Belum Laporkan Kinerja Keuangan, BORN Terancam Kena Delisting

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 15 Feb 2018 15:40 WIB
delisting
Belum Laporkan Kinerja Keuangan, BORN Terancam Kena <i>Delisting</i>
Illustasi. MI/Panca S. .

Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang menunggu laporan keuangan tahunan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) di 2017. Jika tidak diberikan maka bursa terpaksa menghapus (delisting) saham perusahaan itu dari papan perdagangan pasar modal Indonesia.

"Kami tunggu laporan keuangan 2017 BORN. Karena mereka janji akan sampaikan laporan keuangannya. Mereka sudah janji pada kita akan menyampaikan semua laporan keuangan tersisa di akhir Maret ini, ya kalau tidak bisa di delisting," tutur ‎‎Direktur Penilaian Investasi BEI Samsul Hidayat, ditemui ‎di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Jumat, 9 Februari 2018.

Pada saat melihat laporan keuangan, dia mengaku, bursa bisa melihat langsung keberlangsungan usaha (going concern) perusahaan. Pasalnya, hingga saat ini bursa sama sekali belum mengetahui kabar baik dari going concern BORN. Menurut Samsul, pada saat melihat going concern, maka bursa bisa menentukan hasil akhir dari perusahaan, apakah tetap bisa berada di bursa atau tidak.

"Jadi dasarnya, kita tentukan going concernya dari laporang keuangan, baik dari kita sendiri maupun oleh akuntan," terang Samsul.

Bursa menyuspensi Borneo Lumbung Energi dan Metal sejak 30 Juni 2015, karena belum menyampaikan laporan keuangan interim III-2017 dan belum melakukan pembayaran denda Surat Peringatan (SP) 2.

Pada minggu pertama Februari ini Samsul pernah menyebutkan ada 15 emiten terancam dihapus (delisting) dari papan perdagangan pasar modal Indonesia.‎ Semua perusahaan terbuka yang terancam delisting karena telah diberhentikan perdagangan sahamnya (suspensi) sejak 2015.

"Ada 10-15 perusahaan, ya terancam saja indikasinya belum pasti," kata Samsul.

Perusahaan yang telah lama kena suspensi, bilang Samsul, karena tidak melaporkan kewajiban seperti melaporkan keuangan dan segala bentuk keterbukaan, hingga kejelasan keberlangsungan usaha (going concern) dari perusahaan itu sendiri. Pada saat emiten tidak ingin kena suspensi atau delisting, menurut dia, maka seluruh emiten harus memenuhi segala bentuk kewajiban dan ketentuan yang sudah berlaku di bursa.

"Ya mereka harus penuhi dulu kewajibannya,  kalau mereka ingin menjadi perusahaan publik, mereka harus bisa memenuhi ketentuan, dan banyak sekali manfaat mereka kalau menjadi perusahaan publik," terang dia.



(SAW)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

1 day Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA