Investor Muda di Jateng Meningkat 20%

Budi Arista Romadhoni    •    Jumat, 05 Jan 2018 21:08 WIB
investasibei
Investor Muda di Jateng Meningkat 20%
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/M. Rizal)

Semarang: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Semarang mencatat peningkatan investor dari kalangan anak muda di sepanjang 2017. Anak muda berusia antara 18-20 tahun menempati posisi kedua komposisi investor di sektor pasar modal tersebut.

"Terlihat dari tumbuhnya dua indikator, yaitu investor serta perusahaan efek. Investor saham di Semarang hingga November tahun lalu mencapai 13.550," kata Kepala BEI Kantor Perwakilan Semarang Fanny Rifqi El Fuad, di Semarang, Jumat, 5 Januari 2018.

Jumlah tersebut meningkat 20 persen bila dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 11 ribu investor. Dari data disebutkan, komposisi terbanyak berasal dari usia produktif antara 35-50 tahun.

"Posisi berikutnya diduduki oleh kalangan anak-anak muda yang berusia antara 18-20 tahun. Ini juga cukup menarik, di mana rata-rata investor baru muncul dari kalangan anak muda," tambahnya.

Fanny melanjutkan, tahun ini ditargetkan pertumbuhan investor antara 5.000-6.000. Salah satu upayanya untuk memenuhi target yaitu melakukan edukasi, khususnya ke kampus-kampus untuk menggaet segmen anak muda. Dia mencontohkan, tahun lalu melaksanakan kerjasama menggandeng sejumlah universitas.

Saat ini tercatat 21 galeri investasi di area Jawa Tengah bagian utara. Di antaranya satu di Tegal, dua di Pekalongan, dua di Salatiga, satu di Jepara, satu di Kudus, dan 15 galeri di Semarang.

"Galeri tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu pusat informasi terkait investasi khususnya di pasar modal. Selain itu, sejumlah workshop maupun seminar yang dilakukan diharapkan dapat mengedukasi masyarakat kampus maupun lingkungan sekitarnya. Harapannya, muncul investor-investor baru," ujarnya.

Pertumbuhan investor tersebut juga diikuti oleh penambahan jumlah perusahaan pialang saham yang menjadi tempat para investor melakukan transaksi jual beli saham. Sebelumnya tercatat 21, pada 2017 lalu bertambah menjadi 24 perusahaan.

"Di 2018 ini, kami harapkan juga ada penambahan cabang baru perusahaan efek, baik di Semarang maupun kota-kota lain yang berpotensi untuk pengembangan pasar modal. Di antaranya Tegal, Pekalongan, Kudus, Salatiga, dan Jepara," pungkasnya.

 


(AHL)