Sektor Saham Ini Patut Dilirik saat Rupiah Bergejolak

Annisa ayu artanti    •    Selasa, 04 Sep 2018 16:40 WIB
saham
 Sektor  Saham Ini Patut Dilirik saat Rupiah Bergejolak
Illustasi. MI/Panca.

Jakarta: Analis Binaartha Technical Research Nafan Aji merekomendasikan saham-saham emiten pertambangan batu bara dan industri yang berorientasi ekspor untuk menjadi pertimbangan investor.

Nafan menyebutkan dua sektor tersebut sedang bagus karena posisi dolar Amerika Serikat (USD) sedang mengalami penguatan. Seperti hari ini, melansir investing.com posisi dolar saat ini berada pada posisi Rp14.938,5 per USD.

"Yang bisa dipertimbangkan pertambangan, lalu juga industri," kata Nafan kepada Medcom.id, Selasa, 4 September 2018.

Ia menyebutkan untuk sektor pertambangan, investor bisa melirik saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Sedangkan untuk sektor industri, investor bisa melihat saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). Saat ini ketiga perusahaan itu tengah memanfaatkan momentum penguatan dolar dengan kegiatan ekspornya. 

"Pertambangan misalkan ADRO, ITMG yang dimana emiten-emiten berorientasi ekspor. Kemudian emiten berbasis industri seperti  SRIL," ungkap dia.

Seperti diketahui, pada investor summit minggu lalu, ITMG menyatakan terus memperluas pangsa pasar ekspor. Untuk 2018 ini, perseroan mulai memasuki pasar Vietnam sebagai pasar baru dengan penjualan pertama sebesar 700 ribu ton yang sudah dibukukan pada triwulan kedua 2018.

ITMG mencatat pada semester I-2018 telah menjual 9,6 juta ton batu bara. Sebanyak 1,7 juta ton dijual ke Jepang, 1,5 juta ton ke Tiongkok, 1,2 juta ton ke Filipina, 1,1 juta ton ke India, 1,1 juta ton ke Indonesia, 0,6 juta ton ke ke Thailand, 0,5 juta ton ke Korea Selatan, dan sisanya ke negara lain di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara.

Sementara ADRO mencatat produksi batu bara pada semester I-2018 sebesar 24,06 juta ton. Dari produksi tersebut, pasar domestik masih mendominasi penjualan dengan 22 persen dari penjualan batu bara dalam enam bulan pertama tahun 2018. 

Kemudian disusul penjualan ke Malaysia 12 persen, Tiongkok 12 persen, India 12 persen, Jepang 10 persen, Korea Selatan sembilan persen, Hong Kong delapan persen, Spanyol lima persen, Taiwan empat persen, Filipina tiga persen, Thailand dua persen, dan lainnya satu persen.



(SAW)