Penguatan Rupiah Diperkirakan Tertahan

Angga Bratadharma    •    Selasa, 20 Jun 2017 08:59 WIB
kurs rupiah
Penguatan Rupiah Diperkirakan Tertahan
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah mendorong belanja negara dan di sisi lain daya beli masih mengalami stagnan. Gerak nilai tukar rupiah mengalami penguatan mengikuti mayoritas kurs di Asia pada perdagangan Senin dan diharapkan penguatan tersebut bisa terus terjadi sejalan dengan kokohnya fundamental.

Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, aliran dana asing ke pasar Surat Utang Negara (SUN) masih jadi penopang utama di tengah meningkatnya permintaan barang impor jelang Lebaran. Optimisme pertumbuhan bertambah setelah pemerintah tingkatkan belanja di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017.

"Penguatan gerak nilai tukar rupiah berpeluang sedikit tertahan pada hari ini," ungkap Rangga, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Selasa 20 Juni 2017.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia anjlok dan gerak dolar Amerika Serikat (USD) menguat. Walaupun beberapa pejabat the Fed sepakat dengan pasar yang ragu bahwa kenaikan Fed Fund Rate (FFR) target selanjutnya harus dilakukan dalam waktu dekat membuat dolar index berhasil menguat setelah sebelumnya melemah.

"Harga minyak yang konsisten anjlok, meminta dolar index untuk menguat, selain akibat pelemahan tajam yen menyusul buruknya data perdagangan Jepang," kata Rangga.

Di sisi lain, opmerintah enggan naikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan ekspektasi inflasi terkendali. Pemerintah akhirnya mengatakan kenaikan harga BBM belum akan dilakukan di 2017. Hal itu semakin menekan ekspektasi inflasi ke depan yang sebelumnya juga turun akibat dipangkasnya proyeksi inflasi BI untuk akhir tahun.

Harga minyak mentah yang konsisten turun juga meminta imbal hasil global untuk bertahan di tren turun, apalagi imbal hasil UST belum naik signifikan usai kenaikan FFR target. Akan tetapi, target realisasi pajak yang dipangkas serta belanja negara yang dinaikkan akan meminta defisit APBN-P 2017 yang lebih lebar sehingga pasokan SUN akan lebih besar.

"Di perdagangan Senin kemarin, imbal hasil SUN masih turun terutama tenor pendek dan diiringi oleh kenaikan konsisten proporsi kepemilikan asing terhadap total SUN," pungkas Rangga.

 


(ABD)