Bank Muamalat Butuh Tambahan Modal

   •    Selasa, 17 Oct 2017 10:10 WIB
bank muamalat
Bank Muamalat Butuh Tambahan Modal
Ilustrasi Bank Muamalat. (FOTO: ANTARA/Ismar Patrizki)

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisaris Utama PT Bank Muamalat Tbk Anwar Nasution mengakui bank syariah pertama Indonesia itu sudah lama mengalami masalah kekurangan modal yakni sekitar lima tahun terakhir.

Namun, pemegang saham terbesarnya, yaitu Islamic Development Bank (32,74 persen), Bank Boubyan (22 persen), Atwill Holdings Limited (17,91 persen), dan National Bank of Kuwait (8,45 persen) tidak mau menyuntikkan modal karena kondisi keuangan mereka yang juga sedang tidak bagus.

"Oleh karena itu, pemegang saham mau menjual saham Bank Muamalat untuk menambah modal. Mereka mau jual bank ini. Harga lagi dicek konsultan, berapa harga pasarnya dan baru akan selesai dekat-dekat November," ujarnya saat dihubungi, Senin 16 Oktober 2017.

Rencana Minna Padi Investama Sekuritas (PADI) Tbk menjadi pembeli siaga rights issue Bank Muamalat dengan urunan dari berbagai investor, dibenarkan Anwar. Termasuk hadirnya nama Ilham Habibie yang menjadi salah satu investor, serta pihak-pihak seperti MUI dan ICMI.

"Kalau Ilham kan bapaknya yang mendirikan bank ini. Jual beli bank apa sulitnya. Bank ini perlu modal sekarang. Kalau tidak punya modal, bagaimana bank jalan. Muamalat sudah lama rencanakan penjualan karena kekurangan modal maka itu perlu dijual. Baru belakangan ini yang punya mau jual," jelasnya.

Anwar mengatakan saat ini posisi Bank Mauamalat ialah bank asing dan bukan bank milik umat Islam Indonesia.

"Yang punya bank ini 82 persen saham milik Kuwait dan Arab Saudi. Apa bedanya bank ini dengan Citibank?" tukasnya.

Sebagai komisaris dia berharap Bank Muamalat bisa kembali menjadi milik orang Indonesia. Meski demikian, dia mempertanyakan seberapa besar kemampuan orang Indonesia membelinya.

"Kalau tidak laku semua (rights issue), dia (bank-bank asing) tetap menjadi pemegang saham. Kalau laku, terserah mereka mau dilepas atau tetap punya bank di sini. Sampai sekarang masih dihitung berapa harga di pasar. Saat ini wewenang ada di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengecek sumber-sumber uangnya," tutupnya.

Asabri Berminat

Di tengah gegap gempita rencana pembelian saham Bank Muamalat oleh Minna Padi, emiten itu malah mengumumkan rencana penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Minna Padi berencana untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 5 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp25 per lembar saham. Saham baru tersebut akan diterbitkan dari saham portepel atau saham simpanan perseroan. Penambahan modal dengan memberikan HMETD diperkirakan dilaksanakan pada kuartal II-2018.

Perseroan berencana menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari penambahan modal untuk investasi pada Bank Muamalat sebesar Rp4,5 triliun, dan sisanya digunakan untuk investasi pada perusahaan lain dan modal kerja perseroan.

Di sisi lain, Direktur Keuangan dan Investasi PT Asabri (Persero) Hari Setianto membenarkan bahwa mereka akan menjadi salah satu investor dalam pelaksanaan rights issue Bank Muamalat. Asabri melihat penyertaan modal ke Bank Muamalat dari sisi syariah dan berpengaruh ke social environment dan tata kelolanya. Hal ini sesuai komitmen investasi Asabri. (Media Indonesia)

 


(AHL)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

2 days Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA