BI: Mata Uang Indonesia Lebih Baik Dibanding Korsel dan Brasil

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 11 Jul 2018 20:23 WIB
kurs rupiah
BI: Mata Uang Indonesia Lebih Baik Dibanding Korsel dan Brasil
Deputi Gubernur BI Perry Wajiyo. Medcom/Eko Nordiansyah.

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS (USD) yang terjadi belakangan ini ‎tidak terlalu buruk bila dibandingkan beberapa negara lain. Pelemahan rupiah sepanjang tahun ini masih sebesar 5,6 persen.

"‎Pelemahan ini lebih rendah dari Filipina (Peso), India (Rupee) apalagi kalau dibandingkan dengan Brasil, Korea Selatan (Korsel), dan Turki itu pelemahannya jauh lebih tinggi," kata Perry, ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Rabu, 11 Juli 2018.

Perry optimistis nilai mata uang rupiah masih bisa menguat terhadap USD. Dia bahkan yakin bahwa mata uang Garuda masih terlalu lemah bila dibandingkan dengan nilai fundamentalnya.

"Nilai tukar yang ada sekarang masih terlalu lemah kalau dibandingkan dengan fundamentalnya, sehingga dari sisi fundamentalnya mestinya ada ruang untuk lebih apresiatif lagi," ucap dia.

Dia mengaku kondisi pasar keuangan di Indonesia, terutama mata uang rupiah sudah semakin baik. Hal itu dikarenakan hasil koordinasi antara bank sentral dan pemerintah.

Kenaikan suku bunga yang terjadi belakangan ini menjadi sisi positif untuk rupiah berbalik menguat. "Bayangkan saja, suku bunga naik supaya keuangan Indonesia kompetitif, khususnya pasar SBN. Alhamdulillah beberapa waktu terakhir arus masuk asing ke SBN, itu jadi sisi positif," jelas Perry.

Dia mengaku bank sentral akan lebih mengutamakan stabilitas perekonomian, dengan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "‎Arah kebijakan moneter ke depan untuk jaga stabilitas ekonomi, khususnya nilai tukar. Kami akan melakukan kebijakan pre-emptive," ucapnya.

Meski demikian, Perry pun tetap fokus pada faktor global, seperti kenaikan suku bunga The Fed (Fed Fund Rate) dan rencana Bank Sentral Eropa yang mengurangi stimulus. "Kita juga akan pantau terus premi risiko yang terus meningkat," tegas dia.

Setiap risiko dari global, sambungnya, sudah dalam perhitungan bank sentral. ‎Maka dari itu, BI akan terus memantau ekonomi global dengan tetap menimbang semua kebijakan moneter. "Kami‎ akan pantau kondisi di internasional dan mempertimbangkan bauran kebijakan moneter. Moneter tetap pro stability. Komitmen BI untuk terus ada di pasar, agar stabilitas ekonomi dan nilai tuka‎r tetap terjaga," tukasnya.

 


(SAW)