Bos Bursa Sebut Paket Kebijakan Ekonomi ke-16 Dahsyat

Desi Angriani    •    Kamis, 31 Aug 2017 12:17 WIB
beipasar modalpaket kebijakan ekonomi
Bos Bursa Sebut Paket Kebijakan Ekonomi ke-16 Dahsyat
Direktur Utama BEI Tito Sulistio (Foto: MTVN/Dian Ihsan Siregar)

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio turut menanggapi Paket Kebijakan Ekonomi ke-16 yang baru saja diluncurkan pemerintah di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Paket ekonomi yang berisi tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha ini dinilai dahsyat oleh bos bursa tersebut.

"Bagus, itu dahsyat. Semua perizinan di dalam satu gedung itu bagus," ungkap Tito, di Gedung BEI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis 31 Agustus 2017.

Menurutnya aturan tentang pengawalan investasi ke daerah sangat diperlukan untuk menambah bobot peringkat Indonesia dalam peringkat kemudahan berbisnis atau ease of doing business. Saat ini Indonesia berada di peringkat 91 atau naik dari peringkat 106.

Pemeringkatan tersebut dilakukan kepada 190 negara yang berada di kawasan Asia Pasifik. "Itu bisa menaikkan bobot investasi di Indonesia bahkan bobot peringkat kita bisa naik, itu bagus bisa naik lagi," ujar Tito.



Adapun paket kebijakan ekonomi ke-16 berisi dua tahapan dalam mengawal investasi di daerah. Tahap pertama berisi tentang pembentukan Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) untuk pengawalan dan penyelesaian hambatan perizinan dalam pelaksanaan berusaha. Satgas terdiri dari Satgas Nasional dan Satgas pada kementerian/lembaga, provinsi, dan kabupaten/kota.

Sementara tahapan kedua berupa reformasi peraturan perizinan berusaha di mana menteri/kepala lembaga, gubernur, dan bupati/wali kota wajib melakukan evaluasi atas seluruh dasar hukum pelaksanaan proses perizinan berusaha yang berlaku pada saat ini.

Peluncuran paket ini dilatarbelakangi kondisi pelayanan yang masih belum optimal. Misalnya saja, perizinan masih bersifat parsial dan tidak terintegrasi, sekuensial (berurutan), belum seluruhnya menggunakan teknologi informasi, waktu penyelesaian dan biaya perizinan yang tidak jelas.

Selain itu, realisasi investasi masih tumbuh di bawah target yakni investasi dunia ke Indonesia masih rendah (1,97 persen) dengan rata-rata per tahun (2012-2016) sebesar USD1.417,58 miliar; capaian target rasio investasi sebesar 32,7 persen (2012-2016), dibawah terget RPJMN sebesar 38,9 persen pada 2019.

Kemudian realisasi investasi masih rendah dibandingkan dengan pengajuan/komitmen investasi untuk PMA 27,5 persen dan PMDN 31,8 persen (2010-2016) serta belum seimbangnya wilayah investasi di mana investasi di Jawa di atas 50 persen dibandingkan dengan luar Jawa.

 


(ABD)

<i>Tender Offer</i> Persero dan <i>Holding</i> BUMN

Tender Offer Persero dan Holding BUMN

18 hours Ago

PRESIDEN Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2017 tentang Pena…

BERITA LAINNYA