Rupiah Diprediksi Melemah

   •    Senin, 12 Feb 2018 08:15 WIB
kurs rupiah
Rupiah Diprediksi Melemah
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Jakarta: Dolar Indeks diperkiraan masih dalam tren menguat dan gerak nilai tukar rupiah diprediksi melemah. Dolar indeks kemungkinan bergerak menguat terhadap beberapa mata uang kuat dunia lainya seiring kuatnya data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dan naiknya imbal hasil US treasury. Selain itu kembali naiknya produksi minyak AS juga menopang USD.  

Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail menyebut di sisi lain gerak nilai tukar rupiah kemungkinan masih lanjutkan pelemahan seiring tingginya arus modal masuk di pasar obligasi seminggu terkakhir dan kembali naiknya imbal hasil obligasi AS.

"Gerak nilai tukar rupiah di pasar spot diperkirakan bergerak di rentang Rp13.600 sampai dengan Rp13.650 per USD," kata Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Senin, 12 Februari 2018.

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) diprediksi bergerak naik. Pasar obligasi domestik pada akhir pekan terkoreksi. Indeks ICBI  menunjukkan turun -0,01 persen sehingga secara year to date telah membukukan keuntungan sebesar 0,88 persen. Sedangkan rupiah melemah di level Rp13.623. Sedangkan minyak WTI turun di level USD60,45 per barel.

"Aktivitas perdagangan pada Jumat lebih sepi dibandingkan dengan Kamis lalu. Total Frekuensi turun sebesar lima persen dari 668 kali menjadi 637 kali. Sedangkan total volume turun sebesar 16 persen dari Rp.22.00 tn menjadi Rp.18.43 tn," tuturnya.

Seri FR0075 tercatat sebagai SBN teraktif dengan mencatatkan 91 kali transaksi sekaligus merupakan seri dengan transaksi terbanyak senilai Rp.1.95 tn. Sedangkan untuk Obligasi Korporasi BSDE01CN2 tercatat sebagai yang teraktif dengan mencatatkan tujuh kali transaksi senilai Rp.35 bn.

Ahmad Mikail menambahkan, imbal hasil obligasi pemerintah hari ini kemungkinan diperkirakan naik seiring naiknya imbal hasil obligasi AS Jumat lalu mencapai level 2,85 persen. Hal tersebut masih didorong oleh faktor naiknya defisit anggaran Pemerintah AS sebagai antisipasi pemotongan pajak Trump.

"Rupiah di pasar spot kemungkinan masih akan tertekan meski dengan tekanan yang lebih rendah dibandingkan dengan minggu lalu seiring kemugkinan intervensi Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah. Imbal hasil SUN seri acuan 10 tahun kemungkinan begerak di rentang 6,33 sampai 6,39 persen," pungkasnya.


(ABD)