Defisit Neraca Perdagangan Diprediksi Mewarnai IHSG

Angga Bratadharma    •    Rabu, 16 May 2018 09:02 WIB
ihsg
Defisit Neraca Perdagangan Diprediksi Mewarnai IHSG
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Jakarta: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah setelah adanya lonjakan imbal hasil obligasi Pemerintah AS ke level tertingginya sejak Juli 2011. Sementara data penjualan ritel yang kuat memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga dari the Fed.

"Saat ini fokus juga tertuju pada perundingan tingkat tinggi antara Tiongkok dan AS yang akan dimulai pekan ini di Washington mengenai resolusi tarif impor," ungkap Samuel Research Team, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018.

Defisit neraca perdagangan sebesar USD1,6 miliar pada April 2018 diperkirakan akan mewarnai pergerakan indeks. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Samuel Research Team perkirakan cenderung datar dengan EIDO ditutup melemah. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp13.950 sampai dengan Rp14.000 per USD.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 193 poin atau 0,78 persen, menjadi ditutup di 24.706,41 poin. Indeks S&P 500 merosot 18,68 poin atau 0,68 persen, menjadi berakhir di 2.711,45 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 59,69 poin atau 0,81 persen, menjadi 7.351,63 poin.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun yang menjadi acuan mencapai 3,09 persen pada Selasa 15 Mei, level tertinggi sejak 2011. Imbal hasil baru-baru ini telah melonjak karena tanda-tanda meningkatnya inflasi yang memicu spekulasi pasar untuk kenaikan suku bunga lebih banyak tahun ini.

Probabilitas bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuannya untuk keempat kalinya tahun ini naik di atas 50 persen untuk pertama kalinya, menurut alat pelacakan FedWatch CME untuk pasar berjangka fed funds.

 


(ABD)