Rupiah Diperkirakan Masih Lanjutkan Pelemahan

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 10 Jul 2017 08:50 WIB
kurs rupiah
Rupiah Diperkirakan Masih Lanjutkan Pelemahan
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sentimen positif masih belum menghampiri gerak nilai tukar rupiah. Akhirnya, nilai mata uang Garuda masih terus melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Bahkan, pelemahan lanjutan nilai tukar rupiah juga bisa diprediksi akan terjadi di hari ini.

Sebagai informasi, mata uang rupiah melemah sebanyak tujuh poin atau setara 0,05 persen ke posisi Rp13.999 per USD hingga penutupan perdagangan Jumat 7 Juli 2017. Pelemahan yang terjadi sedikit lagi ke posisi Rp14.000 per USD.

Pelemahan yang masih terjadi, menurut Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambad‎a‎, karena belum ada sama sekali sentimen positif. Penguatan rupiah bisa terjadi jika pergerakan sejumlah mata uang Asia dapat kompak menguat yang dibarengi penurunan imbal hasil obligasi global.

"Kemungkinan jika hal itu terjadi dapat memberikan harapan pada rupiah untuk terjadinya pembalikan arah dari menurun menjadi naik," tutur Reza, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Senin 10 Juli 2017.

‎Dengan adanya keadaan itu, Reza memperkirakan, rupiah akan bergerak di kisaran support Rp13.442 per USD, sedangkan resisten berada di Rp13.369 per USD. "Jika tidak maka tetap cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat membuka peluang pelemahan kembali dari rupiah," jelas Reza.

‎Reza mengatakan, meski mata uang negeri Paman Sam melemah, tapi dari sisi lain pergerakan rupiah juga masih dalam teritori negatif. Belum adanya sinyal positif yang signifikan untuk mengangkat rupiah membuat pergerakannya cenderung melemah.

Kekhawatiran pasar terhadap makin melebarnya defisit anggaran, lanjut dia, memunculkan persepsi negatif pada rupiah. Sebagaimana diketahui, dalam nota keuangan yang disampaikan pemerintah kepada DPR, pemerintah mematok defisit anggaran dalam RAPBN-P mencapai Rp397,2 triliun atau 2,92 persen dari PDB.

Pada APBN 2017, defisit ditargetkan 2,41 persen dari PDB. Dengan melebarnya defisit, pemerintah dipastikan akan menambah utang pada tahun ini.  Dengan hitungan defisit baru, surat utang yang akan diterbitkan pemerintah bisa mencapai Rp433 triliun sampai Rp467,3 triliun, lebih tinggi Rp33-67,3 triliun dibandingkan target yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2017.

 


(ABD)