Analis Perkirakan Rupiah Perkasa di Rp14.850/USD

Angga Bratadharma    •    Jumat, 07 Sep 2018 08:30 WIB
kurs rupiah
Analis Perkirakan Rupiah Perkasa di Rp14.850/USD
Ilustrasi (MI/PANCA SYURKANI)

Jakarta: Dolar Amerika Serikat (USD) diperkirakan melemah di sekitar level 94,80-95,0 terhadap euro dan poundsterling. Pelemahan USD tersebut didorong oleh pelemahan data tenaga kerja Amerika Serikat. Moody’s analytic melaporan bahwa perusahaan swasta menambah sekitar 163 ribu tenaga kerja baru di Agustus lebih rendah dari ekspektasi sebesar 190 ribu.

Analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan pelemahan tersebut semakin memperkuat keyakinan investor bahwa the Fed tidak akan terlalu agresif untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan di tengah tensi perang dagang yang semakin memanas antara AS-Tiongkok.

Pelemahan USD tersebut, lanjut Ahmad Mikail, kemungkinan akan membantu penguatan mata uang negara-negara berkembang termasuk nilai tukar rupiah. Intervensi ganda Bank Indonesia (BI) di pasar surat utang dan pasar uang diperkirakan akan juga membantu penguatan nilai tukar rupiah.

"Rupiah kemungkinan menguat ke level Rp14.850 hingga Rp14.900 per USD," ungkap Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Jumat, 7 September 2018.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 20,88 poin atau 0,08 persen menjadi berakhir di 25.995,87 poin. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 10,55 poin atau 0,37 persen menjadi ditutup pada 2.878,05 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 72,45 poin atau 0,91 persen menjadi berakhir di 7.922,73 poin.

Pembuat cip AS termasuk di antara saham-saham yang berkinerja terburuk di sektor teknologi. Saham Micron Technology dan Lam Research masing-masing jatuh 9,87 persen dan 6,97 persen, ketika pasar ditutup. Apple, Amazon, Facebook dan Twitter juga berkinerja buruk.

Sementara itu, para pelaku pasar terus mengawasi pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada dan mencerna beberapa data ekonomi. Negosiator dari Amerika Serikat dan Kanada melanjutkan perundingan perdagangan untuk menjembatani perbedaan mereka pada Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

 


(ABD)