Investor Ritel Bakal Lebih Banyak Serap Saham saat Perusahaan IPO

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 06 Dec 2017 16:55 WIB
ipo
Investor Ritel Bakal Lebih Banyak Serap Saham saat Perusahaan IPO
Illustrasi. MI/Panca.

Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mengkaji aturan penjatahan saham bagi investor, baik investor ritel maupun institusi pada saat penawaran umum perdana saham (IPO) di pasar modal Indonesia.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menekankan langkah aturan penjatahan saham bisa meningkatkan investor ritel negeri ini menjadi lebih besar dan pastinya tingkat likuiditas di bursa akan tetap terjaga dengan baik.

Tito menjelaskan penjatahan saham tersebut nantinya akan diserap investor ritel sekitar 5-10 persen dari total saham yang dilempar saat IPO. Jika permintaan cukup banyak maka akan ditingkatkan lagi hingga 40 persen.

"Tapi memang, kadang-kadang kalau harga bagus, ‎investor ritel suka komplain, kok saya tidak kebagian. Makanya dibikin satu peraturan sekitar 5-10 persen wajib ke ritel. Tapi, kalau permintaan banyak bisa 30-40 persen," jelas Tito, ditemui di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu, 6 Desember 2017.

Walaupun aturan tersebut masih dikaji, Tito belum bisa memastikan kapan peraturan ini akan selesai dilakukan. "Kami masih belum bisa pastikan kapan," ujar Tito singkat.

Sebelumnya Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat‎ mengataka ketentuan penjatahan saham tidak diatur. Maka alokasi untuk publik harus besar, sehingga meningkatkan perdagangan saham.

Paling ideal, lanjut Samsul, porsi untuk publik sekitar 5-10 persen. Karena belum ada aturan main, makanya bakal diatur agar lebih baik.

Samsul menambahkan, hingga saat ini, pembelian saham oleh investor institusi lebih ke jangka panjang. Dengan begitu, saham tersebut dapat dipastikan bisa bertahan lama, dan tidak akan dijual dalam waktu cepat.

‎"Karena jangka panjang, investor lebih banyak. Mereka ambil bukan untuk dijual. Institusi itu untuk jangka panjang," pungkas Samsul.


(SAW)