Kuartal III, BNI Cetak Laba Rp10,16 Triliun

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 12 Oct 2017 19:02 WIB
bni
Kuartal III, BNI Cetak Laba Rp10,16 Triliun
BNI (ANT/Yudhi Mahatma).

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencetak laba sebesar Rp10,16 triliun atau tumbuh 31,6 persen sepanjang kuartal III-2017, dibandingkan laba yang diraih pada periode yang sama di 2016 sebesar Rp7,72 triliun. 

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan, kenaikan laba bersih ini terutama ditopang oleh penyaluran kredit BNI yang tumbuh 13,3 persen atau lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kredit industri yang berada pada level 8,2 persen (per Juli 2017). 

"Penyaluran kredit tidak hanya bertumbuh, melainkan juga disertai peningkatan kualitas, dengan ditandai oleh menurunnya credit cost BNI dari 2,4 persen pada kuartal III-2016 menjadi 1,7 persen pada kuartal III-2017," kata Herry dalam paparan publik kinerja kuartal III di kantor pusat BNI, Jakarta, Kamis 12 Oktober 2017.

Laba bersih BNI tersebut, tutur Herry, juga terbentuk berkat pendapatan bunga bersih (NII) yang tumbuh 7,5 persen dari Rp21,87 triliun pada kuartal III-2016 menjadi Rp23,51 triliun pada kuartal III-2017, seiring dengan peningkatan kualitas kredit BNI dengan tetap menjaga net interest margin (NIM) di level 5,5 persen.

Tak hanya itu, Herry mengaku, laba pun ditopang oleh pendapatan non-bunga kuartal III-2017 yang juga merupakan bisnis utama bank. Pendapatan non-bunga kuartal III-2017 naik sebesar 15,1 persen, dari Rp6,24  triliun pada sembilan bulan per tama di 2016 menjadi Rp7,18 triliun pada di akhir September 2017.

"Peningkatan pendapatan non-bunga tersebut dikontribusi dari trade finance, bancassurance, bank guarantee, loan sindication, dan bisnis kartu," jelas Herry.


Penyaluran Kredit 

BNI juga telah menyalurkan kredit sebesar Rp421,41 triliun di kuartal III-2017, atau tumbuh 13,3 persen dibanding realisasi kredit di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp372,02 triliun.

"Realisasi kredit tersebut jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kredit di industri yang mencapai 8,2 persen per Juli 2017," ujar Herry. 

Menurut Herry, ada beberapa strategi yang dilakukan manajemen BNI untuk mendorong pertumbuhan kredit. Pertama, menggali potensi pasar pembiayaan BUMN dengan fokus pada proyek infrastruktur dan sektor industri yang memiliki risiko rendah dan terkontrol.

Kedua, mengoptimalkan jaringan dan outlet untuk mampu menggarap potensi pasar yang ada. 

"Ketiga, menggali potensi supply chain debitur korporasi untuk menangkap potensi debitur baru," kata Herry.

‎Penyaluran kredit BNI ke sektor business banking, diakui Herry, menjadi yang utama dengan komposisi 78,3 persen dari total kredit atau sebesar Rp329,75 triliun. Pada sektor business banking ini, kredit BNI disalurkan ke segmen korporasi ssebesar 23,6 persen dari total kredit, kredit BUMN sebesar 19,4 persen, lalu ke segmen menengah sebesar 16,1 persen, dan segmen kecil sebesar 12,8 persen.



(SAW)