Nilai Tukar Rupiah Masih Dihantui Tekanan

   •    Senin, 12 Mar 2018 08:01 WIB
rupiah melemahkurs rupiah
Nilai Tukar Rupiah Masih Dihantui Tekanan
Ilustrasi. (Foto: Antara/Akbar Nugroho).

Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih harus diwaspadai, terutama mendekati pertemuan Federal Open Market Comittee (FOMC) yang jatuh pada 20-21 Maret 2018. Kurs rupiah pekan ini diperkirakan berada di level Rp13.700-Rp13.820 per USD.

Sebelumnya dalam perdagangan Jumat, 9 Maret 2018 lalu, nilai tukar rupiah mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ditutup pada level Rp13.794 per USD.

"Bank Indonesia diprediksi akan terus lakukan operasi moneter untuk stabilisasi rupiah. Tapi puncak pelemahan rupiah perlu dicermati mendekati rapat Federal Open Market Committee," ujar ekonom Indef Bhima Yudhistira kepada Media Indonesia, Minggu, 11 Maret 2018.

Bank sentral AS, The Fed, sudah memberikan sinyal kuat adanya kebutuhan penaikan suku bunga acuan (Fed fund rate/FFR) lebih dari tiga kali sepanjang 2018. Tekanan faktor global, disebut Bhima, akan menyeret pelemahan rupiah ke level Rp13.900-Rp14.000 per USD. Apalagi rilis data teranyar perihal ketenagakerjaan AS yang positif bertambah 313 ribu orang membawa sentimen bagi The Fed untuk meningkatkan suku bunga acuan pada Maret ini.

Indonesia harus mewaspadai kenaikan FFR karena dapat memicu keluarnya dana asing dari Indonesia. Cadangan devisa dapat tergerus untuk mempertahankan nilai tukar rupiah merosot dalam. Posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Februari 2018 tercatat USD128,06 miliar. Posisi tersebut mengalami penurunan sekitar USD3 miliar.

Indonesia bisa mendapat tambahan pasokan dolar AS dari penerbitan obligasi valas syariah yang dicatatkan pada awal bulan ini sebesar USD3 miliar. Amunisi untuk menambah cadangan devisa juga masih bisa diperoleh dengan masuknya dolar AS yang diperoleh dari hasil ekspor serta remitansi pekerja Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan sektor pariwisata perlu terus didorong untuk mendapatkan devisa.

Berhati-hati Merespons

Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyatakan BI senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI secara konsisten dan berhati-hati merespons dinamika pergerakan nilai tukar rupiah yang sedang berlangsung untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga sehingga keberlangsungan pemulihan ekonomi dapat berlanjut.

Respons BI ditempuh untuk mengelola dan menjaga fluktuasi (volatilitas) nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan kondisi fundamental makroekonomi domestik, dengan juga memperhatikan dinamika pergerakan mata uang negara lain.

Dengan perekonomian Indonesia yang semakin terintegra-si dengan sistem keuangan global, dinamika nilai tukar saat ini merupakan dampak langsung dari kondisi ekonomi global yang terus mengalami pergeseran. Kebijakan moneter global saat ini, khususnya di AS, tengah memasuki era peningkatan suku bunga dan rezim kebijakan fiskal yang lebih ekspansif.

Meski demikian, BI meyakini dengan ketahanan saat ini, yang didukung jalinan koordinasi BI dan pemerintah yang semakin kuat, perekonomian Indonesia mampu menghadapi tantangan dari berbagai pergeseran ekonomi global itu. (Media Indonesia)

 


(AHL)