Borneo Olah Sarana Tetapkan Harga IPO Rp400/Saham

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 08 Feb 2018 18:24 WIB
ipoBorneo Olah Sarana Sukses
Borneo Olah Sarana Tetapkan Harga IPO Rp400/Saham
Ilustrasi. (Foto: Antara/Akbar Nugroho).

Jakarta: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyatakan harga umum perdana saham atau initial public offering (IPO) PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk sebesar Rp400 per saham. Sebelumnya harga yang ditawarkan Rp350-Rp600 per saham.

Dalam rangka IPO, perusahaan berencana melepas 400 juta saham atau 28,57 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan menawarkan harga Rp400 per saham, maka dana segar yang diperoleh perusahaan sebesar Rp160 miliar.

Direktur KSEI Syafruddin mengatakan rencana IPO Borneo Olah Sarana Sukses telah didaftarkan ke dalam penitipan kolektif KSEI, dengan harga penawaran saham Rp400 per saham dan harga nominal Rp100 per saham.

"Tanggal efektif pada 7 Februari 2018, masa penawaran umum 9-12 Februari 2018, tanggal penjatahan 13 Februari 2018, tanggal pengembalian uang pemesanan 14 Februari 2018, tanggal distribusi saham secara elektronik pada 14 Februari 2018, tanggal pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 15 Februari 2018," ungkap Syafruddin dalam keterangannya yang disampaikan melalui website www.ksei.co.id, Kamis, 8 Februari 2018.

Pada event IPO, menurut dia, perusahaan telah menunjuk dua penjamin pelaksana emisi efek, yakni PT Victoria Sekuritas Indonesia dan PT Mega Capital Sekuritas.

Sedangkan sebagai penjamin pelaksana emisi, Syafruddin menuturkan, terdiri dari PT Artha Sekuritas Indonesia, PT Erdikha Elit Sekuritas, PT Indosurya Bersinar Sekuritas, PT Jasa Utama Capital Sekuritas, PT KGI Sekuritas Indonesia, PT Lotus Andalan Sekuritas, PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk, PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, dan PT Panin Sekuritas Tbk.

"Lalu, ada PT Phillip Sekuritas Indonesia, PT Profindo Sekuritas Indonesia, PT Shinhan Sekuritas Indonesia, dan PT Valbury Sekuritas Indonesia," tutur dia.

Komisaris Borneo Olah Sarana Sukses Johannnes Halim mengatakan sebagian besar dana hasil lPO ini akan digunakan untuk meningkatkan produksi tambang di dua dari empat konsesi yang telah dimiliki perusahaan.

Direktur Utama Borneo Olah Sarana Sukses Freddy Tedjasasmita menambahkan pertumbuhan produksi sudah sesuai dengan strategi perusahaan. Sebab, market utama produk perusahaan lebih dari 60 persen di ekspor ke Jepang dan negara-negara lain yang sudah menggunakan batu bara berkualitas pada pembangkit listrik mereka yang ramah lingkungan selain ke pasar domestik. 

"Bahkan pada 2016, kami merupakan satu-satunya perusahaan tambang batubara di Indonesia yang memperoleh pendanaan dari pemerintah Jepang melalui Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC) untuk melakukan eksplorasi," ucap Freddy.

Hingga akhir September 2017, perusahaan telah meraup penjualan Rp120,6 miliar dan laba bersih sebesar Rp20,8 miliar, setelah selama tiga tahun terakhir membukukan kerugian yang salah satu pemicunya adalah harga komoditas batu bara yang melemah. 

"Kami optimistis dalam beberapa tahun ke depan, sejalan dengan upaya peningkatan produksi, maka pendapatan usaha dan laba bersih akan kami bisa pertahankan positif di tahun-tahun mendatang," jelas Freddy.


(SAW)


Bedah Editorial MI: Membendung Efek Turki

Bedah Editorial MI: Membendung Efek Turki

7 hours Ago

Perlambatan ekonomi Turki sebagai akibat terjerembapnya lira, mata uang mereka, hingga lebih da…

BERITA LAINNYA