Analis: Inflasi Mei Melambat, Rupiah Menguat

Ade Hapsari Lestarini    •    Selasa, 05 Jun 2018 11:40 WIB
inflasirupiah menguat
Analis: Inflasi Mei Melambat, Rupiah Menguat
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Analis ForexTime (FXTM) mencatat inflasi tahunan Indonesia melambat di Mei. Kenaikan harga pangan tidak terlalu drastis walaupun permintaan meningkat di bulan Ramadan.

Harga konsumen naik 3,23 persen secara year on year (yoy) di Mei, di bawah prediksi 3,50 persen dan menurun dari level tahunan di April yaitu 3,41 persen. Inflasi masih aman di rentang target tahunan Bank Indonesia (BI) yaitu 2,5-4 persen dan rupiah mulai menguat, jadi BI mungkin kembali ke posisi kebijakan netral sebelum akhir tahun.

"Ada kemungkinan bahwa BI akan melaksanakan kenaikan suku bunga terakhir di Juni untuk membantu rupiah menghadapi kenaikan suku bunga AS dan apresiasi dolar," tutur Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed dalam hasil risetnya, Selasa, 5 Juni 2018.

Adapun dari aspek teknis, dolar AS terhadap mata uang Garuda berada sedikit di bawah Rp13.900 per USD saat laporan ini dituliskan. Penurunan berkelanjutan di bawah level ini dapat memicu penurunan lebih lanjut menuju Rp13.850 per USD.




Rapat G7 Menegangkan

Setelah menerapkan tarif impor besi dan aluminium terhadap sekutu terdekatnya, AS akan menghadapi kritik tajam pada KTT G7 Jumat ini di Quebec, atau seperti yang dikatakan Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire, "G7 plus satu".

"Tak ada yang tahu apakah Presiden Trump sedang bermain strategi yang cerdas atau serius menabuh genderang perang perdagangan. Walau begitu, tak diragukan lagi bahwa probabilitas perang perdagangan telah meningkat signifikan," jelasnya.

KTT G7 berlangsung setelah negosiasi AS-Tiongkok berakhir pada Minggu tanpa hasil yang berarti. Tiongkok bahkan memperingatkan AS bahwa tindakan untuk melaksanakan tarif terhadap Tiongkok akan membuyarkan negosiasi ini.

Walaupun pasar Asia menguat setelah laporan lapangan kerja AS yang dirilis pada Jumat menunjukkan peningkatan dan pemilu baru berhasil dihindari di Italia, optimisme ini akan segera sirna jika pemerintahan Trump melaksanakan ancaman tarif USD50 miliar terhadap ekspor Tiongkok.

Fokus Data dan Politik Eropa

Dia menambahkan gerak euro kesulitan pekan lalu. Gejolak politik Italia dan Spanyol membuat Euro merosot ke level terendah sejak Juli 2017. Presiden Italia dan koalisi populis berhasil mencapai kompromi dan pemilu baru sepertinya belum akan terjadi sehingga Euro tidak terus merosot.

Kelegaan ini tersirat dalam penurunan imbal hasil obligasi dua tahun Italia sebesar 200 bps dibandingkan level tertinggi di Selasa. Walau begitu, pemulihan Euro ini mungkin segera terhenti apabila pemerintah baru Italia melanjutkan agenda belanja besar-besaran dan pengurangan pajak.

"Tindakan ini bukan hanya memicu konflik dengan Brussels, tapi juga membuat badan pemeringkat kredit memangkas peringkat utang Italia," tambahnya.

Sementara dari aspek rilis data, PMI Jasa Zona Euro sepertinya akan memastikan bahwa ekonomi terus melambat memasuki kuartal II. Apabila rilis ekonomi masih terus negatif, ECB mungkin menunda penghentian pelonggaran kuantitatif (QE) dan membuat Euro semakin melemah.

"PMI Jasa Inggris, produksi industri dan pemesanan pabrik Jerman juga akan menarik perhatian di pekan ini," pungkasnya.


(AHL)