengumpulkan data dari beberapa deputi. Sebenarnya, lanjut dia, sembilan anak usaha berencana IPO di tahun ini, tapi yang diprediksi bisa terjadi hanya empat perusahaan.

"Pada 17 November PP Presisi IPO, setelah itu Wika Gedung. Kemudian, akhir tahun ditutup dengan Jasa Armada Indonesia (Anak usaha Pelindo II)," ungkap Aloy.

Sembilan anak usaha yang IPO, sebelumnya diprediksi bisa meraih dana segar Rp21 triliun. Salah satu hambatan anak usaha tidak terealisasi menjalankan IPO adalah persiapan waktu yang lama, yang akhirnya tidak rampung di akhir tahun ini.


(ABD)