Sistem Perdagangan Saham Bursa Aman dari Ransomware

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 15 May 2017 12:14 WIB
beipasar modalcyber securitywannacry
Sistem Perdagangan Saham Bursa Aman dari <i>Ransomware</i>
Direktur Utama BEI Tito Sulistio (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa pihaknya memiliki sistem yang berlapis sehingga bisa menghadang berbagai virus yang datang, termasuk virus ransomware. Kendati demikian, bursa tetap waspada atas ancaman dari virus tersebut.

"Setiap transaksi per broker selalu diperiksa rinci. Berlapis keamanannya. Walaupun saya juga deg-degan," kata Direktur Utama BEI Tito Sulistio, di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Senin 15 Mei 2017.

‎Bursa, kata Tito, tiap pagi sebelum melakukan pembukaan perdagangan atau tepatnya pada pukul 07.00 WIB selalu melakukan pengecekan rutin. Dengan demikian, semua yang berkaitan dengan perusakan perdagangan saham tidak akan terjadi.

Baca: Ransomware Menghantam, Microsoft Berikan Update Darurat untuk Windows XP

Sebagaimana diketahui virus ransomware sudah menghentikan aktivitas pabrik mobil, rumah sakit, sekolah, dan organisasi lainnya yang ada di sekitar 100 negara. Bursa pun tidak menggunakan sistem windows yang memudahkan virus ransomware tersebut masuk dalam sistem.



Lebih lanjut, Tito mengaku, BEI tidak perlu meningkatkan ketahanan sistem sekarang ini. Sebab, sistem keamanan di bursa sudah melebihi batas maksimum sistem ketahanan yang ada.‎ Dalam hal ini, BEI terus berupaya agar tidak ada sebuah virus atau apapun yang merusak perdagangan saham.

"Karena maksimum tambah dua persen pengamanan. Ini maksimum nih, kita selalu tambah kayak pesawat saja. Pesawat itu kekuatan sayap kan 10 kg, dia tambah jadi 12 kg. Itu sudah otomatis. Ada atau tidak ada," tegas Tito.

Baca: WannaCry Ibarat Peringatan untuk Pemerintah dan Korporasi

Selain itu, bursa juga sudah menggunakan JATS sebagai operasional sistem sebagaimana yang digunakan oleh NASDAQ. "Kita kan surveillance sama trading-nya dibantu NASDAQ. Dia is the best in the world. Dia punya 88 stock exchange di bawah dia," ujar Tito.


Ilustrasi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Sejumlah instansi penting di beberapa negara, termasuk Indonesia, terkena serangan ransomware masif kemarin, Jumat 13 Mei 2017. Salah satu penyebab mudah tersebarnya malware ini adalah mayoritas komputer tersebut masih menggunakan Windows XP, yang sudah tidak mendapat dukungan dari Microsoft.

Baca: Jangan Takut Nyalakan Komputer Besok, Cek Caranya di Sini

Menanggapi serangan tersebut, Microsoft langsung mengeluarkan update darurat untuk Windows XP. Ini merupakan langkah yang tidak biasa dari Microsoft, mengingat mereka biasanya tidak akan memberikan perlindungan tambahan terhadap sistem operasi mereka yang sudah ketinggalan zaman.

Khusus untuk korporasi, mereka memiliki perjanjian tertentu terakit dukungan pemeliharaan sistem atau keamanan sesuai kebutuhan. Sementara konsumen biasa tetap diminta untuk mengadopsi OS yang lebih baru. Pembaruan keamanan darurat ini akan menyasar pengguna Windows XP, Windows 8, dan Windows Server 2003.

Baca: Ada WannaCry 2, Apa Bedanya?

"Melihat dampak yang sangat besar kepada pelanggan dan bisnis mereka atas serangan ini, kami memutuskan untuk merilis pembaruan keamanan sesuai perjanjian tertentu (dengan pelanggan perusahaan)," Phillip Misner, Security Group Manager Microsoft dikutip dari The Verge.

 


(ABD)

<i>Tender Offer</i> Persero dan <i>Holding</i> BUMN

Tender Offer Persero dan Holding BUMN

13 hours Ago

PRESIDEN Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2017 tentang Pena…

BERITA LAINNYA