Harga Saham Meroket 125%, BJB Kaji Penerbitan Saham Baru

Jaenal Mutakin    •    Kamis, 22 Sep 2016 12:41 WIB
bjb
Harga Saham Meroket 125%, BJB Kaji Penerbitan Saham Baru
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Fiqih Arfani)

Metrotvnews.com, Bandung: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB) masih akan melakukan analisis dan kajian terhadap penerbitan saham baru.

"Perseroan saat ini masih melakukan analisis dan kajian terhadap rencana penerbitan saham baru dan mekanisme yang akan digunakan," ungkap Direktur Utama BJB Ahmad Irfan, di MCU PON Bandung, seperti diberitakan Kamis (22/9/2016).

Aksi korporasi perseroan tersebut secara tidak langsung turun memberikan kinerja yang baik bagi perusahaan. Salah satunya yakni kenaikan harga saham perseroan.

Harga saham BJB terpantau melesat hingga 125,8 persen. Tercatat, harga saham perseroan berada di level Rp1.705 per lembar saham hingga penutupan 8 September 2016. Jika dibandingkan dengan periode satu bulan terakhir, penutupan harga saham per 8 Agustus 2016 hanya naik 1,5 persen yakni dari harga Rp1.675 menjadi Rp1.705 per lembar saham.

Ahmad mengungkapkan, kenaikan harga saham dilihat secara persentase tahunan (year on year) dan dari akhir tahun hingga saat ini (year to date) merupakan kenaikan yang tertinggi bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Kinerja BJB tumbuh positif dan proyeksi perseroan mempengaruhi harga saham. Penyaluran kredit BJB pada triwulan ke II-2016 mencapai Rp60,1 triliun atau tumbuh sebesar 15,2 persen secara year on year dengan pencapaian laba bersih sebesar Rp905 miliar atau tumbuh 56,3 persen year on year," jelasnya.

Oleh karena itu, perseroan pun terus berupaya menjaga kepercayaan investor terhadap kinerja harga saham tersebut. Adapun kapitalisasi pasar BJB saat ini mencapai sekitar Rp16,2 triliun.

Terpisah, analis Ciptadana Sekuritas Syaiful Adrian menilai kinclongnya harga saham BJB ditentukan oleh dua faktor. Pertama, adalah penurunan tingkat Non Performing Loan (NPL/tingkat kredit macet) yang cukup signifikan dalam rentang setahun terakhir. Kedua, kenaikan margin.

"BJB ini unik karena dari 2015-2016, NPL-nya turun. Sementara bank lain justru naik. Bahkan BJB masih memiliki prospek ke depan dalam hal menaikkan margin, selama kebijakan Bank Indonesia masih longgar," kata Syaiful.

Syaiful menjelaskan jika perseroan merupakan bank yang memiliki segmentasi pasar khusus, terkait penurunan NPL. "BJB agak khusus main di sektor konsumer, sementara NPL banyak terpukul di sektor komersial dan korporat. BJB tidak banyak bermain di sana," pungkasnya.


(AHL)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

1 month Ago

Republik Sentilan Sentilun malam ini bertema "Pascareshuffle Mau Apa?" menghadirkan A…

BERITA LAINNYA