Tanggapi IPO Go-Jek, BEI: Tak Ada Regulasi yang Menghambat

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 13 Feb 2018 15:25 WIB
ipo
Tanggapi IPO Go-Jek, BEI: Tak Ada Regulasi yang Menghambat
Illustrasi(ANT/M Agung Rajasa).

Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan tidak ada regulasi yang menghambat perusahaan untuk menjalankan penawaran umum perdana saham (IPO) di pasar modal Indonesia. Hal itu sekaligus menepis pernyataan President dan Co-Founder Go-Jek Andre Sulistyo yang menyebutkan ada ‎beberapa kendala regulasi maupun syarat pada saat perusahaan menjalankan IPO.

Demikian disampaikan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat kepada Medcom.id, Selasa, 13 Februari 2018. "Saya rasa tidak ada kendala regulasi. Memang rasanya kendala itu di mana? Rasanya tidak ada kendala," tutur Samsul.

Regulasi yang dibuat oleh bursa, menurut Samsul, sudah sangat fleksibel. Kalau pun ada regulasi, hal itu merupakan aturan main yang sudah ada. "Ya kalau pakai dana publik ya memang harus ada aturan main. Nanti kalau usahanya tidak jalan, investor kan repot juga," terang Samsul.

Maka dari itu, dia menekankan, regulasi yang dibuat oleh bursa mempunya tujuan yang baik untuk pelaku pasar maupun perusahaan tersebut. "Kalau investor rugi, mereka ga mau, itu kan repot juga bagi mereka," ‎jelas Samsul.

Pasar modal Indonesia, lanjut dia,memperbolehkan perusahaan yang belum mendapatkan keuntungan (profit) bisa melaksanakan IPO. "Ya di sini juga bisa yang belum profit untuk IPO. Jadi rasanya tidak ada kendala," papar dia.

Sampai saat ini, dia menambahkan, bursa juga belum mendapatkan pernyataan langsung dari Menkominfo Rudiantara terkait keinginan Go-Jek untuk IPO.

Sebelumnya, Go-Jek Indonesia (Gojek) memang memiliki keinginan untuk mencatatkan sahamnya (IPO) di pasar modal Indonesia. Meski begitu, niat tersebut masih terkendala beberapa persyaratan maupun regulasi yang ada. Andre menyatakan, syarat IPO di luar negeri lebih mudah, seperti perusahaan tidak diharuskan meraup laba. Pasalnya, perusahaan seperti Gojek membutuhkan waktu yang cukup lama dalam meraup profit.

"Di luar negeri lebih fleksibel apakah perusahaan harus profit atau apakah perusahaan harus memiliki kelas-kelas saham yang berbeda. Nah itu mungkin yang menjadi wacana untuk disampaikan ke regulator. Aspirasi sangat ingin sekali go public lebih cepet. Kami pun sudah ada keinginan (untuk IPO)," jelas dia.



(SAW)